Al Awshat, Muhammad Ali (2025) Hak Hadhānah bagi suami akibat istri Murtad perspektif kaidah Dar’ Al-Mafāsid Muqaddam A’lā Jalb Al-Mashālih: Studi analisis putusan No. 1/Pdt.G/2020/PA.Blg. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
|
Text (Fulltext)
210201110172.pdf - Accepted Version Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives. Download (7MB) | Preview |
Abstract
ABSTRAK
Dalam kasus hak asuh (hadhanah) akibat istri yang murtad, terdapat dua kepentingan yang saling bertentangan. Di satu sisi, anak membutuhkan kedekatan dengan ibunya karena ibu adalah sosok yang paling memahami dan merawatnya sejak kecil. Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa jika anak diasuh oleh ibu yang telah mutad, akidah dan pemahaman agamanya bisa terpengaruh. Hal ini menimbulkan dilema antara menjaga ikatan emosional anak dengan ibunya dan melindungi keyakinan serta pendidikan agamanya. Salah satu kaidah fiqih yang dapat dijadikan landasan dalam menganalisis permasalahan ini adalah kaidah dar’ al-mafᾱsid muqaddam a’lᾱ jalb al-mashᾱlih, Kaidah ini mengajarkan bahwa ketika terjadi pertentangan antara menolak kemafsadatan dengan meraih kemaslahatan, maka yang harus didahulukan adalah menolak kemafsadatan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hakim dalam menentukan hak asuh anak pada kasus perceraian akibat istri yang murtad di Pengadilan Agama. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengkaji bagaimana kaidah dar’ al-mafāsid muqaddam a’lā jalb al-mashālih diterapkan oleh hakim dalam memutuskan hak asuh anak pada kasus tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian yuridis normatif dengan pendekatan pendekatan kasus. Data primer diperoleh dari putusan No. 1/Pdt.G/2020/PA.Blg, sementara data sekunder KHI, dan juga beberapa kitab fiqih dan diperoleh dari kajian pustaka yang relevan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Majelis Hakim merujuk pada pendapat ulama Syafi’iyyah yang menyatakan bahwa pengasuh anak harus beragama Islam, sehingga orang yang kafir tidak berhak mengasuh anak yang beragama Islam. Hakim juga mempertimbangkan pendapat ulama Hanafiyyah yang menyebutkan bahwa jika seorang pengasuh murtad, maka hak asuhnya otomatis gugur. Berdasarkan kaidah dar’ al-mafāsid muqaddam a’lā jalb al-mashālih hakim memutuskan untuk memberikan hak asuh anak kepada ayah, mengingat ibu yang telah murtad dapat membawa risiko kerusakan akidah, hilangnya pendidikan agama Islam, dan pengaruh moral negatif. Meskipun kasih sayang ibu merupakan hal penting, perlindungan akidah, moral, dan pendidikan agama anak dinilai lebih utama, sehingga keputusan ini diambil untuk kepentingan terbaik anak dan juga kelayakan pemegang hak asuh anak.
ABSTRACT
In the case of custody (hadhanah) due to an apostate wife, there are two conflicting interests. On the one hand, the child needs closeness to his mother because the mother is the figure who understands and cares for him the most since childhood. However, on the other hand, there is a concern that if the child is raised by a mother who has apostatized, his faith and understanding of religion can be affected. This creates a dilemma between maintaining the child's emotional bond with his mother and protecting his religious beliefs and education. One of the fiqh rules that can be used as a basis for analyzing this problem is the rule of dar' al-mafᾱsid muqaddam a'lᾱ jalb al-mashᾱlih, This rule teaches that when there is a conflict between rejecting harm and achieving benefit, then what must be prioritized is rejecting harm.
This study aims to analyze the judge's considerations in determining child custody in divorce cases due to an apostate wife in the Religious Court. In addition, this study also aims to examine how the dar' al-mafāsid muqaddam a'lā jalb al-mashālih rule is applied by the judge in deciding child custody in the case. The research method used is a normative juridical research type with a case approach. Primary data was obtained from decision No. 1/Pdt.G/2020/PA.Blg, while secondary data is KHI, and also several fiqh books and obtained from relevant literature studies.
The results of the study show that the Panel of Judges refers to the opinion of the Syafi'iyyah scholars who state that the child's caregiver must be Muslim, so that infidels do not have the right to care for a child who is Muslim. The judge also considered the opinion of the Hanafiyyah scholars who stated that if a caregiver apostatizes, then his custody rights are automatically revoked. Based on the principle of dar’ al-mafāsid muqaddam a’lā jalb al-mashālih, the judge decided to give custody of the child to the father, considering that the mother who has apostatized can bring the risk of damage to faith, loss of Islamic religious education, and negative moral influences. Although the mother’s affection is important, the protection of the child’s faith, morals, and religious education is considered more important, so this decision was taken in the best interests of the child and also the suitability of the child’s custody holder.
مستخلص البحث
وفي حالات الحضانة الناتجة عن الزوجة المرتدة، هناك مصلحتان متعارضتان. فمن ناحية يحتاج الأطفال إلى القرب من أمهم لأن الأم هي أكثر من يفهمهم ويهتم بهم منذ الصغر. ومع ذلك، من ناحية أخرى، هناك قلق من أنه إذا تمت تربية الطفل على يد أم تحولت، فإن إيمانه وفهمه لدينه يمكن أن يتأثر. وهذا يخلق معضلة بين الحفاظ على الرابطة العاطفية للطفل مع والدته وحماية معتقداته الدينية وتعليمه. ومن القواعد الفقهية التي يمكن الاستناد إليها كأساس لتحليل هذه الإشكالية قاعدة دار المفاضلة على جلب المشلح. وهذه القاعدة تعلمنا أنه عندما يكون هناك تعارض بين رفض المنكر وحصول المنفعة، فالأولى هو رفض المنكر.
يهدف هذا البحث إلى تحليل اعتبارات القاضي في تحديد حضانة الأطفال في قضايا الطلاق بسبب الزوجة المرتدة في المحاكم الشرعية. وفضلاً عن ذلك، يهدف هذا البحث أيضاً إلى دراسة كيفية تطبيق القاضي لأحكام دَرْءُ الْمَفَاسد مُقَدَّم عَلَي جَلْب الْمَصَاِلح في تقرير حضانة الأطفال في هذه القضية. طريقة البحث المستخدمة هي البحث القانوني المعياري مع نهج الحالة. تم الحصول على البيانات الأولية من القرار رقم. 1/Pdt.G/2020/PA.Blg، بينما تم الحصول على البيانات الثانوية من KHI، بالإضافة إلى العديد من الكتب الفقهية من مراجعات الأدبيات ذات الصلة.
وأظهرت نتائج البحث أن هيئة القضاة قد أشارت إلى رأي علماء الشافعية في أن من يتولى رعاية الأطفال يجب أن يكون مسلماً، فلا حق للكفار في رعاية أطفال المسلمين. كما أخذ القاضي في الاعتبار رأي علماء الحنفية القائلين بأنه إذا ارتد الحاضن، فإن حقوقه الوالدية تسقط تلقائياً. وبناء على قواعد دَرْءُ الْمَفَاسد مُقَدَّم عَلَي جَلْب الْمَصَاِلح، قرر القاضي إعطاء حضانة الطفل للأب، معتبراً أن الأم المرتدة يمكن أن تحمل خطر الإضرار بالعقيدة، وفقدان التربية الدينية الإسلامية، والتأثيرات الأخلاقية السلبية.
Downloads
Downloads per month over past year
Actions (login required)
![]() |
View Item |