Sari, Hanifah Mahya (2020) Bimbingan perkawinan pranikah bagi penyandang disabilitas perspektif Undang-undang nomor 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas dan mashlahah mursalah. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
|
Text (Fulltext)
16210153.pdf - Accepted Version Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives. Download (15MB) | Preview |
Abstract
INDONESIA:
Bimbingan perkawinan pranikah bagi penyandang disabilitas tidak dapat berjalan dengan optimal karena tidak tersedianya fasilitas alat komunikasi augmentatif yang dibutuhkan peserta disabilitas dengan dalih tidak adanya peraturan yang mengaturnya secara khusus mengenai pelaksanaannya. Padahal sudah ada peraturan-peraturan yang membahas mengenai pemenuhan, perlindungan dan fasilitasi terhadap hak penyandang disabilitas sepanjang perubahan peraturan yang mengatur tentang bimbingan perkawinan tersebut. Dari hal tersebut, peneliti merumuskan 2 rumusan masalah dalam penelitian ini, yakni; (1) bagaimana pemenuhan hak penyandang disabilitas menurut UU No. 8 Tahun 2016 dalam Kepdirjen Bimas Islam No. 379 Tahun 2018 dan (2) bagaimana tinjauan terhadap bimbingan perkawinan pranikah bagi penyandang disabilitas menurut mashlahah mursalah. Tujuan penelitian ini ialah menganalisis pemenuhan hak penyandang disabilitas dalam Kepdirjen tersebut dengan UU No. 8 Tahun 2016 dan meninjau bimbingan tersebut berdasarkan mashlahah mursalah.
Jenis penelitian ini ialah penelitian yurudis normatif dengan pendekatan perundang-undangan. Sesuai dengan jenis penelitian tersebut, maka jenis data yang digunakan ialah data sekunder atau sering disebut dengan bahan hukum dengan ketiga jenis bahan hukumnya yaitu bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang mana bahan hukum tersebut diperoleh dari studi kepustakaan. Bahan hukumyang telah diperoleh, kemudian diolah melalui tahapan pemeriksaan, klasifikasi, verifikasi, analisis dan penarikan kesimpulan agar didapat suatu hasil penelitian yang dicari.
Hasil dari penelitian ini antara lain: (1) Dalam Kepdirjen Bimas Islam No. 379 Tahun 2018, tidak mengkhususkan bimbingan hanya diperuntukkan bagi yang tidak menyandang disabilitas saja, namun semuanya, baik penyandang disabilitas maupun bukan. Dalam Kepdirjen tersebut juga belum dijelaskan dengan rinci mengenai pelaksanaan ataupun fasilitasi terhadap peserta dengan disabilitas. Sehingga peserta dengan disabilitas mengalami kesulitan dalam mengikuti bimbingan tersebut, padahal sudah terdapat peraturan-peraturan yang mengatur tentang perlindungan hak dan fasilitasi untuk penyandang disabilitas. Maka dari itu, untuk menghindari kekaburan hukum yang terjadi, perlulah ditetapkan suatu peraturan yang mengatur bimbingan perkawinan pranikah bagi penyandang disabilitas secara khusus. (2) Bimbingan ini tegolong dalam mashlahah mursalah dari segi keberlakuannya, karena tidak ada dalil yang menyebutkan dengan jelas kebolehan atau penolakannya, akan tetapi masih sejalan dengan maksud dari sebuah dalil, yakni QS. An-Nisa’ ayat 58 yang menyerukan untuk menetapkan hukum dengan adil. Berdasarkan cakupannya, ia tergolong mashlahah khassah yang secara khusus kemaslahatannya ditujukan kepada penyandang disabilitas, namun kemaslahatan tersebut akan membawa kesejahteraan yang bersifat umum. Dan menurut tingkatannya ia tergolong mashlahah hajjiyah yang akan mewujudkan suatu kemudahan bagi penyandang disabilitas dan menghindarkannya dari suatu kesulitan dalam mengikuti bimbingan tersebut dengan mendapat fasilitas yang mereka butuhkan yakni alat komunikasi augmentatif, sehingga mereka dapat menerima materi dengan baik.
ENGLISH:
Pre-marital marriage guidance for persons with disabilities cannot run optimally due to the unavailability of augmentative communication tools needed by disability participants on the pretext of the absence of specific regulations governing their implementation. Even though there are already regulations that discuss the fulfillment, protection and facilitation of the rights of persons with disabilities as long as the changes in regulations governing marital guidance. From this, the researcher formulated 2 problem formulations in this research, namely; (1) how to fulfill the rights of persons with disabilities according to Law no. 8 of 2016 in the Director General of Islamic Community Guidance No. 379 of 2018 and (2) how to review pre-marital marriage guidance for persons with disabilities according to mashlahah mursalah. The objectives of this research is to analyze the fulfillment of the rights of persons with disabilities in the Decree of the Director General with Law No. 8 of 2016 and reviewing the guidance based on mashlahah mursalah.
This type of research was normative jurudical research with a statutory approach. In accordance with the type of research, the type of data used wass secondary data or often referred to as legal material with the three types of legal material, namely primary, secondary, and tertiary legal materials in which the legal material is obtained from library studies. The legal material that had been obtained is then processed through the stages of examination, classification, verification, analysis and drawing conclusions in order to obtain the research results sought.
