Maghfuryan, Adlan (2022) Studi komparatif ketentuan bagian waris cucu perspektif Al-Nawawi dan Hazairin. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
|
Text (Fulltext)
16210078.pdf - Accepted Version Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives. Download (1MB) | Preview |
Abstract
INDONESIA:
Menurut al-Nawawi cucu yang mendapatkan bagian waris adalah cucu dari anak laki-laki dengan perincian cucu laki-laki mendapat ʻaṣabah dan cucu perempuan mendapatkan setengah bagian apabila sendirian atau mendapatkan dua pertiga bagian apabila ia dua atau lebih dan tanpa ada cucu laki-laki. Sedangkan cucu dari anak perempuan terhalang dari mendapatkan waris. Meskipun muslim di Indonesia mayoritas menganut Mazhab Syafiʻi dengan al-Nawawi sebagai ulama Syafiʻiyyah yang sering menjadi rujukan utama, dalam Kompilasi Hukum Islam terdapat penjelasan bahwa ketika seorang ahli waris meninggal terlebih dahulu dari pewaris maka posisi ahli waris dapat digantikan oleh anaknya. Penjelasan ini dalam keadaan tertentu akan bertentangan dengan pendapat al-Nawawi. Adapun penjelasan dalam Kompilasi Hukum Islam sejalan dengan Hazairin dengan konsep ahli waris penggantinya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketentuan bagian waris cucu perspektif Imam al-Nawawi dan Hazairin. Kemudian juga untuk mengetahui perbandingan ketentuan bagian waris cucu Perspektif Imam al-Nawawi dan Hazairin. Penelitian ini termasuk dalam penelitian normatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Pendekatan yang digunakan merupakan pendekatan komparasi dengan jenis data penelitian sekunder yang merupakan data dalam bentuk dokumen yang kemudian disebut bahan hukum. Setelah bahan hukum terkumpul maka data dianalisis dengan tahapan pemeriksaan data, klasifikasi, verifikasi, analisis, dan kesimpulan.
Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa al-Nawawi mengikuti ijtihad Zaid ibn Tsabit bahwa cucu laki-laki maupun perempuan dari jalur anak laki-laki adalah sederajat dengan anak jika tidak ada anak laki-laki yang masih hidup. Dalam hal mewarisi dan menghijab cucu laki-laki sama seperti anak laki-laki dan cucu perempuan sama dengan anak perempuan. Sedangkan Hazairin mendudukkan cucu baik dari pihak laki-laki maupun perempuan sebagai mawȃli ketika orang tua cucu telah meninggal. Kemudian setelah dibandingkan maka ditemukanlah persamaan dan perbedaan. Adapun persamaannya ialah baik perspektif al-Nawawi maupun Hazairin sepakat dalam hal rasio perbandingan bagian waris yang diperoleh ketika cucu laki-laki bersama dengan cucu perempuan adalah 2:1. Sedangkan salah satu perbedaan dari dua perspektif ini ialah al-Nawawi berpandangan bahwa hanya cucu yang dari jalur anak laki-laki yang memperoleh waris. Sedangkan Hazairin berpendapat baik cucu dari jalur anak laki-laki maupun perempuan bisa memperoleh harta waris.
ENGLISH:
According to al-Nawawi, grandchildren who get a share of inheritance are grandchildren of sons with the details that grandsons get aṣabah and granddaughters get half a share if they are alone or get two-thirds if they are two or more and without any grandsons. While the grandchildren of daughters are prevented from getting an inheritance. Although the majority of Muslims in Indonesia adhere to the School of Shafi'i with al-Nawawi as the Shafi'iyyah scholar who is often the main reference, the Compilation of Islamic Law contains an explanation that when an heir dies first from the heir, the position of the heir can be replaced by their children. This explanation under certain circumstances would contradict the opinion of al-Nawawi. The explanation in the Compilation of Islamic Law is in line with Hazairin with the concept of successor heirs.
This study aims to determine the provisions of the inheritance share of the al-Nawawi and Hazairin perspectives. Then also to find out the comparison of the provisions for the inheritance of grandchildren from the perspective of al-Nawawi and Hazairin. This research is included in normative research with the type of library research. The approach used is a comparative approach with the type of secondary research data which is data in the form of documents which are then called legal materials. After the legal materials are collected, the data is analyzed with the stages of data editing, classification, verification, analysis, and conclusions.
