خطوات الصلح بين الزوجين عند النشوز: دراسة مقارنة بين الشريعة الإسلامية والقانون الليبي

Hammoda, Hania Ahmed Ali (2017) خطوات الصلح بين الزوجين عند النشوز: دراسة مقارنة بين الشريعة الإسلامية والقانون الليبي. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
14751020.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (3MB) | Preview

Abstract

ABSTRAK

Rekonsiliasi adalah sebuah kebutuhan hidup, hal tersebut dapat merealisasikan kemaslahatan yang besar, diantaranya; menghentikan konflik, menyatukan pendapat, dan suntikan darah.

Dan merupakan cara efektif untuk menyelesaikan konflik antara kedua pasangan. hal yang mendorong saya untuk menulis tentang masalah ini adalah apa yang terjadi masyarakat muslim zaman ini, berupa perselisihan, perpecahan dan konflik antar kedua pasangan dan keluarga mereka, dan tersebarnya perceraian di masyarakat Arab.

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) menjelaskan langkah rekonsiliasi antar kedua pasangan dalam Nusyuz pada hukum Islam. (2) mengetahui tahapan rekonsiliasi antar kedua pasangan dalam Nusyuz pada hukum Libya. (3) menjelaskan aspek persamaan dan perbedaan antara hukum Islam dan hukum Libya dari segi langkah yang dilakukan dalam rekonsiliasi antar kedua pasangan dalam Nusyuz.

Peneliti menemukan beberapa hasil penelitian sebagaimana berikut: (1) Hukum Islam telah menentukan beberapa langkah penyelesaian Nusyuz (pembangkangan) istri sebagiamana berikut: a) hukum Islam telah meletakkan langkah-langkah rekonsiliasi antar kedua pasangan dalam bingkai keluarga, berupa nasehat, pisah ranjang dan pukulan. B) jika Nusyuz (pembangkangan) tidak berhenti maka beralih ke proses pengadilan, dengan cara mencari 2 mediator dari kedua belah pihak, dan jika tidak didapati maka boleh dari orang lain. c) jika proses rekonsiliasi oleh mediator gagal, maka berpindah keranah pengadilan, di mana hakim wajib mendamaikan kedua pasangan tersebut.

Para ahli fikih telah mendefinisikan beberapa kasus yang bisa untuk didamaikan melalui dua standart; hendaknya hukum yang dikeluarkan tidak mengakhiri konflik dan dapat menyebabkan keberlanjutan perkara atau banding. standar yang lain adalah hakim tidak mempunyai kebenaran yang bulat; baik karena keterbatasan pengetahuan hakim terhadap perkara atau konvergensi bukti dan argument. (2) Penyusun Hukum Libya telah mengkaji langkah penyelesaian Nusyuz (pembangkangan) dan mendefinisikannya sebagai perselisihan dan bahaya.

Langkah tersebut sebagaimana berikut: a) Undang-undang Libya menentukan langkah penyelesaian perselisihan dan bahaya ketika perkara tersebut telah sampai ke hakim dan belum ada dalam hukum Islam. Dan menyerahkan hal tersebut kepada hakim. b) hukum Libya telah menentukan tugas kedua mediator dalam proses rekonsiliasi yaitu tidak memisahkan kedua pasangan meskipun mereka gagal dalam poroses rekonsiliasi. c) Undang-undang Libya telah menentukan masa kerja mediator, yaitu 1 bulan dari tanggal pengambilan sumpah didepan pengadilan, dan hakim hanya boleh menambah 1 bulan masa kerja mediator. d) Jika mediator gagal, maka hukum Libya mengharuskan hakim untuk melakukan pertemuan secara tertutup dengan kedua pasangan untuk rekonsiliasi, dan jika gagal dan mustahil untuk mempertahankan keluarga, maka hakim memutuskan perkara tersebut dengan perceraian. (3) Peneliti dalam proses perbandingan antara hukum Islam dan Hukum Libya menemukan perbedaan, dimana hukum Islam menjelaskan langkah-langkah penyelesaian Nusyuz sedangkan hukum Libya memulai dengan 2 media; mediator dan hakim. Hukum Islam tidak terikat ketentukan laki-laki dalam hal mediator meskipun para ahli fiqih berbeda pendapat dalam hal tersebut, sedangkan hukum Libya mempersyaratkan laki-laki.

