Responsive Banner

Pandangan Hakim terhadap hak-hak Istri yang mengalami gangguan jiwa dalam perkara cerai Talak: Studi Pengadilan Agama Kota Kediri

Al Malikah, Nabilah (2025) Pandangan Hakim terhadap hak-hak Istri yang mengalami gangguan jiwa dalam perkara cerai Talak: Studi Pengadilan Agama Kota Kediri. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
210201110099.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB) | Preview

Abstract

ABSTRAK

Perceraian merupakan peristiwa hukum yang tidak hanya berdampak pada perubahan status perkawinan, tetapi juga membawa konsekuensi terhadap pemenuhan hak-hak pihak yang bercerai. Dalam perkara cerai talak, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh hakim untuk melindungi hak-hak istri, terutama jika istri mengalami gangguan jiwa yang memengaruhi kemampuannya menjalankan hak dan kewajibannya. Kondisi ini menuntut adanya peran aktif hakim dalam memastikan keadilan dan perlindungan hukum sesuai dengan prinsip-prinsip hukum Islam dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pandangan hakim Pengadilan Agama Kota Kediri terhadap hak-hak istri yang mengalami gangguan jiwa dalam perkara cerai talak. Kompleksitas kasus ini terletak pada upaya memastikan perlindungan hukum terhadap istri yang memiliki keterbatasan mental, terutama dalam hal pemenuhan hak-haknya pasca putusan perceraian.

Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis kualitatif dengan metode deskriptif, karena data dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara dengan para hakim, analisis dokumen hukum, serta kajian literatur yang relevan. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian empiris karena berfokus pada pengumpulan dan analisis data dari sumber langsung di lapangan. Studi ini juga meninjau berbagai regulasi seperti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Kompilasi Hukum Islam, serta Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) sebagai dasar hukum untuk pemenuhan hak istri. Putusan-putusan pengadilan digunakan sebagai ilustrasi untuk memperkaya analisis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakim mempertimbangkan kondisi kesehatan mental istri sebagai faktor penting dalam memutus perkara. Dalam proses persidangan, istri yang mengalami gangguan jiwa diwakili oleh pengampu sebagai bentuk perlindungan hukum terhadap pihak yang dianggap tidak mampu menjalankan hak dan kewajibannya secara mandiri. Hak-hak istri, seperti nafkah selama masa iddah dan mahar yang belum dilunasi, tetap menjadi perhatian utama hakim. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hakim memiliki peran penting dalam melindungi hak-hak istri yang mengalami gangguan jiwa.

ABSTRACT

Divorce is a legal event that not only changes marital status but also has consequences for fulfilling the rights of the divorced parties. In cases of divorce initiated by a husband, judges must pay close attention to protecting the wife's rights, especially if the wife suffers from a mental disorder that affects her ability to fulfill her rights and obligations. This condition demands an active role from judges to ensure justice and legal protection in accordance with Islamic legal principles and applicable regulations. This study aims to analyze the perspectives of judges at the Religious Court of Kediri City regarding the rights of wives with mental disorders in cerai talak cases. The complexity of this issue lies in ensuring legal protection for wives with mental limitations, particularly in fulfilling their rights post-divorce.

This research employs a qualitative juridical approach with a descriptive method, as the data in this study were obtained through interviews with judges, analysis of legal documents, and relevant literature reviews. This study falls under the category of empirical research as it focuses on collecting and analyzing data from direct field sources. The study also examines various regulations, such as Law Number 1 of 1974 on Marriage, the Compilation of Islamic Law, and Circular Letters of the Supreme Court (SEMA), as the legal basis for fulfilling the wife's rights. Court rulings are used as illustrations to enrich the analysis.

The findings reveal that judges consider the wife's mental health condition as a critical factor in adjudicating cases. During the trial process, wives with mental disorders are represented by guardians to provide legal protection for individuals deemed incapable of fulfilling their rights and obligations independently. The rights of the wife, such as maintenance during the iddah period and unpaid dowry, remain a primary concern for the judges. The study concludes that judges play a pivotal role in safeguarding the rights of wives with mental disorders.

مستخلص البحث

الطلاق هو حدث قانوني لا يقتصر تأثيره على تغيير حالة الزواج فقط، بل يحمل أيضًا تبعات تتعلق بتلبية حقوق الأطراف المطلقة. وفي قضايا الطلاق بطلب الزوج (الطلاق بالإرادة المنفردة)، هناك عدة أمور يجب على القاضي مراعاتها لحماية حقوق الزوجة، خاصة إذا كانت الزوجة تعاني من اضطرابات عقلية تؤثر على قدرتها على أداء حقوقها وواجباتها. تتطلب هذه الحالة دورًا نشطًا من القاضي لضمان تحقيق العدالة وتوفير الحماية القانونية بما يتماشى مع مبادئ الشريعة الإسلامية والأنظمة القانونية السارية. تهدف هذه الدراسة إلى تحليل رؤية قضاة المحكمة الدينية بمدينة كيديري تجاه حقوق الزوجة التي تعاني من اضطرابات عقلية في قضايا الطلاق بطلب الزوج. وتتجلى تعقيدات هذه القضية في السعي لضمان الحماية القانونية للزوجة التي تعاني من محدودية عقلية، خاصة فيما يتعلق بتلبية حقوقها بعد صدور حكم الطلاق.

اعتمدت هذه الدراسة منهجًا نوعيًا قانونيًا باستخدام الطريقة الوصفية. تم جمع البيانات من خلال المقابلات مع القضاة، وتحليل الوثائق القانونية، ومراجعة الأدبيات ذات الصلة. كما تناولت الدراسة مراجعة مختلف اللوائح مثل القانون رقم ١ لسنة ١٩٧٤ بشأن الزواج، ومجموعة الأحكام الشرعية الإسلامية، والمنشورات الدورية للمحكمة العليا كمرجع قانوني لضمان حقوق الزوجة. وتم الاستعانة بالأحكام القضائية كأمثلة لإثراء التحليل.

أظهرت نتائج الدراسة أن القضاة يأخذون بعين الاعتبار الحالة العقلية للزوجة كعامل مهم في إصدار الأحكام. وفي جلسات المحكمة، تُمثل الزوجة التي تعاني من اضطرابات عقلية من قبل وصي قانوني كإجراء لحمايتها باعتبارها طرفًا غير قادر على أداء حقوقه وواجباته بشكل مستقل. تُعتبر حقوق الزوجة، مثل النفقة خلال فترة العدة والمهر غير المسدد، من الأولويات التي يركز عليها القضاة. خلصت الدراسة إلى أن القاضي يلعب دورًا رئيسيًا في حماية حقوق الزوجة التي تعاني من اضطرابات عقلية

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Zulaicha, Siti
Keywords: perceraian; gangguan jiwa; pandangan hakim; hak-hak istri
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012807 Talaq & Khulu' (Divorce)
18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012827 Islamic Court & Civil Procedure
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Nabilah Al Malikah
Date Deposited: 28 Feb 2025 15:37
Last Modified: 28 Feb 2025 15:37
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/73324

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item