From this research, it can be seen that al-Nawawi followed Zaid ibn Thabit's ijtihad that the sons and daughters of the sons are equal to the children if there are no surviving sons. In terms of inheriting and hijab, grandsons are the same as sons and granddaughters are the same as daughters. Meanwhile, Hazairin places the grandchildren, both male and female, as mawȃli when the grandchildren's parents have died. Then after being compared, the similarities and differences were found. The similarity is that both the al-Nawawi and Hazairin perspectives agree on the ratio of the share of inheritance obtained when the grandson is with the granddaughter is 2:1. Meanwhile, one of the differences between these two perspectives is al-Nawawi's view that only grandchildren who are sons can inherit. Meanwhile, Hazairin is of the opinion that both sons and daughters can inherit the inheritance.
ARABIC:
وبحسب النووي فإن الأحفاد الذين يحصلون على نصيب من الميراث هم ولد ابن مع تفاصيل أن ابن ابن ينال عصبة و بنت ابن تنال النصف لو كانت منفردة أو إذا كانت إثنان فأكثر الثلثين وبدون ابن ابن. بينما يمنع ولد البنات من الميراث. على الرغم من أن غالبية المسلمين في إندونيسيا يلتزمون بمذهب الشافعي مع النووي كعالم سيافي وغالبًا ما يكون المرجع الرئيسي ، فإن مجموعة الشريعة الإسلامية تحتوي على تفسير أنه عندما يموت الوريث أولاً من المورث ، يمكن استبدال منصب الوريث بولدهم. هذا التفسير في ظل ظروف معينة يتعارض مع رأي النووي. التفسير في تجميع الشريعة الإسلامية يتماشى مع هزائرين مع مفهوم الورثة الخلف.
تهدف هذه الدراسة إلى تحديد أحكام نصيب الميراث لمنظور النووي و هزائرين. ثم لمعرفة مقارنة أحكام ميراث الأحفاد من منظور السيافية و هزائرين. تم تضمين هذا البحث في البحث المعياري مع نوع البحث المكتبي. النهج المستخدم هو نهج مقارن مع نوع بيانات البحث الثانوية وهي بيانات في شكل وثائق والتي تسمى فيما بعد بالمواد القانونية. بعد جمع المواد القانونية ، يتم تحليل البيانات بمراحل تحرير البيانات وتصنيفها والتحقق منها وتحليلها والاستنتاجات.
ويتضح من هذا البحث أن النووي اتبعت اجتهاد زيد بن ثابت بأن أبناء وبنات الأبناء متساوون مع الأبناء إذا لم يكن هناك أبناء على قيد الحياة. ومن حيث الميراث والحجاب فإن ابن ابن مثل الأبناء و بنت ابن مثل البنات. في هذه الأثناء ، يضع هزائرين الأحفاد ، ذكورا وإناثا ، في دور الموالي عندما مات والدهم. ثم بعد المقارنة ، تم العثور على أوجه التشابه والاختلاف. التشابه هو أن كلا من منظور النووي و هزائرين يتفقان على نسبة نصيب الميراث الذي يتم الحصول عليه عندما يكون الحفيد مع الحفيدة 2: 1. وفي الوقت نفسه ، فإن أحد الاختلافات بين هذين المنظورين هو أن النووي ترى أن الأحفاد فقط من سلالة الذكور هم من يرثون. في غضون ذلك ، يرى حزرين أنه يمكن لولد ابن و ولد بنت أن يرثوا الميراث.
Item Type: | Thesis (Undergraduate) | ||||||
---|---|---|---|---|---|---|---|
Supervisor: | Yasin, R. Cecep Lukman | ||||||
Contributors: |
|
||||||
Keywords: | waris cucu; al-Nawawi; Hazairin; inheritance of grandchildren; al-Nawawi; Hazairin; ميراث الأحفاد، النووي، هزائرين | ||||||
Subjects: | 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012816 Mawaris (Inheritance) | ||||||
Departement: | Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah | ||||||
Depositing User: | Adlan Maghfuryan | ||||||
Date Deposited: | 05 Jul 2022 09:42 | ||||||
Last Modified: | 05 Jul 2022 09:42 | ||||||
URI: | http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/37742 |
Downloads
Downloads per month over past year
Actions (login required)
![]() |
View Item |