Hukum Islam melihat bahwa perkataan mediator dalam hal tidak mendamaikan kedua pasangan sebagai hal yang telah berakhir, sedangkan hukum Libya melihat bahwasanya mediator tidak berhak untuk memisahkan kedua pasangan, akan tetapi peran mereka (mediator) berakhir ketika tidak terjadi kesepakatan antar kedua pasangan.

ABSTRACT

Background of the research : reconciliation represents the necessity of the necessities of life, it achieves great interests, including: cutting off the conflicts, coming up with a one word, and the bloodshed, which is an effective way to resolve the conflict between the spouses, what is happening today in Muslim’s societies of difference and separation and conflict between spouses and their families, and the spread of divorce is evident in Arab societies, leads me to write about this topic.

Objective of the research: this research aims to show the steps of reconciliation between the spouses when they are discord according to Islamic Shari'a, to determine the steps of reconciliation between the spouses in Libyan law, and to clarify the differences according to each Islamic Sharia and Libyan law with couples at discord.

The result of this research is that the sariya’ has defined some steps of treating the wife while discord such as:
A. The Sharia within the framework of family institution has set some steps in a consequence which are (Preaching, abandonment and beating).
B. Once the discord does not end, it will be transferred to attribution, in which looking for two old and mature man from the couple’s family, if it is not available it is O.K. to look for another man to to stop the conflict and they have to determine the causes of Nashuz after sitting with the spouses and try to reform and raise the causes of discord.
C. If the two rulings fail, the judge intervenes for reform between the spouses, and he has to offer the reconciliation. The fuqaha 'have identified the cases of reconciliation with two criteria: that the judgment is not terminated for the dispute and may lead to its continuation or aggravation, the other criterion is that the judge has no right, or to the proximity of evidence and arguments, and prevents the judge from offering reconciliation if one of the partners would hurt or abuse the other.

The Libyan legislator dealt with the discord cure and called it schism and damage ( alshiqaq wa al darer), as follows:
A. The legislator dealt with the discord by not mentioning any previous judgment given by sariya, it is left to the judge.
B. The law point that the judge should choose a two masculine with justice and experience, its preferred to be one’s spouse’s family, if there is no availability then someone else.
C. The role of the ruling is to reform, they do not have the right to separate the couples if they are unable to reform.
D. The legislator has determined the duration to be one month from the date of their swearing-in before the court and the judge to extend them for another month only.
E. If the two provisions disabled to do their work, the law requires to make a privet session held for the spouses to let the judge to renovate between them by himself, If the judge is unable to prove the impossibility to continue their normal life, he will give the force to divorce and the rights of the person causing the dispute will be extinguished.

When the researcher compare between the Islamic law and the Libyan law in this study, it is found there is a disagreement . The Islamic law has shown the steps of treating the discord between the couples, while the Libyan law started with the last two methods, the two rulings and the judge did not mention the steps mentioned by the shari'a in the context of its articles.

While the Libyan law stipulated masculinity and prevent the arbitration of women, and Islamic law repeated the provisions of the two provisions in the distinction between the past couple while in the Libyan law is not entitled to the two provisions differentiate between the spouses, but ends their role when not reconciling the couple and move the case to the Court, and also differed from the Libyan Islamic Sharia law in the period given for conciliation in the law did not limit the duration of certain Libyan law does not select them more than the duration of two months.

ملخص

خلفية البحث: يمثل الصلح ضرورة من ضرورات الحياة، فهو يحقق مصالح عظيمة منها: قطع النزاعات، واجتماع الكلمة، وحقن الدماء، وهو وسيلة فعالة لحل النزاع بين الزوجين، ومما دفعني للكتابة في هذا الموضوع ما يحدث اليوم في المجتمعات المسلمة من الاختلاف والتفرق والنزاع بين الزوجين وأسرهما، وانتشار الطلاق بشكل واضح في المجتمعات العربية.

