Kesaksian perempuan dalam pernikahan perspektif Hadis: Kajian living Sunnah pada aktivis gender dan pegawai Kantor Urusan Agama Kota Malang

Himsyah, Fatroyah Asr (2014) Kesaksian perempuan dalam pernikahan perspektif Hadis: Kajian living Sunnah pada aktivis gender dan pegawai Kantor Urusan Agama Kota Malang. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
12780006.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (4MB) | Preview

Abstract

INDONESIA:

Banyak budaya umat Islam yang lahir dari pemahaman teologis hadis salah satu diantaranya adalah budaya patriarkhi. Seperti mengenai kesaksian perempua n, khususnya dalam bidang pernikahan. Pengaruh hadis dan riwayat tentang kesaksian tersebut sangat nampak terhadap budaya masyarakat secara umum dan secara khusus pada masyarakat di Kota Malang. Dapat kita lihat pada prosesi akad pernikahan yang dilakukan pada masyarakat saksi yang digunakan hampir tidak pernah menggunakan saksi perempuan. Tidak jarang hadis-hadis misoginis tersebut merupakan hadis shahih. Seperti hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari bahwa kesaksian perempuan bernilai separuh dari kesaks ian laki-laki. Terhadap hadis shahih seperti itu yang harus dilakukan adalah tidak cukup menelitinya melalui jalur sanad saja melainkan juga jalur matannya agar hadis yang demikian tidak bertentangan dengan misi kesetaraan dalam al-Qur’an, maka dibutuhkan pula kontekstualisasi dialogis antara hadis dan perkembangan sosial.

Berdasarkan persoalan ini, maka penelitian ini menggali dan menganalisis pandangan Aktivis Gender sebagai stake holder dalam garda pembelaan ketimpangan-ketimpangan antara laki-laki dan perempuan serta pandangan dari Pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) Kota Malang sebagai pihak yang berkecimpung langsung dalam proses pernikahan di masyarakat.

Penelitian ini dilakukan dalam kerangka paradigma definisi sosial dengan pendekatan fenomenologis untuk menangkap berbagai kerangka konsep yang ada dalam pikiran para informan yang tercermin dari pendapat dan perilaku. Penelitian ini dilakukan di Kota Malang dengan pertimbangan realitas di dalam proses pernikahan perempuan tidak memiliki tempat secara formalitas dalam posisinya sebagai saksi, selain itu Kota Malang merupakan kota yang memiliki akses pendidikan dan karir yang sama besarnya bagi laki-laki dan perempuan menjadi indikasi kapabilitas perempuan yang tidak dapat dipandang sebelah mata lagi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, dokumentasi dan observasi.

Peneliti menemukan adanya dua cara berpikir dalam memahami hadis kesaksian wanita di dalam pernikahan pada kalangan Aktivis Gender : modern konservatif dan modern progresif. Serta tiga tipologi pada Pegawai KUA Kota Malang yakni, tradisionalis konservatif, modern konservatif, dan modern progresif. Adapun mengenai implementasinya bahwa kesaksian perempuan dalam pernikahan belum mendapat restu budaya Indonesia untuk digunakan sebagaimana kesaksian laki-laki pada umumnya.

ENGLISH:

There are many moslems cultures appears because of the hadith theology understanding, such as patriarchy. For example is women testimony in the marriage in Islam. The influance of hadith and riwayah about the testimony come in sight in the society cultures and specially in the citizen of Malang. Commonly, people use men as witness in every marriage settlement processing. The people always say that the Hadith Rasul forbid women to be a witness, in other side people call it the misogynistic hadiths. Often, the misogynistic hadiths are shahih hadiths, like as the hadith which delivered by Al-Bukhari which content about the testimony of two woman equivalent to a man testimony. To understand this had ith is not enough only research the sanad link but also we have to research content of the hadith or the matan in order to get the true understanding of that hadith because will be imposible if the Hadith Rasul contain a contrary meaning with Al-Qur’an. In other side, it needed dialogic contextualization between the hadith and the social development.

Based on it, this research is exploring and analyzing of Gender Activist view as a defenders in every single inequality between men and women, and The Official of The O ffice of Religious Affairs in Malang C ity view as a part who served marriage processing in community.

This research uses social definition paradigm and phenomenological approach. They are used to get a variety of ideas of the informants which appears from the opinions and behaviors. The locus of this research is the Malang City because the reality in the marriage processing in this city shows that women not be used as a witness. In addition, this city has access to education and career equally between men and women. It become an indication that the capabilities of women can not be underestimated again. The data collection techniques used were interviews, documentation, and observation.

The researcher finds there are two types oppinions in an effort to understand the women testimo ny hadith in Islamic marriage on Gender Activist, they are: modern conservatives and modern progressive. Whereas, in The Official of The Office of Religious Affairs in Malang City there are three types oppinions, they are: traditionalist conservative, modern conservative, and modern progressive. As to the implementation that the women testimony in Islamic marriage is not accepted by the Indonesian culture to be used as men testimony.

Item Type: Thesis (Masters)
Supervisor: Sumbulah, Umi and Rofiq, Aunur
Keywords: Kesaksian Perempuan; Pernikahan; Hadis; Women Testimony; Marriage; Hadith
Departement: Sekolah Pascasarjana > Program Studi Magister al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Dian Anesti
Date Deposited: 14 Aug 2017 08:38
Last Modified: 14 Aug 2017 08:38
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/7829

Actions (login required)

View Item View Item