تحليل آراء العلماء في الحديث: الأيّم أحق بنفسها من واليّها والبكر تستأذن في نفسها وإذنها صماتها

Ainur Rofiq, Mahbub (2010) تحليل آراء العلماء في الحديث: الأيّم أحق بنفسها من واليّها والبكر تستأذن في نفسها وإذنها صماتها. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
06210020.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB) | Preview

Abstract

ABSTRAK

Perbedaan di antara Ulama’ di dalam memahami al-Qur’an dan Hadits akan mempengaruhi prodak hukum yang timbul dari keduanya, sehingga memungkinkan terjadinya kesamaan dan tidak menutup kemungkinan perbedaan. Fenomena ini juga terjadi di dalam hadits Nabi yang berbicara tentang perwalian dalam suatu pernikahan, di mana mayoritas umat Islam khususnya di Indonesia mengetahui bahwa di dalam prosesi akad nikah terdapat rukun-rukun yang harus dipenuhi oleh kedua mempelai, di antaranya adalah keberadaan wali di dalamnya. Karena seorang wali adalah orang yang paling berhak untuk menikahkan anaknya. Wali tersebut adalah ayah kandung pengantin perempuan, jika tidak ada, maka digantikan oleh kakeknya. Namun demikian, terdapat hadits lain yang juga dipegangi oleh sebagian Ulama’ termasuk Hanafiyah atas kebolehan pernikahan tanpa adanya seorang wali.

Berangkat dari pandangan Hanafiyah atas kebolehan pernikahan seorang wanita tanpa adanya seorang wali, maka peneliti di sini ingin meneliti sejauh mana posisi hadits ini di dalam pergolakan pemikiran para Ulama’ di dalam menghasilkan suatu hokum sehingga terjadi perbedaan pendapat di antara mereka. Apakah Ulama selain Hanafiyah berhujjah dengan hadits ini hanya untuk menguatkan posisi wali sebelum akad? Atau hadits ini hanya dijadikan hujjah di dalam pemberian hak untuk memilih sebagai bentuk pemeliharaan diri wanita saja?

Dan untuk menjawab problematika di atas, peneliti memakai jenis penelitian kepustakaan. Karena data yang diperoleh berasal dari berbagai macam buku yang berhubungan dengan pandangan Ulama’ terhadap hadits ini. Sedangkan pendekatan penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif, karena penelitian ini dimaksudkan untuk menghasilkan data yang mampu mendeskripsikan pandangan Ulama’ dengan tertulis untuk memberi pemahaman terhadap obyek penelitian.

Kesimpulan dari data yang telah diperoleh, dapat dipahami bahwa Hanafiyah berpandangan bahwa setiap wanita yang sudah aqil baligh baik janda atau pun gadis boleh untuk menikahkan dirinya sendiri. Sedangkan Jumhur mengatakan bahwa termasuk salah satu rukun sahnya pernikahan adalah keberadaan wali di dalamnya. Adapun sebab-sebab yang melatrbelakangi perbedaan di antara mereka, yaitu: perbedaan mereka di dalam membawa hadits, perbedaan mereka di dalam memahami nash, perbedaan mereka di dalam menerima tingkat kehujjahan hadits, perbedaan mereka di dalam beramal terhadap hadits yang perawinya beramal berbeda dengan isi hadits tersebut, dan perbedaan mereka di dalam hadits yang diingkari oleh perawinya sendiri.

ABSTRACT

The differences among Ulama in understanding the Qur'an and Hadith will affect the product of law arising from the both, thus allowing the occurrence of similarities and do not rule out differences. This phenomenon also occurs in the hadith of the Prophet who spoke of trust in a marriage, where the majority of Muslims, especially in Indonesia know that in the procession of the marriage contract ceremony are the pillars that must be met by both brides, including a guardian presence in that ceremony. Because a guardian is the person most entitled to marry her. That guardian is her father, if he was died, it was replaced by her grandfather. However, there is another hadith which also restraints by some Ulama including Hanafiyah of permissibility marriage without a guardian.

Departing from the view of permissibility Hanafiyah marriage of a woman without a guardian, the researcher here want to examine the extent to which this hadith position in upheaval thinking of the Ulama in the result of a law so that there is a difference of opinion between them. Is Ulama beside Hanafiyah make some opinions with this hadith only to strengthen the position of guardian before the marriage contract? Or this hadith is only used as hujjah in granting the right to choice as a form of woman self-preservation only?

And to respon that problems, researcher use a library research as a type of this research. Because the data are obtained from different kinds of books that relate to the views of Ulama about this hadith. While the approach of this research is descriptive-qualitative, because the research is intended to generate data that can describe the views of Ulama by writing to get the understanding of the research object.

The conclusions from the data that had been obtained, it is understood that Hanafiyah view that every woman who has aqil baligh, either widow or still virgin is allowed to marry herself. Whereas Jumhur said that the guardian presence is one of pillars to legitimate a marriage. The reasons of forms the background of that differences are: their difference in bringing the hadith, their differences in the understanding of texts (nash), their differences in accept the weight level of that hadith, their differences within the charity to hadith whom it’s narrators scharity (amalan perawinya) was different with the content of hadith, and their differences in the hadith being challenged by it’s own narrator.

Item Type: Thesis (Masters)
Supervisor: Roibin, Roibin and Mahmudi, Zaenul
Keywords: الحديث الآراء; العلماء; Views; Ulama; Hadits, Pandangan; Ulama’
Departement: Sekolah Pascasarjana > Program Studi Magister al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Mohammad Syahriel Ar
Date Deposited: 11 Aug 2017 09:45
Last Modified: 11 Aug 2017 09:45
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/7770

Actions (login required)

View Item View Item