Responsive Banner

Exploitation of nature in Avatar 2: The Way of Water (2022): An ecocritical analysis

Hafizh, Muhammad Fakhri (2025) Exploitation of nature in Avatar 2: The Way of Water (2022): An ecocritical analysis. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img] Text (Fulltext)
200302110239.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

(6MB)

Abstract

ABSTRACT

This study examines the representation of environmental exploitation and ethical modes of inhabiting nature in Avatar: The Way of Water (2022) through an ecocritical framework grounded in conception of ecocriticism and further articulated by Greg Garrard’s concept of dwelling. Using a qualitative descriptive approach, the study analyzes visual scenes, narrative structures, and key dialogues related to environmental issues through repeated film viewings and close textual analysis. The findings are structured according to the research questions as follows:
The study identifies four interconnected forms of environmental exploitation: (1) natural resource extraction by the Sky People that commodifies nature and undermines Indigenous lifeways; (2) destruction of natural habitats, reflecting a colonial logic that transfers ecological crises rather than resolving them; (3) pollution and environmental damage through industrial and militarized technologies that transform shared ecosystems into zones of violence; and (4) wildlife exploitation, particularly the hunting of the Tulkun, which commodifies sentient non-human beings and severs ecological, cultural, and spiritual relationships. Viewed through Garrard’s concept of dwelling, these practices represent extractive and anthropocentric modes of inhabitation.
The film depicts multidimensional impacts of environmental exploitation: (1) ecologically, forest burning, marine pollution, and Tulkun hunting cause habitat destruction, biodiversity loss, and ecosystem imbalance; (2) socially, these practices generate environmental injustice, cultural displacement, and conflict between the Sky People and the Na’vi, particularly the Metkayina clan; and (3) morally, the narrative reveals a failure of ethical dwelling, as profit-driven and technocratic ideologies override care, reciprocity, and intergenerational responsibility. These impacts demonstrate that environmental exploitation damages not only nature but also social relations and moral values.
The film presents a multifaceted response to environmental exploitation: (1) by leading and supporting indigenous resistance, Jake Sully and Neytiri stand with the Metkayina clan in defending territory and non-human kin; (2) by protecting nature through reciprocal everyday practices, such as forming respectful bonds with aquatic beings, the film promotes harmony and ecological responsibility; (3) by building solidarity among clans and non-human beings, environmental struggle is framed as a shared ecological condition; and (4) Jake Sully and Neytiri embody ecological dwelling in protecting the marine ecosystem in Avatar 2: The Way of Water (2022), the narrative embodies Greg Garrard’s concept of dwelling as an ethical mode of inhabiting the environment based on care, adaptation, and long-term ecological commitment.
Overall, Avatar 2: The Way of Water (2022), functions as a cultural critique of anthropocentrism and extractive modernity by juxtaposing destructive and sustainable modes of dwelling. This study contributes to ecocritical scholarship by highlighting the relevance of dwelling as a key analytical concept for understanding contemporary cinematic representations of environmental crises and ecological ethics.

ABSTRAK

Penelitian ini mengkaji representasi eksploitasi lingkungan dan mode etis dalam menghuni alam dalam film Avatar: The Way of Water (2022) melalui kerangka ekokritik yang berpijak pada konsep ekokritisisme dan diperdalam dengan konsep dwelling dari Greg Garrard. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini menganalisis adegan visual, struktur naratif, serta dialog-dialog kunci yang berkaitan dengan isu lingkungan melalui penayangan film secara berulang dan pembacaan teks secara mendalam. Temuan penelitian disusun berdasarkan rumusan masalah sebagai berikut.
Penelitian ini mengidentifikasi empat bentuk eksploitasi lingkungan yang saling berkaitan, yaitu: (1) eksploitasi sumber daya alam oleh Sky People yang mengkomodifikasi alam dan merusak cara hidup masyarakat adat; (2) perusakan habitat alam yang mencerminkan logika kolonial, di mana krisis ekologis dipindahkan ke wilayah lain alih-alih diselesaikan; (3) pencemaran dan kerusakan lingkungan melalui teknologi industri dan militerisasi yang mengubah ekosistem bersama menjadi zona kekerasan; serta (4) eksploitasi satwa liar, khususnya perburuan Tulkun, yang mengkomodifikasi makhluk non-manusia yang berkesadaran serta memutus relasi ekologis, kultural, dan spiritual. Ditinjau melalui konsep dwelling Garrard, praktik-praktik tersebut merepresentasikan cara menghuni alam yang bersifat ekstraktif dan antroposentris.
Film ini juga menampilkan dampak eksploitasi lingkungan yang bersifat multidimensional, meliputi: (1) dampak ekologis berupa pembakaran hutan, pencemaran laut, dan perburuan Tulkun yang menyebabkan kerusakan habitat, hilangnya keanekaragaman hayati, serta ketidakseimbangan ekosistem; (2) dampak sosial berupa ketidakadilan lingkungan, peminggiran budaya, dan konflik antara Sky People dan bangsa Na’vi, khususnya klan Metkayina; serta (3) dampak moral yang menunjukkan kegagalan dwelling yang etis, ketika ideologi berorientasi keuntungan dan teknologi mengalahkan nilai kepedulian, resiprositas, dan tanggung jawab antargenerasi. Dampak-dampak tersebut menunjukkan bahwa eksploitasi lingkungan tidak hanya merusak alam, tetapi juga meretakkan relasi sosial dan nilai-nilai moral.
Lebih lanjut, film ini menghadirkan respons yang beragam terhadap eksploitasi lingkungan, yaitu: (1) melalui kepemimpinan dan dukungan terhadap perlawanan masyarakat adat, Jake Sully dan Neytiri berpihak pada klan Metkayina dalam mempertahankan wilayah dan kerabat non-manusia; (2) melalui perlindungan alam dalam praktik keseharian yang bersifat resiprokal, seperti membangun relasi yang penuh penghormatan dengan makhluk akuatik, film ini menegaskan harmoni dan tanggung jawab ekologis; (3) melalui pembangunan solidaritas antarklan dan antarspesies, perjuangan lingkungan dipahami sebagai kondisi ekologis bersama; serta (4) melalui karakter Jake Sully dan Neytiri, narasi film mewujudkan konsep dwelling Greg Garrard sebagai cara etis menghuni lingkungan yang berlandaskan kepedulian, adaptasi, dan komitmen ekologis jangka panjang.
Secara keseluruhan, Avatar: The Way of Water berfungsi sebagai kritik kultural terhadap antroposentrisme dan modernitas ekstraktif dengan memperhadapkan cara menghuni alam yang destruktif dan yang berkelanjutan. Penelitian ini berkontribusi pada kajian ekokritik dengan menegaskan relevansi konsep dwelling sebagai perangkat analisis utama dalam memahami representasi krisis lingkungan dan etika ekologis dalam sinema kontemporer

