Perkawinan adat Batak di Daerah Padang Sidimpuan, Sumatera Utara: Kajian fenomenologis

Ritonga, Hardianto (2011) Perkawinan adat Batak di Daerah Padang Sidimpuan, Sumatera Utara: Kajian fenomenologis. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

[img]
Preview
Text (Introduction)
06210056_Pendahuluan.pdf

Download (2MB) | Preview
[img]
Preview
Text (Abstract: Indonesia)
06210056_Indonesia.pdf

Download (30kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Abstract: English)
06210056_Inggris.pdf

Download (10kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 1)
06210056_Bab_1.pdf

Download (391kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 2)
06210056_Bab_2.pdf

Download (875kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 3)
06210056_Bab_3.pdf

Download (175kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 4)
06210056_Bab_4.pdf

Download (471kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 5)
06210056_Bab_5.pdf

Download (155kB) | Preview
[img]
Preview
Text (References)
06210056_Daftar_Pustaka.pdf

Download (26kB) | Preview
[img] Other (Appendices)
06210056_Lampiran.rar

Download (2MB)

Abstract

INDONESIA:

Perkawinan adalah suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketentuan tentang perkawinan dalam Islam telah dibahas secara rinci mulai dari pengertian wanita dan perkawinan yang diharamkan dalam Islam. Di dalam masyarakat Padang Sidempuan, mereka mempunyai aturan dan adat istiadat sendiri yang berbeda dengan perkawinan masyarakat pada umumnya.

Adapun rumusan masalah dalam penulisan skripsi ini menggunakan tiga rumusan masalah ialah 1. Bagaimana Prosesi Perkawinan Adat Batak Di Daerah Padang Sidimpuan, 2. Apa Konsekuensi Bagi Pelaku Pernikahan Semarga Dalam Adat Batak Di Daerah Padang Sidimpuan. 3. Bagaimana Analisis Hukum Islam Terhadap Pernikahan Semarga Di Daerah Padang Sidimpuan.

Metode penelitian adalah fenomenologis bersifat deskriptif analitis yaitu hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran secara menyeluruh dan sistematis tentang perkawinan semarga pada masyarakat Padang Sidimpuan, Kabupaten Tapanuli Selatan, yang kemudian dianalisa sehingga dapat diambil kesimpulan secara umum. Penulisan ini didasarkan atas hasil wawancara dengan Masyarakat Padang Sidimpuan.

Dari hasil penelitian menunjukkan perkawinan semarga dalam Masyarakat Adat Padang Sidimpuan masih dianggap sesuatu yang tabu, walaupun dalam agama islam hal ini sebenarnya tidak dipermasalahkan, tetapi pelaku yang melakukan perkawinan semarga harus merombak marga si pengantin perempuan dengan marga dari ibu suaminya agar tutur sapa yang semestinya tidak menjadi rusak ataupun tumpang tindih.

Adapun konsekwensinya bagi pelaku adalah mereka tidak bisa mengikuti upacara adat setempat apabila ada horja (perayaan besar), karena mereka melanggar ketentuan yang berlaku yang masih disakralkan sampai sekarang. Karena keyakinan masyarakat adat padang sidimpuan semarga berarti dongan sabutuha (saudara kandung) apabila hal itu dilanggar berarti ada konsekwensi hokum adat yang berlaku bagi mereka. Seperti mengganti marga, membayar denda adat yang ditimpakan kepada mereka atas perbuatan mereka yang melanggar atura-aturan adat yang berlaku.

ENGLISH:

Marriage is a spiritual bond between a man born to a woman as husband and wife with the aim of forming a family (household), a happy and everlasting based on Belief in God Almighty. The provisions on marriage in Islam has been discussed in detail starting from an understanding of women and marriage is forbidden in Islam. In the community of Padang Sidempuan, they have their own rules and customs that are different from marriage society in general.

The formulation of the problem in writing this essay uses three is 1. How Batak customary marriage procession in the desert region sidimpuan, 2. What are the consequences for perpetrators semarga in customary marriages in the desert sidimpuan hobo. 3. How is the analysis of Islamic law on marriage sidimpuan semarga in desert areas.

Writing method using analytical descriptive phenomenological study of the results obtained from this research are to provide comprehensive and systematic picture of marriage in society semarga Sidimpuan Padang, South Tapanuli District, which is then analyzed so that it can be concluded in general. Writing is based on the results of interviews with the people of Padang Sidimpuan.

The result showed a marriage semarga in Padang Indigenous Sidimpuan still considered a taboo, although the Islamic religion it is actually not disputed, but the actors who perform marriages semarga should remodel the bride's clan with the clan of her husband's mother for who should not have said hello become damaged or overlap.

The consequences for the perpetrators is that they can not follow the local traditional ceremonies when there horja (big celebration), because they violate the regulations that are still sacred to the present. Because the field of indigenous beliefs sidimpuan semarga means dongan sabutuha (siblings) if it is violated means that there are consequences of customary law applicable to them. Like replacing the clan, to pay the customary fine imposed upon them for their acts that violate atura customary rules and regulations.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Fadil, Fadil
Keywords: Larangan Perkawinan; Prohibition of Marriage; Semarga
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012801 Pernikahan (Secara Umum)
18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012829 Islamic Family Issues & Local Tradition
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Illiyati Tsani Nivia
Date Deposited: 11 Aug 2015 09:21
Last Modified: 11 Aug 2015 09:21
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/1322

Actions (login required)

View Item View Item