Gender and racial-based power relation in J. M. Coetzee’s Disgrace

Ardani, Mufidah (2014) Gender and racial-based power relation in J. M. Coetzee’s Disgrace. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img] Text (Fulltext)
10320092.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (6MB)

Abstract

ENGLISH:

People always interacts each other to gain their needs individually or in group. There is power relation in each interaction. Power relation is where a person more powerful than other in people or group. There many things influence to reach power in power relation such gender and race. This research discusses gender and racial-based power relation among four major characters in Disgrace.

This research uses sociological literary criticism. The approach used is postmodernism approach. The data of this research taken from the original Disgrace novel by J. M. Coetzee published in 1999 which is related with power relation based on gender and race. The research would use two theories. The primary theory is power relation by Michel Foucault, and the secondary theory is cultural practice by Pierre Bourdieu.

The result of this research said that each major character has different power and it will influence in the power relation. David Lurie has knowledge power, Melanie Isaac has feminine power, Lucy Lurie has a symbolic power, and Petrus has a strong cultural power. Then, in the case of gender based power relation, Melanie over powered David and Petrus over powered Lucy. Besides, Petrus over powered David and Lucy in the term of racial based power relation. Therefore, the result of this this thesis shows that in the power relation being man or white race is not always more powerful than woman or black.

INDONESIA:

Setiap orang pasti berinteraksi dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan baik dalam lingkup antar individu maupun kelompok. Dalam interaksi tersebut ada yang di namakan hubungan kekuasaan. Yakni di mana satu orang lebih berkuasa dari orang lain atau kelompok tertentu lebih berkuasa dari kelompok yang lainnya. Ada banyak hal yang mempengaruhi individu atau kelompok untuk menjadi lebih berkuasa antara lain gender dan ras. Dalam penelitian ini membahas tentang gender dan ras dalam hubungan kekuasaan antar empat pemeran utama di dalam novel Disgrace.

Penelitian ini menggunakan kritik sastra sosial dan pendekatan posmodernis. Data dari penelitian ini diambil dari novel asli Disgrace oleh J.M. Coetzee terbit tahun 1999 yang berhubungan dengan gender dan ras. Penelitian ini menggunakan dua teori. Teori utama menggunakan teori hubungan kekuasaan oleh Michel Foucault dan teori pendukungnya adalah praktik kultural oleh Pierre Bourdieu.

Hasil dari penelitian ini mengatakan bahwa setiap pemeran utama mempunyai kekuatan yang berbeda-beda dan akan berpengaruh dalam hubungan kekuasaan. David Lurie mempunyai kekuasaan pengetahuan, Melanie Isaac mempunyai kekuasaan feminine, Lucy Lurie mempunyai kekuasaan simbolic, dan Petrus mempunyai kekuasaan kultural. Kemudian, dalam masalah hubungan kekuasaan berdasarkan gender Melanie lebih berkuasa daripada david dan Petrus lebih berkuasa daripada Lucy. Selain itu, Petrus lebih berkuasa daripada David dan Lucy dalam hubungan kekuasaan berdasarkan ras. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah menjadi laki-laki atau berkulit putih tidak selalu lebih berkuasa daripada perempuan atau orang berkulit hitam.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Rahayu, Mundi
Keywords: Gender; Race; Power Relation; Ras; Hubungan Kekuasaan
Departement: Fakultas Humaniora > Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris
Depositing User: Dian Anesti
Date Deposited: 12 Jan 2018 08:37
Last Modified: 12 Jan 2018 08:37
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/8625

Actions (login required)

View Item View Item