مستخلص البحث

تهدف هذه الدراسة إلى تحليل تمثيل استغلال البيئة وأخلاقيات السكن في فيلم Avatar 2: The Way of Water (2022) من خلال إطار النقد البيئي (الإيكو-نقد) المرتكز على تصوّر شيريل غلوتفلتي، والمطوَّر عبر مفهوم السكن (Dwelling) عند غريغ غارارد. ينظر الإيكو-نقد إلى الأعمال الأدبية والسينمائية بوصفها نصوصًا ثقافية لا تعكس العلاقة بين الإنسان والبيئة الطبيعية فحسب، بل تسهم أيضًا في تشكيلها. وتعتمد هذه الدراسة منهجًا وصفيًا نوعيًا، من خلال المشاهدة المتكررة للفيلم، وتوثيق المشاهد المحورية، وتحليل العناصر البصرية والسردية، ودراسة الحوارات المرتبطة بالقضايا البيئية.
تُظهر نتائج الدراسة أن الفيلم يصوّر أشكالًا متعددة من الاستغلال البيئي الحديث الذي تمارسه جماعة الـSky People، مثل استخراج الموارد بشكل مدمّر، وتخريب النظم البيئية البحرية، والتلوث الناتج عن الأنشطة الصناعية والعسكرية، وتسليع الكائنات غير البشرية من خلال صيد التولكون لأغراض اقتصادية. وتعكس هذه الممارسات رؤية أنثروبومركزية واستعمارًا بيئيًا يُختزل فيه الطبيعة إلى موضوع للهيمنة وتحقيق الربح. وفي المقابل، يقدّم الفيلم مجتمع الميتكاينا بوصفه نموذجًا لـالسكن البيئي، أي نمط العيش الذي يقوم على التكيّف، والترابط الإيكولوجي، والمسؤولية الأخلاقية تجاه النظام البيئي البحري. ومن خلال شخصيتي جيك سَلي ونيتيري، يعرض الفيلم ممارسات حماية البيئة القائمة على التعايش، وصون التنوع البيولوجي، ومقاومة الحداثة الاستخراجية.
كما يصوّر الفيلم آثار الاستغلال البيئي بوصفها آثارًا متعددة الأبعاد، تشمل فقدان التنوع الحيوي، واختلال التوازن البيئي، والظلم البيئي الذي تعاني منه المجتمعات الأصلية، إضافة إلى أزمة أخلاقية عميقة ناتجة عن انفصال الإنسان عن شبكة الحياة. ومن خلال المقابلة بين ممارسات الاستغلال وأنماط السكن المستدام، يعمل فيلم Avatar 2: The Way of Water بوصفه نقدًا ثقافيًا بيئيًا يتحدى المنطق الأنثروبومركزي، ويدعو إلى التحول نحو أخلاقيات الرعاية البيئية، والتبادلية، والمسؤولية طويلة الأمد. وتسهم هذه الدراسة في حقل الإيكو-نقد من خلال التأكيد على أهمية مفهوم السكن كأداة تحليلية لفهم تمثيلات الأزمات البيئية في السينما المعاصرة. كما توصي الدراسة بإجراء أبحاث مستقبلية من خلال مقاربات بينية، مثل الدراسات المقارنة للأفلام البيئية، والتحليل ما بعد الاستعماري لتمثيل المجتمعات الأصلية، ودراسات تلقي الجمهور للوعي البيئي، إلى جانب استكشاف الروحانية البيئية، والإيكوفيمينيزم، وتناقضات الرأسمالية الخضراء في الصناعات الإبداعية.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Rahayu, Mundi
Keywords: Keywords Exploitation of nature, ecocriticism, metkayina, poaching, Kata Kunci Eksplotasi alam, ekokritik, metkayina, perburuan liar الكلمات الرئيسة استغلال الطبيعة، النقد البيئي، الميتكاينا، الصيد الجائر
Subjects: 20 LANGUAGE, COMMUNICATION AND CULTURE > 2005 Literary Studies > 200508 Other Literatures in English
Departement: Fakultas Humaniora > Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris
Depositing User: Muhammad Fakhri Hafizh
Date Deposited: 29 Dec 2025 09:30
Last Modified: 29 Dec 2025 09:30
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/82123

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item