Responsive Banner

Exploring eco-anxiety through social media discourse: An ecolinguistic study on extinctionrebellion account on Instagram

Farochi, Moch Zidan (2026) Exploring eco-anxiety through social media discourse: An ecolinguistic study on extinctionrebellion account on Instagram. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img] Text (Fulltext)
220302110207.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

(757kB)

Abstract

INDONESIA

Penelitian ini menganalisis konstruksi diskursif kecemasan ekologis dalam aktivisme lingkungan, khususnya dalam keterangan Instagram organisasi Extinction Rebellion (XR) pada November 2025. Dengan meningkatnya pembicaraan emosi iklim di platform daring, penelitian ini akan mencoba mengeksplorasi bagaimana kecemasan ekologis dapat diekspresikan dan dikonstruksi melalui bahasa. Analisis akan menggunakan metode analisis wacana kualitatif dengan menggunakan penanda kecemasan ekologis Susan Clayton (2020) bersama dengan kerangka ekolinguistik Arran Stibbe (2015), khususnya “Stories we live by.” Data terdiri dari 16 keterangan Instagram XR, yang telah dipisahkan menjadi klausa yang relevan dan dianalisis berdasarkan penanda emosionalnya (ketakutan, kecemasan, ancaman eksistensial, dan ketidakberdayaan) dan karakteristik linguistiknya (pembingkaian, metafora, evaluasi, ideologi, keunggulan, keyakinan, identitas, dan penghapusan). Analisis ini menunjukkan bahwa kecemasan ekologis dikonstruksi dan digunakan secara selektif, dengan ketakutan dan kecemasan menjadi penanda yang paling menonjol. Emosi-emosi ini tercipta melalui praktik linguistik dalam membingkai peristiwa dalam istilah krisis, urgensi dan keniscayaan, klaim berbasis ideologi, dan akumulasi ancaman lingkungan. Selain itu, kurangnya solusi nyata ditemukan dapat membangun rasa tidak berdaya. Kesimpulannya, dari bukti di atas, dapat dilihat bahwa kecemasan ekologis bukan hanya respons psikologis tetapi juga respons yang dibangun secara diskursif berdasarkan bahasa yang digunakan dalam wacana lingkungan. Disarankan agar diskusi di masa depan dalam wacana lingkungan harus dilakukan secara mendesak tanpa menimbulkan trauma emosional.

ENGLISH

This study analyzes the discursive construction of eco-anxiety within environmental activism, specifically in the Instagram captions of the Extinction Rebellion (XR) organization in November 2025. With the rise of climate emotion talk in online platforms, the research will attempt to explore how eco-anxiety can be expressed and constructed through language. The analysis will utilize a qualitative discourse analysis method using Susan Clayton's (2020) eco-anxiety markers together with Arran Stibbe's (2015) ecolinguistic framework, particularly his "stories we live by." The data comprises 16 XR Instagram captions, which have been separated into relevant clauses and analyzed according to their emotional markers (fear, anxiety, existential threat, and helplessness) and linguistic characteristics (framing, metaphor, evaluation, ideology, salience, conviction, identity, and erasure). This analysis shows that eco-anxiety is selectively constructed and deployed, with fear and anxiety becoming the most prominent markers. These emotions are created through the linguistic practices of framing events in crisis terms, urgency and inevitability, ideologically-based claims, and environmental threats accumulation. Additionally, the lack of tangible solutions is found to construct helplessness. In conclusion, from the above evidence, it can be seen that eco-anxiety is not only a psychological response but also a discursively constructed one based on the language used in environmental discourse. It is proposed that future talks in environmental discourses should be done urgently without causing emotional trauma.

ARABIC

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item