The results of this research showed that: (1) In Kepdirjen Bimas Islam No. 379 of 2018, does not specialize in guidance only for those who do not have a disability, but all, both persons with disabilities or not. In the Decree, the Directorate General has not yet explained in detail the implementation or facilitation of participants with disabilities. So that participants with disabilities have difficulty in following the guidance, even though there are already rules governing the protection of rights and facilitation for persons with disabilities. Therefore, to avoid the legal confusion that occurs, it is necessary to stipulate a regulation governing premarital marriage guidance for persons with disabilities specifically. (2) This guidance iss helpful in mashlahah mursalah in terms of its validity, because there is no argument that clearly states its ability or rejection, but it is still in line with the intent of an argument, namely QS. An-Nisa 'verse 5ss8 which calls for establishing the law fairly. Based on its scope, it is classified as a mashlahah khassah which specifically benefits to persons with disabilities, but the benefit will bring general welfare. And according to his level he is classified as mashlahah hajjiyah which will create an ease for persons with disabilities and avoid it from any difficulty in following the guidance by getting the facilities they need namely augmentative communication tools, so that they can receive materials properly.
ARABIC:
لا يجري إرشاد الزواج قبل الزواج للأشخاص ذوي الإعاقة على النحو الأمثل بسبب عدم توفر أدوات الاتصال المعززة التي يحتاجها المشاركون في الإعاقة بذريعة عدم وجود لوائح محددة تنظم تنفيذها. على الرغم من وجود لوائح تناقش توفر حقوق الأشخاص ذوي الإعاقة وحمايتها وتسهيلها ما دامت التغييرات في اللوائح المنظمة للإرشاد الزوجي. من ذلك، تقوم الباحثة بصياغة مسئلتين في هذا البحث، وهما: (١) كيف توفر حقوق الأشخاص ذوي الإعاقة من منظور قانون رقم ٨ لسنة ٢٠١٦ في قرار المدير العام لإرشاد المجتمع الإسلامي رقم ٣٧٩ لسنة ٢٠١٨ و (٢) كيف مراجعة إرشاد الزواج قبل الزواج للأشخاص ذوي الإعاقة وفقا للمصلحة المرسلة. الأهدف من هذا البحث هي تحليل توفر حقوق الأشخاص ذوي الإعاقة في قرار المدير العام مع القانون رقم ٨ لسنة ٢٠١٦ ومراجعة ذلك الإرشاد وفقا للمصلحة المرسلة.
نوع هذا البحث هو بحث قضائي معياري بمدخل قانوني. وفقًا لنوع البحث، فإن نوع البيانات المستخدمة هو بيانات ثانوية أو غالبًا يسمى بمواد قانونية مع الأنواع الثلاثة من المواد القانونية، وهي المواد القانونية الأولية والثانوية والثالثية المحصولة من دراسات المكتبة. ثم تتم معالجة المواد القانونية المحصولة من خلال مراحل الفحص والتصنيف والتحقق والتحليل والاستنتاج من أجل الحصول على نتائج البحث المطلوبة.
نتائج هذا البحث ما يلي: (١) في قرار المدير العام لإرشاد المجتمع الإسلامي رقم ٣٧٩ لسنة ٢٠١٨، لا يتخصص الإرشاد فقط لأولئك الذين ليس لديهم إعاقة، ولكن الجميع، سواء من ذوي الإعاقة أم لا. في قرار المدير العام، لم توضح بالتفصيل تنفيذ أو تسهيل للمشاركين ذوي الإعاقة. حتى يواجه المشاركون من ذوي الإعاقة صعوبة في اتباع الإرشاد، على الرغم من وجود قواعد تنظم حماية حقوق الأشخاص ذوي الإعاقة وتسهيلهم. لذلك، لتجنب الخلط القانوني الذي يحدث، من الضروري وضع لائحة تنظم إرشاد الزواج قبل الزواج للأشخاص ذوي الإعاقة خاصة. (٢) هذا الإرشاد يدخل في المصلحة المرسلة من حيث صلاحيته، لأنه لا توجد دليل يوضح بوضوح جوازها أو رفضها، لكنه لا يزال يتماشى مع مقصود الدليل، وهو القرآن من سورة النساء الآية ٥٨ التي تدعو إلى إقامة الحكم بالعدل. ووفقا لنطاقه، أنه يدخل في المصلحة المرسلة التي خاصة تستهدف مصلحته إلى الأشخاص ذوي الإعاقة، لكن تلك المصلحة ستجلب الرفاهية العامة. ووفقًا لمستواه، أنه يدخل في المصلحة الحجية التي سيخلق سهولة للأشخاص ذوي الإعاقة وتجنبهم من أية صعوبة في اتباع ذلك الإرشاد من خلال الحصول على التسهيلات التي يحتاجونها وهي أدوات الاتصال المعززة، حتى يتمكنوا من تسليم المواد بشكل صحيح.
Item Type: | Thesis (Undergraduate) | ||||||
---|---|---|---|---|---|---|---|
Supervisor: | Toriquddin, Moh | ||||||
Contributors: |
|
||||||
Keywords: | bimbingan perkawinan; disabilitas; marriage guidance; disability; mashlahah mursalah إرشاد الزواج; الإعاقة; المصلحة المرسلة | ||||||
Subjects: | 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180119 Law and Society | ||||||
Departement: | Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah | ||||||
Depositing User: | Hanifah Mahya Sari | ||||||
Date Deposited: | 20 Aug 2020 15:28 | ||||||
Last Modified: | 20 Aug 2020 15:28 | ||||||
URI: | http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/21424 |
Downloads
Downloads per month over past year
Actions (login required)
![]() |
View Item |