Fikriya, Chadziqotil (2022) Penentuan Nafkah Istri dan Anak setelah perceraian berdasarkan pendapatan suami perspektif Teori Keadilan Murtadha Muthahhari: Studi Putusan Nomor 0917/Pdt.G/2019/PA.Pas. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
|
Text (Fulltext)
18210136.pdf - Accepted Version Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives. Download (1MB) | Preview |
Abstract
Abstrak
Ikatan perkawinan menimbulkan hubungan timbal balik antar individu khusunya terkait hak dan kewajiban yang terkandung di dalamnya. Menyinggung mengenai hak dan kewajiban dalam suatu ikatan perkawinan tidak lepas dari nafkah yang menjadi hak bagi istri dan kewajiban seorang suami. Secara harfiah nafkah berarti “mengeluarkan” sedangkan makna dari nafkah ini sendiri merupakan pemberian yang menjadi kewajiban bagi suami kepada istri dan atau anaknya baik berupa makanan, pakaian, tempat tinggal dan kebutuhan lainnya. Hukum di Indonesia mengatur terkait nafkah pada Pasal 34 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Bahkan setelah putusnya ikatan perkawinan (perceraian) suami masih memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah. Hal ini sesuai dengan Pasal 41 huruf (c) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Selanjutnya terkait nominal nafkah yang diberikan suami kepada istrinya setelah perceraian yakni dengan mempertimbangkan pendapatan suami dan kelayakan bagi istri sehingga keadilan dapat ditegakkan bagi kedua belah pihak.
Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan kasus untuk mengkaji fokus penelitian. Menggunakan Putusan Nomor 0917/Pdt.G/2019/PA.Pas yang ditelaah terkait pertimbangan Majelis Hakim dalam menetapkan gugatan nafkah didalamnya dengan melakukan analisis terhadap sumber hukum lain yang mendukung hasil putusan. Adapun berbagai macam gugatan nafkah tersebut juga diselaraskan dengan teori keadilan Murtadha Muthahhari khususnya terkait nominal nafkah yang ditetapkan.
Hasil dari penelitian ini menguraikan tentang keselarasan sumber hukum dengan pertimbangan Majelis Hakim dalam Putusan Nomor 0917/Pdt.G/2019/PA.Pas yang menunjukkan bahwa dalam memutus suatu perkara Hakim meggunakan dasar hukum yang tepat yang secara khusus telah mengatur inti dari gugatan tersebut. Adapun mengenai nominal nafkah yang digugat dalam putusan ini Majelis Hakim memperhatikan besaran pendapatan suami serta standar kelayakan hidup untuk memenuhi hak istri. Sementara itu teori keadilan Murtadha Muthahhari menilai hasil dari putusan ini terkait gugatan nafkah madliyah dan nafkah iddah dianggap tidak memenuhi konsep keadilan yang dikemukakan oleh Murtadha Muthahhari.
Abstract
The marriage bond creates a reciprocal relationship between individuals, especially regarding the rights and obligations contained therein. Alluding to the rights and obligations in a marriage bond cannot be separated from the livelihood which is the right of the wife and the obligations of a husband. A living means "spending" while the meaning of this living is a gift that is an obligation for a husband to his wife and or children in the form of food, clothing, shelter, and other needs. Indonesian law regulates livelihoods in Article 34 paragraph 1 of Law Number 1 of 1974 concerning Marriage. Even after the termination of the marriage bond (divorce) the husband still must provide a living. This is following Article 41 letter (c) of Law Number 1 of 1974. Furthermore, regarding the nominal income given by the husband to his wife after the divorce, namely by considering the husband's income and eligibility for the wife so that justice can be enforced for both parties.
This paper is normative legal research using a case approach to examine the focus of the research. Using Decision Number 0917/Pdt.G/2019/PA.Pas which was reviewed regarding the consideration of the Panel of Judges in determining the claim for livelihood in it by analyzing other legal sources that support the results of the decision. As for the various kinds of income claims, they are also harmonized with Murtadha Mutahhari's theory of justice, especially regarding the stipulated nominal income.
