Responsive Banner

Tradisi Perang Centong dalam pernikahan Cikalan perspektif Maslahah Mursalah : Studi di Desa Kamal Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes

Sodik, Imam Japar (2026) Tradisi Perang Centong dalam pernikahan Cikalan perspektif Maslahah Mursalah : Studi di Desa Kamal Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img] Text (Fulltext)
220201110093.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

(2MB)

Abstract

INDONESIA

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih dilestarikannya tradisi perang centong dalam pernikahan cikalan oleh masyarakat Desa Kamal, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes. Tradisi tersebut dilaksanakan setelah akad nikah dengan menampilkan perang simbolik menggunakan alat-alat dapur seperti centong, hihid, tampah, dan kendi berisi telur. Bagi masyarakat setempat, tradisi perang centong dimaknai sebagai simbol perjuangan hidup rumah tangga, kerja sama, serta harapan akan keselamatan dan keberkahan bagi pasangan pengantin dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Oleh karena itu, tradisi tersebut menarik untuk dikaji melalui perspektif Maslahah Mursalah Imam Al-Ghazali guna mengetahui kedudukannya dalam hukum Islam serta nilai kemaslahatan yang terkandung di dalamnya.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum empiris dengan pendekatan sosio - legal. Sumber data yang digunakan terdiri dari data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan tokoh adat, tokoh agama, pelaku tradisi, dan masyarakat Desa Kamal, sedangkan data sekunder diperoleh melalui buku, jurnal, dan dokumen lain yang berkaitan dengan penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, dan observasi. Selanjutnya data dianalisis melalui tahapan editing, klasifikasi, verifikasi, analisis, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, tradisi perang centong dalam pernikahan cikalan dilaksanakan sebagai bentuk simbolik yang menggambarkan perjuangan, kerja sama, serta kesiapan pasangan pengantin dalam menghadapi kehidupan rumah tangga. Tradisi tersebut juga mengandung nilai sosial berupa mempererat hubungan kekeluargaan, menjaga solidaritas masyarakat, dan melestarikan budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Kedua, dalam perspektif Maslahah Mursalah menurut Imam Al-Ghazali, tradisi perang centong dipandang mengandung kemaslahatan karena bertujuan menjaga hubungan sosial, menciptakan keharmonisan, serta mempertahankan nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Dengan demikian, tradisi perang centong dapat tetap dilestarikan sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat sepanjang pelaksanaannya tidak menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam.

ENGLISH

This research is motivated by the continued preservation of the Perang Centong tradition in Cikalan marriages by the people of Kamal Village, Larangan District, Brebes Regency. The tradition is performed after the marriage contract (akad nikah) and features a symbolic "war" using kitchen utensils such as rice paddles (centong), bamboo fans (hihid), winnowing trays (tampah), and an earthen jar (kendi) containing eggs. For the local community, the Perang Centong tradition is interpreted as a symbol of the struggle in domestic life, cooperation, and the hope for safety and blessings for the bride and groom. Consequently, this tradition is significant to examine through Imam Al-Ghazali's perspective of Maslahah Mursalah to determine its position within Islamic law and the values of benefit (maslahah) it contains.
This study utilizes empirical legal research with a socio - legal approach. The data sources consist of primary data obtained through interviews with traditional leaders, religious figures, tradition practitioners, and the people of Kamal Village, while secondary data are sourced from books, journals, and other documents related to the research. Data collection techniques include interviews, observation. The data were then analyzed through the stages of editing, classification, verification, analysis, and conclusion drawing.
The research findings indicate that, first, the perang centong tradition in cikalan weddings serves as a symbolic representation of the struggle, cooperation, and readiness of the newlyweds in facing married life. This tradition also embodies social values, including strengthening family ties, maintaining community solidarity, and preserving locally inherited cultural heritage. Second, from the perspective of Maslahah Mursalah according to Imam Al-Ghazali, the perang centong tradition is deemed to hold collective benefits (maslahah), as it aims to maintain social relations, foster harmony, and preserve living cultural values within society, provided it does not contradict Islamic law (sharia). Consequently, the perang centong tradition can be sustained as a form of local wisdom, provided that its execution does not deviate from Islamic teachings.

ARABIC

خلفية هذا البحث هي استمرارية الحفاظ على تقليد "فيرانج شينتونج" في زواج "شيكالان" من قبل أهالي قرية كمال، منطقة لارانجان،محافظة بريبيس. يُقام هذا التقليد بعد عقد النكاح من خلال عرض حرب رمزية باستخدام أدوات المطبخ مثل مغرفة الأرز (centong)، والمروحة الخشبية (hihid)، والمنخل (tampah)، وجرة تحتوي على بيض. يفسر المجتمع المحلي هذا التقليد كرمز للكفاح في الحياة الزوجية، والتعاون، والرجاء في السلامة والبركة للزوجين. ولذلك، من الأهمية بمكان دراسة هذا التقليد من منظور المصلحة المرسلة عند الإمام الغزالي لمعرفة مكانته في الشريعة الإسلامية وقيم المصلحة المتضمنة فيه.
يعتمد هذا البحث على نوع البحث القانوني التجريبي مع منهج علم الاجتماع القانوني. تتكون مصادر البيانات من بيانات أولية تم الحصول عليها من خلال المقابلات مع رؤساء العرف، ورجال الدين، وممارسي التقليد، وأهالي قرية كمال، بينما تم الحصول على البيانات الثانوية من الكتب والمجلات والوثائق الأخرى المتعلقة بالبحث. وتم جمع البيانات عن طريق المقابلة، والملاحظة، والتوثيق. ثم تم تحليل البيانات من خلال مراحل التحرير، والتصنيف، والتحقق، والتحليل، واستخلاص النتائج.
أظهرت نتائج البحث أن: أولاً، تُقام عادة "بيرانغ جينتونغ" (Perang Centong) في زواج "جيكالان" (Cikalan) كرمز يجسد الكفاح، والتعاون، وجاهزية الزوجين في مواجهة الحياة الزوجية. كما تتضمن هذه العادة قيماً اجتماعية تتمثل في تعزيز الروابط الأسرية، والحفاظ على التضامن المجتمعي، وصون الثقافة المحلية المتوارثة عبر الأجيال. ثانياً، من منظور المصلحة المرسلة عند الإمام الغزالي، يُنظر إلى هذه العادة على أنها تحتوي على مصلحة لأنها تهدف إلى الحفاظ على العلاقات الاجتماعية، وإرساء الوئام، والتمسك بالقيم الثقافية الحية في المجتمع، طالما أنها لا تتعارض مع الشريعة الإسلامية. وبناءً على ذلك، يمكن الاستمرار في الحفاظ على عادة "بيرانغ جينتونغ" كجزء من الحكمة المحلية، شريطة ألا ينحرف تطبيقها عن قيم التعاليم الإسلامية.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Sholehudin, Miftahus
Keywords: Tradisi Perang Centong; Pernikahan Cikalan; Maslahah Mursalah; Perang Centong Tradition; Cikalan Marriage; تقليد فيرانج شينتونج; زواج شيكالان; المصلحة المرسلة
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012829 Islamic Family Issues & Local Tradition
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Imam Japar Sodik
Date Deposited: 25 Jun 2026 10:32
Last Modified: 26 Jun 2026 10:25
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/86273

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item