Responsive Banner

Dissenting Opinion penolakan pembatalan perkawinan akibat kawin paksa perspektif Sadd Al-Dzari'ah: Studi putusan nomor 1703/Pdt.G/2023/Pa.Mlg.

Baiti, Siska Nur (2025) Dissenting Opinion penolakan pembatalan perkawinan akibat kawin paksa perspektif Sadd Al-Dzari'ah: Studi putusan nomor 1703/Pdt.G/2023/Pa.Mlg. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahi.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
210201110101.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB) | Preview

Abstract

ABSTRAK

Penelitian ini membahas dissenting opinion dalam Putusan Nomor 1703/Pdt.G/2023/PA.Mlg terkait penolakan pembatalan perkawinan akibat kawin paksa. Dalam putusan tersebut, terdapat perbedaan pendapat di antara hakim mengenai ada atau tidaknya unsur paksaan yang dapat menjadi dasar pembatalan perkawinan. Rumusan masalah dari penelitian ini: pertama, ratio decidendi hakim tentang dissenting opinion penolakan pembatalan perkawinan akibat kawin paksa pada Putusan Nomor 1703/Pdt.G/2023/PA.Mlg menurut peraturan perundang-undangan. Kedua, ratio decidendi hakim tentang dissenting opinion penolakan pembatalan perkawinan akibat kawin paksa perspektif sadd al-dzari’ah.

Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan kasus (case approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Sedangkan jenis bahan hukumnya bersumber dari bahan hukum primer dengan teknik pengumpulan bahan hukum dengan melakukan tinjauan kepustakaan (library research). Metode pengolahan bahan hukum meliputi: pemeriksaan bahan hukum (editing), klasifikasi (classifying), verifikasi (verifying), analisis (analyzing) dan kesimpulan (concluding).

Hasil dari penelitian pada Putusan Nomor 1703/Pdt.G/2023/PA.Mlg menunjukkan bahwa: 1) Hakim yang menolak pembatalan perkawinan hanya melihat dari aspek formal atau administrasi pernikahan, tanpa mempertimbangkan secara mendalam adanya unsur paksaan. Sebaliknya, hakim yang mengabulkan permohonan pembatalan mempertimbangkan aspek hukum Islam dan hak asasi manusia, dengan menilai bahwa paksaan dalam perkawinan bertentangan dengan prinsip kebebasan diatur dalam hukum postif dan hukum Islam di Indonesia. 2) Menurut analisa peneliti, pendapat hakim yang mengabulkan pembatalan perkawinan lebih tepat dengan perspektif sadd al-dzari’ah karena bertujuan untuk mencegah mafsadah yang lebih besar. Melalui rukun sadd al-dzari’ah, al-wasilah, pembatalan perkawinan dianggap sebagai sarana untuk menghindari dampak buruk kawin paksa. Al-ifdha’ menunjukkan bahwa pemaksaan perkawinan telah menyebabkan penderitaan psikologis, ketidaknyamanan rumah tangga, dan pelanggaran hak asasi Pemohon. Al-mutawassil ilaih, menegaskan bahwa jika perkawinan tidak dibatalkan, akan muncul dampak negatif yang lebih luas, seperti ketidakstabilan rumah tangga, konflik sosial, hingga perceraian.

ABSTRACT

This study discusses the dissenting opinion in decision Number 1703/Pdt.G/2023/PA. Mlg related to the refusal to annul marriage due to forced marriage. In the decision, there was a difference of opinion among the judges regarding whether or not there was an element of coercion that could be the basis for annulment of marriage. The formulation of the problem from this study: first, the judge's ratio decidendi regarding the dissenting opinion on the rejection of marriage annulment due to forced marriage in Decision Number 1703/Pdt.G/2023/PA. Mlg according to laws and regulations. Second, the judge's ratio decidendi regarding the dissenting opinion of the rejection of marriage annulment due to forced marriage from the perspective of sadd al-dzari'ah.

This type of research uses a normative juridical research type with a case approach and a conceptual approach. Meanwhile, the type of legal materials is sourced from primary legal materials with the technique of collecting legal materials by conducting library research. Methods of processing legal materials include: editing, classifying, verifying, analyzing and concluding.