The results of this study describe the alignment of legal sources with the considerations of the Panel of Judges in Decision Number 0917/Pdt.G/2019/PA.Pas shows that in deciding a case the Judge uses the right legal basis which specifically has set the essence of the lawsuit. As for the nominal income being sued in this decision, the Panel of Judges pays attention to the husband's income and the standard of living to fulfill the wife's rights. Meanwhile, Murtadha Mutahhari's theory of justice assessed that the results of this decision related to the lawsuit for madliyah and iddah income were deemed not to meet the concept of justice proposed by Murtadha Mutahhari.
مستخلص البحث
الزواج يتسبب علاقة متبادلة بين الأفراد ، خاصة فيما يتعلق بالحقوق والواجبات الواردة فيه. لا يجوز فصل الحقوق والواجبات الواردة في الزواج عن مصدر النفقة التي هو حق للزوجة ووجوب على الزوج. النفقة لغة هو "التفجير" ، بينما معنى إصطلاحا هو عطية واجبة على الزوج لزوجته وأولاده في شكل مأكل وملبس والمسكن وحاجات أخرى. تم تنظيم أهمية العيش في الحياة المنزلية في المادة 34 فقرة 1 من القانون رقم 1 لسنة 1974 بشأن الزواج. بعد إنهاء عقد الزواج (الطلاق) ، لا يزال الزوج ملزمًا بتوفير النفقة. وهذا يتوافق مع المادة 41 حرف (ج) من القانون رقم 1 لعام 1974. يجب أن يأخذ الدخل الاسمي الذي يمنحه الزوج لزوجته بعد الطلاق في الاعتبار دخل الزوج واستحقاق الزوجة لتحقيق العدالة للطرفين.
هذا البحث هو البحث القانوني المعياري باستخدام نهج الحالة لفحص محور البحث. الهدف الرئيسي هو فحص القرار رقم 0917/Pdt.G/2019/PA.Pas فيما يتعلق بنظر فريق القضاة في تحديد مطالبة سبل العيش فيه من خلال تحليل المصادر القانونية الأخرى التي تدعم القرار. كما أن مختلف أنواع مطالبات الدخل تنسجم أيضًا مع نظرية العدالة مرتضى مطهّري ، خاصة فيما يتعلق بالدخل الاسمي الذي يتم تحديده
تصف نتيجة هذا البحث مواءمة المصادر القانونية مع اعتبارات لجنة القضاة في القرار رقم 0917/Pdt.G/2019/PA.Pas الذي يوضح أن القاضي يستخدم الأساس القانوني الصحيح في الفصل في القضية ، والتي نظمت على وجه التحديد جوهر الدعوى. تهتم هيئة القضاة بدخل الزوج ومستوى المعيشة في تحديد الدخل الاسمي الذي تتم مقاضاته للوفاء بحقوق الزوجة. في غضون ذلك ، تقدر نظرية العدالة لمرتضى مطهري أن نتائج هذا القرار المتعلقة بدعوى الرزق المدلية والعدة تعتبر غير مطابقة لمفهوم العدالة الذي طرحه مرتضى مطهّري.
Item Type: | Thesis (Undergraduate) | ||||||
---|---|---|---|---|---|---|---|
Supervisor: | Herry, Musleh | ||||||
Contributors: |
|
||||||
Keywords: | Kata kunci : Nafkah, Perceraian, dan Keadilan Keywords: Livelihood; Divorce; and Justice. الكليمات الفتاحيّة : النفقة / الطلاق / العدالة | ||||||
Subjects: | 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180113 Family Law 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012815 Nafaqah |
||||||
Departement: | Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah | ||||||
Depositing User: | Chadziqotil Fikriya | ||||||
Date Deposited: | 07 Jul 2022 09:34 | ||||||
Last Modified: | 07 Jul 2022 09:34 | ||||||
URI: | http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/38174 |
Downloads
Downloads per month over past year
Actions (login required)
![]() |
View Item |