Responsive Banner

Maraknya pernikahan dini di masa pandemi: Studi sosio-legal di Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu

Aulia, Rizky Dhiyah (2022) Maraknya pernikahan dini di masa pandemi: Studi sosio-legal di Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
17210111.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB) | Preview

Abstract

ABSTRAK

Angka pernikahan dini di Indonesia tergolong cukup tinggi. Beberapa wilayah menjadi penyumbang, salah satunya Kabupaten Lebong. Angka tersebut kian meningkat di masa pandemi. Padahal pemerintah sendiri sudah mengatur mengenai batas usia menikah di Undang-undang terbarunya, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan. Melihat hal tersebut, penulis membuat dua rumusan masalah. Yaitu apa saja faktor yang mempengaruhi meningkatnya kasus pernikahan dini yang terjadi di masa pandemi di Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu serta bagaimana persepsi dan pola masyarakat dalam mengatasi masalah pernikahan dini.

Jenis penelitian yang digunakan skripsi ini adalah sosio-legal. Dimana peneliti langsung terjun ke lokasi penelitian guna mengungkap secara langsung faktor serta persepsi dan pola masyarakat dalam mengatasi masalah pernikahan dini. Pengumpulan data yang dilakukan peneliti yaitu wawancara sebagian masyarakat, pihak KUA Kecamatan Lebong Utara dan MUI Provinsi Bengkulu sebagai validalitas untuk pernyataan masyarakat. Selain itu, penulis melakukan observasi secara tidak langsung, untuk melihat kondisi yang terjadi.

Hasil penelitian menunjukkan faktor utama penyebab meningkatnya kasus pernikahan dini di masa pandemi di Kabupaten Lebong, disebabkan kondisi sosial yang terjadi di masyarakat. Anak-anak di Kabupaten Lebong sudah mengetahui nilai uang dan banyak yang lebih memilih bekerja dibanding sekolah. Karena masa pandemi, waktu luang yang dimiliki mereka lebih banyak daripada sebelumnya. Mereka dapat bekerja disela waktu belajarnya dan dapat menghasilkan uang sendiri. Uang tersebut terkadang digunakan untuk sesuatu yang kurang baik hingga menjerumuskan mereka ke dalam pergaulan bebas. Salah satu dampaknya; terjadi ‘kecelakaan’ menyebabkan terpaksanya pernikahan dilangsungkan. Menurut persepsi masyarakat, hal tersebut merupakan salah satu kecemasan mereka. Mereka menyadari tidak ada yang bisa dilakukan karena hal itu merupakan salah satu dari dampak globalisasi, kondisi sosial serta lingkungan yang kurang memadai. Pola masyarakat dalam mengatasi masalah pernikahan dini terbilang kurang maksimal. Bimbingan pra nikah yang dilaksanakan di KUA, dilakukan sewajarnya. Masyarakat menganggap nasehat dari keluarga dan ceramah yang cukup terbatas dari para ustadz atau mubaligh, mampu mengatasi permasalahan ini. Sehingga perlu peningkatan SDM dan perhatian dari pemerintah terkait permasalahan pernikahan dini ini.

ABSTRACT

The rate of early marriage in Indonesia is quite high. Several regions became contributors, one of which was Lebong Regency. This number is increasing during the pandemic. Even though the government itself has regulated the age limit for marriage in its latest law, Law Number 16 of 2019 concerning Marriage. Seeing this, the author makes two problem formulations. Namely what are the factors that influence the increase in cases of early marriage that occurred during the pandemic in Lebong Regency, Bengkulu Province and how are the perceptions and patterns of society in overcoming the problem of early marriage.

The type of research used in this thesis is socio-legal. Where the researchers went directly to the research location in order to directly reveal the factors and perceptions and patterns of society in overcoming the problem of early marriage. The data collection carried out by the researcher was interviews with some of the community, the KUA of North Lebong District and the Bengkulu Province MUI as validity for community statements. In addition, the authors make indirect observations, to see the conditions that occur.