أهداف البحث: يهدف البحث إلى الآتي: أولا: بيان خطوات الصلح بين الزوجين عند النشوز في الشريعة الإسلامية، ثانيا: تحديد خطوات الصلح بين الزوجين عند النشوز في القانون الليبي، ثالثا: بيان أوجه الاتفاق والاختلاف بين الشريعة الإسلامية والقانون الليبي من حيث الخطوات المتبعة في الصلح بين الزوجين عند النشوز.
توصل الباحث في هذا البحث إلى النتائج التالية:
توصلت الباحثة لجملة من النتائج هي:
1- حددت الشريعة خطوات علاج نشوز الزوجة وفقاً لما يأتي:
أ) وضعت الشريعة خطوات للإصلاح بين الزوجين في إطار مؤسسة الأسرة وهي الوعظ والهجر والضرب، مع وجوب الترتيب بينها.
ب) إذا لم ينتهي النشوز ينتقل إلى التحكيم وهو بحث حكمين من أهل الزوجين فإن لم يوجد فمن غيرهما، ويتعين عليهما تحديد أساب النشوز بعد الجلوس مع الزوجين ومحاولة الإصلاح ورفع أسباب النشوز.

ج) إذا فشل الحكمان تدخل القاضي للإصلاح بين الزوجين، وعليه أن يعرض الصلح، وقد حدد الفقهاء الحالات التي عليه عرض الصلح فيها بمعيارين هما أن لا يكون الحكم منهياً للنزاع وقد يؤدي لاستمراره أو تفاقمه، والمعيار الآخر عدم ثبوت الحق لدى القاضي، سواء لعدم قدرته على معرفته أو لتقارب الأدلة والحجج، ويمتنع القاضي من عرض الصلح إذا تبين له الحق أو كان في حملهم على الصلح ظلم وجور لأحد الطرفين.
2- تناول المشرع الليبي علاج النشوز وأسماه الشقاق والضرر وذلك على النحو الآتي:
أ) عالج المشرع الشقاق والضرر حال وصول الأمر إلى القاضي ولم يتناول ما سبقه من مراحل ذكرتها الشريعة، وترك أمر تقدير وجوده للقاضي.
ب) حدد القانون الشروط التي ينبغي للقاضي مراعاتها عند تعيين الحكمين من ذكورة وعدالة وخبرة في الإصلاح، وفضل أن يكونا من أهل الزوجين فإن لم يوجد فمن غيرهم.

ج) حدد القانون مهمة الحكمين في الإصلاح فليس لهما التفريق بين الزوجين إن عجزا عن الإصلاح.
د) وحدد المشرع مدة لعمل الحكمين هي شهر من تاريخ أدائهم اليمين أمام المحكمة وللقاضي تمديدها شهراً آخر فقط.
هـ) فإذا عجز الحكمان ألزم القانون القاضي بعقد جلسة سرية يحاول فيها الإصلاح بين الزوجين بنفسه، فإن عجز وتبين له استحالة دوام العشرة، حكم بالطلاق وتسقط حقوق المتسبب في الشقاق، وإن لم يتبين له أي منهما حكم بالطلاق وتسقط حقوق طالب الطلاق.
3- تبين للباحث عند المقارنة بين الشريعة الإسلامية والقانون الليبي وجود خلاف فالشريعة الإسلامية بينت خطوات علاج النشوز بينما القانون الليبي ابتدأ بآخر وسيلتين وهي الحكمين والقاضي ولم يتطرق إلى الخطوات التي ذكرته الشريعة في سياق مواده، ولم تقيد الشريعة الإسلامية من شروط الحكمين الذكورة واختلف فيها الفقهاء بينما القانون الليبي اشترط الذكورة ومنع تحكيم النساء، والشريعة الإسلامية عدت قول الحكمين في التفريق بين الزوجين ماض بينما في القانون الليبي لا يحق للحكمين التفريق بين الزوجين وإنما ينتهي دورهم عند عدم التوفيق بين الزوجين وتنقل القضية إلى المحكمة، وأيضا اختلفت الشريعة الإسلامية عن القانون الليبي في المدة التي تعطى من أجل الصلح ففي الشريعة لم تحد بمدة معينة أما القانون الليبي فحددها بمدة لا تزيد عن شهرين.

Item Type: Thesis (Masters)
Supervisor: Suwandi, Suwandi and Irfan, Abbas
Keywords: خطوات الصلح بين الزوجين; النشوز; الشريعة الإسلامية; القانون الليبي; reconciliation between the spouses at discord; Islamic law; Libyan law; Rekonsiliasi antar Kedua Pasangan; Nusyuz; Hukum Islam; Hukum Libya
Departement: Sekolah Pascasarjana > Program Studi magister Pendidikan Agama Islam
Depositing User: Muhammad Muhammad Syahriel
Date Deposited: 02 Sep 2017 06:14
Last Modified: 02 Sep 2017 06:14
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/7949

Actions (login required)

View Item View Item