Ritual srah-srahan dalam perkawinan adat Jawa: Kasus di Desa Jotangan Kec. Mojosari Kab. Mojokerto

Hamasi, M. Farid (2011) Ritual srah-srahan dalam perkawinan adat Jawa: Kasus di Desa Jotangan Kec. Mojosari Kab. Mojokerto. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Introduction)
05210047_Pendahuluan.pdf

Download (752kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Abstract: Indonesia)
05210047_Indonesia.pdf

Download (143kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Abstract: English)
05210047_Inggris.pdf

Download (127kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 1)
05210047_Bab_1.pdf

Download (293kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 2)
05210047_Bab_2.pdf

Download (523kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 3)
05210047_Bab_3.pdf

Download (300kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 4)
05210047_Bab_4.pdf

Download (341kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 5)
05210047_Bab_5.pdf

Download (300kB) | Preview
[img]
Preview
Text (References)
05210047_Daftar_Pustaka.pdf

Download (165kB) | Preview
[img] Archive (Appendices)
05210047_Lampiran.zip

Download (2MB)

Abstract

INDONESIA:

Srah-srahan merupakan simbolik dari pihak calon mempelai pria sebagai bentuk tanggung jawab kepada pihak keluarga, terutama kepada orang tua calon perempuan. Biasanya srah-srahan diberikan pada saat malam sebelum akad nikah, akan tetapi ada juga yang melakukan pada saat acara pernikahan.

Srah-srahan merupakan suatu tradisi yang harus dilakukan dengan membawa persyarata-persyaratan yang telah ditentukan sebelumnya. Ketika calon mempelai laki-laki akan mendatangi pihak calon mempelai wanita karena srah-srahan tersebut merupakan salah satu syarat dari sebagaian prosesi pernikahan di daerah Jotangan, dan bisa dianggap sah apabila telah sesuai dengan ketentuan yang telah di tentukan.

Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yaitu dengan memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

Pada waktu srah-srahan orang-orang membicarakan semua persiapan nikah nantinya. Pertama menyerahkan barang-barang serah-serahan, berupa hasil bumi, perlengkapannya calon perempuan, jajan-jajan, dan cincin pernikahan. Setelah memberikan barang-barang tadi biasanya dari pihak laki-laki dan perempuan (kedua belah pihak) mulai membahas apa saja kekurangan untuk acara pernikahan nantinya.

Acara srah-srahan bermakna sakral dalam perkawinan adat Jawa Di Desa Jotangan Kec. Mojosari Kab. Mojokerto. Di dalam runtutan upacara pernikahan adat Jawa yang ada di desa ini wajib ada prosesi srah-srahan. Karena dari acara srah-srahan itu, semua ada syarat-syarat yang harus dipenuhi.

Tidak ada keteragan mengenai sejarah latar belakang dimulainya prosesi srah-srahan. Namun, semua masyarakat mengamini apabila prosesi itu telah lama dilaksanakan turun temurun di desa Jotangan Kec. Mojosari Kab. Mojokerto. Selebihnya, mereka lebih menekankan mengenai pentingnya manfaat yan terdapat dalam prosesi srah-srahan, yaitu meliputi : silaturrahmi, tolong-menolong, dan musyawarah.

ENGLISH:

Srah-srahan is a symbolic action of the prospective groom as a form of responsibility to the family, especially to the parents of the bride. Srah-srahan usually given at night before the wedding ceremony, but there are also some people who do this at the wedding.

Srah-srahan is a tradition that must be done by bringing the requirements that had been predetermined when the prospective groom would come to the prospective bride, because srah-srahan is one of the requirements of most local wedding procession in Jotangan village, and can be considered valid if it complies with the provisions that have been determined.

In this study, the approach used is a qualitative approach, namely to understand the phenomenon of what is experienced by research subjects in a holistic and descriptive manner in the form of words and language, in a special context that’s natural and by utilizing the scientific method.

By the time of srah-srahan, people are discussing about all the wedding preparations to be carried out later. First is to hand over the srah-srahan goods consist of agricultural products, prospective bride’s equipment, snacks, and the wedding ring. After sending those goods, usually from the men and women’s family (both sides) begin to discuss any deficiencies to the coming wedding ceremony.

Srah-srahan is considerably sacred in Javanese traditional marriage in the Jotangan Village, Mojosari District, Mojokerto Regency. In the series of traditional Javanese wedding ceremony in this village, the procession of srah-srahan is an obligatory. Because in this strah-srahan event, there are all conditions that must be met.

There is no information regarding the historical background of the commencement of srah-srahan procession. But all people in the society concurred that the procession was long held by generations in the Jotangan Village, Mojosari District, Mojokerto Regency. The rest, they put more emphasis on the importance of the benefits inherent in the srah-srahan procession, which include: silaturahmi, mutual help, and musyawarah.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Roibin, Roibin
Keywords: Srah-srahan; Adat; Pernikahan; Traditional; Wedding
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012829 Islamic Family Issues & Local Tradition
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Location: 18012829
Depositing User: Dian Anesti
Date Deposited: 08 Sep 2015 01:48
Last Modified: 08 Sep 2015 01:48
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/1939

Actions (login required)

View Item View Item