Adhim, Ahmad Fauzul (2025) Gambaran faktor morfologi tungkai bawah dan ketahanan berjalan calon jemaah haji Kota Batu tahun 2025. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
|
Text (Fulltext)
220701110035 (2).pdf - Accepted Version Restricted to Repository staff only until 1 January 2028. (9MB) | Request a copy |
Abstract
INDONESIA:
Latar Belakang: Ketahanan berjalan merupakan aspek penting bagi Calon Jemaah Haji (CJH) karena sebagian besar rangkaian ibadah haji menuntut aktivitas berjalan jarak menengah hingga jauh, sementara cedera muskuloskeletal pada mass gathering masih sering terjadi. Morfologi tungkai bawah sebagai faktor internal diperkirakan turut memengaruhi kapasitas berjalan. Penelitian ini bertujuan menggambarkan ketahanan berjalan serta morfologi tungkai bawah, meliputi leg length to stature ratio (LLSR), sudut metatarsophalangeal pertama (MTP1), dan arkus pedis pada CJH Kota Batu tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional serta teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data ketahanan berjalan diperoleh dari rekam medis kebugaran CJH pra-haji menggunakan Six-Minute Walking Test (6MWT) sebagai data sekunder. Data primer terdiri atas pengukuran langsung LLSR, sudut MTP1 menggunakan goniometer, dan arkus pedis melalui footprint test yang dianalisis menggunakan Chippaux-Smirak Index (CSI). Analisis dilakukan menggunakan descriptive statistics dan frequencies melalui Excel dan SPSS. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa ketahanan berjalan mayoritas berada pada kategori normal. Rata-rata LLSR adalah 55,97 ± 2,53. Sudut MTP1 pada kedua kaki sebagian besar berada dalam kategori normal. Distribusi arkus pedis didominasi tipe pes cavus, meskipun pada kaki dextra proporsi pes cavus dan arkus normal tampak setara (masing-masing 33%). Distribusi seluruh variabel menunjukkan pola yang relatif serupa antar kategori ketahanan berjalan, tanpa kecenderungan berbeda yang menandakan variasi morfologi sebagai pembeda utama. Kesimpulan: Penelitian ini memberikan gambaran eksploratif-deskriptif mengenai ketahanan berjalan serta morfologi tungkai bawah pada CJH Kota Batu tahun 2025. Temuan yang menunjukkan distribusi morfologi yang relatif serupa di seluruh kategori ketahanan berjalan mengindikasikan bahwa variasi struktural tungkai bukan faktor penentu utama kapasitas berjalan, meskipun tetap berkontribusi dalam batas tertentu. Hasil ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan hipotesis dan penelitian analitik pada tahap berikutnya.
ENGLISH:
Background: Walking endurance is a crucial aspect for Indonesian Hajj Pilgrims (CJH), as most pilgrimage rituals require moderate- to long-distance walking, while musculoskeletal injuries remain common in mass gatherings. Lower limb morphology, as an internal factor, is presumed to contribute to walking capacity. This study aimed to describe walking endurance and lower limb morphology, including leg length to stature ratio (LLSR), first metatarsophalangeal angle (MTP1), and foot arch structure among CJH in Batu City in 2025. Methods: This study used a quantitative descriptive design with a cross-sectional approach and purposive sampling based on predefined inclusion and exclusion criteria. Walking endurance data were obtained from pre-Hajj fitness medical records using the Six-Minute Walking Test (6MWT) as secondary data. Primary data consisted of direct measurements of LLSR, MTP1 angle using a goniometer, and foot arch structure assessed through a footprint test analyzed using the Chippaux-Smirak Index (CSI). Data were analyzed using descriptive statistics and frequencies in Excel and SPSS. Results: Most participants demonstrated normal walking endurance. The mean LLSR was 55.97 ± 2.53. The MTP1 angle in both feet largely fell within the normal category. The distribution of foot arch types was dominated by pes cavus, although in the right foot, the proportions of pes cavus and normal arches were comparable (each 33%). Overall, all variables exhibited relatively similar patterns across walking endurance categories, with no distinct tendencies indicating morphology as a primary differentiating factor. Conclusion: This study provides an exploratory–descriptive overview of walking endurance and lower limb morphology among CJH in Batu City in 2025. The relatively similar morphological distribution across all walking endurance categories suggests that structural variations of the lower limb are not the main determinants of walking capacity, although they still contribute within certain limits. These findings serve as a foundation for hypothesis development and future analytical research.
Downloads
Downloads per month over past year
Actions (login required)
![]() |
View Item |