The results showed that the main factor causing the increase in cases of early marriage during the pandemic in Lebong Regency was due to social conditions that occurred in the community. Children in Lebong Regency already know the value of money and many prefer to work rather than go to school. Due to the pandemic period, they have more free time than before. They can work in between their studies and earn their own money. The money is sometimes used for something that is not good enough to plunge them into promiscuity. One of the effects; an 'accident' causes the marriage to take place. According to public perception, this is one of their worries. They realize that nothing can be done because it is one of the impacts of globalization, inadequate social and environmental conditions. The pattern of society in overcoming the problem of early marriage is less than optimal. Pre-marital guidance carried out at the KUA is carried out properly. The community considers advice from family and limited lectures from ustadz or missionaries, able to overcome this problem. So it is necessary to increase human resources and attention from the government related to this problem of early marriage.

مستخلص البحث

معدل الزواج المبكر في إندونيسيا مرتفع للغاية. أصبحت عدة مناطق مساهمين، أحدها كان معدل الزواج المبكر في إندونيسيا مرتفع للغاية. أصبحت عدة مناطق مساهمين، أحدها كان ليبونغ ريجنسي. هذا العدد يتزايد خلال الجائحة. على الرغم من أن الحكومة نفسها قد نظمت الحد الأدنى لسن الزواج في قانونها الأخير، القانون رقم 16 لعام 2019 بشأن الزواج. عند رؤية هذا، قامت الباحثة بصياغة مشكلتين. وبالتحديد ما هي العوامل التي تؤثر على زيادة حالات الزواج المبكر التي حدثت أثناء الجائحة في ليبونغ ريجنسي بمقاطعة بنجكولو وكيف تصورات وأنماط المجتمع في التغلب على مشكلة الزواج المبكر.

إن نوع البحث المستخدم في هذا البحث اجتماعي-قانوني. حيث توجهت الباحثة مباشرة إلى موقع البحث للكشف بشكل مباشر عن عوامل وتصورات وأنماط المجتمع في التغلب على مشكلة الزواج المبكر. كان طريقة جمع البيانات التي أجراه الباحثة عبارة عن مقابلات مع بعض المجتمع، ومكتبة الشؤون الدينية (KUA) في منطقة شمال ليبونغ والمجلس علماء إندونيسيا (MUI) في مقاطعة بنجكولو كصلاحية لبيانات المجتمع. بالإضافة إلى ذلك، قدمت الباحثة ملاحظات غير مباشرة، لمعرفة الظروف التي تحدث.

وأظهرت النتائج البحث أن العامل الرئيسي الذي تسبب في زيادة حالات الزواج المبكر أثناء الجائحة في ليبونغ ريجنسي كان بسبب الظروف الاجتماعية التي حدثت في المجتمع. يعرف الأطفال في ليبونج ريجينسي بالفعل قيمة المال ويفضل الكثيرون العمل بدلا من الذهاب إلى المدرسة. بسبب الوباء، أصبح لديهم وقت فراغ أكثر من ذي قبل. يمكنهم العمل بين دراستهم ويمكنهم كسب أموالهم الخاصة. يتم استخدام المال أحيانا في شيء ليس جيدا بما يكفي لإغراقهم في الفوضى. أحد الآثار؛ "حادث" يتسبب في عقد الزواج. وفقا لتصور الجمهور، هذا هو أحد مخاوفهم. إنهم يدركون أنه لا يمكن فعل أي شيء لأنه أحد آثار العولمة والظروف الاجتماعية والبيئية غير الملائمة. إن نمط المجتمع في التغلب على مشكلة الزواج المبكر أقل من الأمثل. يتم تنفيذ التوجيه قبل الزواج فيمكتبة الشؤون الدينية (KUA) بشكل صحيح. يأخذ المجتمع في الاعتبار المشورة من الأسرة والمحاضرات المحدودة من الأساتيذ أو المبالغين، قادرة على التغلب على هذه المشكلة. لذلك من الضروري زيادة الموارد البشرية واهتمام الحكومة بمشكلة الزواج المبكر هذه.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Sholehuddin, Miftahus
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDSholehuddin, MiftahusUNSPECIFIED
Keywords: Pernikahan Dini; Pandemi; Sosio-legal; Early Marriage; Pandemic; Socio-legal; الزواج المبكر; فترة الوباء; اجتماعي-قانوني
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180113 Family Law
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Rizky Dhiyah Aulia
Date Deposited: 23 May 2022 10:59
Last Modified: 23 May 2022 10:59
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/35441

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item