The results of the research in Decision Number 1703/Pdt.G/2023/Pa.Mlg show that, 1) Judges who refuse to annul the marriage only look at the formal or administrative aspects of the marriage, without considering in depth the existence of an element of coercion. On the other hand, the judge who granted the annulment application considered aspects of Islamic law and human rights, considering that coercion in marriage is contrary to the principle of freedom regulated in positive law and Islamic law in Indonesia. 2) According to the researcher's analysis, the judge's opinion that grants the annulment of marriage is more appropriate from the perspective of sadd al-dzari'ah because it aims to prevent greater mafsadah. Through the pillars of sadd al-dzari'ah, al-wasilah, the annulment of marriage is considered a means to avoid the adverse effects of forced marriage. Al-ifdha' points out that forced marriage has caused psychological distress, domestic discomfort, and violation of the Petitioner's human rights. Al-mutawassil ilaih, emphasized that if the marriage is not annulled, there will be a wider negative impact, such as domestic instability, social conflicts, and divorce.

مستخلص البحث

تناقش هذه الدراسة الرأي المخالف في القرار رقم ١٧٠٣/Pdt.G / ٢٠٢٣/Pa.Mlg وتتعلق القضية برفض فسخ الزواج بسبب الزواج القسري. وفي هذا القرار، هناك اختلاف في الرأي بين القضاة بشأن ما إذا كان هناك عنصر من عناصر الإكراه يمكن أن يكون أساسا لإبطال الزواج. صياغة إشكالية هذه الدراسة: أولا: نسبة القاضي للبت فيما يتعلق بالرأي المخالف برفض فسخ الزواج بسبب الزواج القسري في القرار وفقا للقوانين واللوائح. ثانيا: نسبة القاضي تقرر في الرأي المخالف برفض فسخ الزواج بسبب الزواج القسري من وجهة نظر سد الذريعة.

يستخدم هذا النوع من البحث نوع البحث القانوني المعياري مع نهج الحالة والنهج المفاهيمي. وفي الوقت نفسه ، يتم الحصول على نوع المواد القانونية من المواد القانونية الأولية بتقنية جمع المواد القانونية من خلال إجراء أبحاث المكتبة. تشمل طرق معالجة المواد القانونية: التحرير والتصنيف والتحقق والتحليل والاستنساخ.

تظهر نتائج البحث حول القرار أن: ١) القاضي الذي يرفض فسخ الزواج لا ينظر إلا إلى الجانب الرسمي أو الإداري للزواج ، دون النظر بعمق في وجود عنصر الإكراه. من ناحية أخرى، نظر القاضي الذي وافق على طلب الفسخ في جوانب من الشريعة الإسلامية وحقوق الإنسان، معتبرا أن الإكراه في الزواج يتعارض مع مبدأ الحرية المنظم في القانون الوضعي والشريعة الإسلامية في إندونيسيا. ٢) وبحسب تحليل الباحث، فإن رأي القاضي بمنح فسخ الزواج هو الأنسب من وجهة نظر سد الذريعة لأنه يهدف إلى منع المفسدة الكبرى. من خلال أركان السد الذريعة ، الوسيلة ، يعتبر فسخ الزواج وسيلة لتجنب الآثار السلبية للزواج القسري. وتشير الإفظاع إلى أن الزواج القسري تسبب في ضائقة نفسية وانزعاج منزلي. وأكد المتوسل إيليح أنه إذا لم يتم إلغاء الزواج، فسيكون هناك تأثير سلبي أوسع، مثل عدم الاستقرار المنزلي والصراعات الاجتماعية والطلاق.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Kadarisman, Ali
Keywords: Pembatalan Perkawinan; Kawin Paksa; Sadd Al-Dzari’ah; Marriage Annulment; Forced Marriage; فسخ الزواج ; واجبار; وسد الذريعة
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180113 Family Law
18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180114 Human Rights Law
18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012801 Pernikahan (Secara Umum)
18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012808 Fasakh
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Siska Nur Baiti
Date Deposited: 24 Mar 2025 08:55
Last Modified: 24 Mar 2025 08:55
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/73713

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item