Responsive Banner

Pandangan Muslimat dan ‘Aisyiyah terhadap fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang pengharaman jilboobs: Studi di Kabupaten Jombang

Zahroh, Fatimatuz (2015) Pandangan Muslimat dan ‘Aisyiyah terhadap fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang pengharaman jilboobs: Studi di Kabupaten Jombang. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
11210117.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB) | Preview

Abstract

INDONESIA:

Jilbab merupakan hal yang urgent bagi setiap muslimah. Karena tingkat urgensi tersebut, berjilbab pun diatur dalam al-Qur’an bahwa menutup aurat bagi seorang muslimah adalah wajib. Akhir-akhir ini muncul fenomena para perempuan yang mengenakan jilbab namun masih memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh, fenomena tersebut dikenal dengan istilah jilboobs. Hal ini mendorong Majelis Ulama Indonesia untuk mengeluarkan fatwa bahwa berjilbab non-syar’i adalah haram. Munculnya fatwa MUI tersebut menarik peneliti untuk mengkaji fenomena jilboobs. Muslimat dan ‘Aisyiyah sebagai Badan Otonom organisasi Islam Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah juga menganggap penting fenomena ini, karena hal ini berkaitan erat antara permasalahan perempuan dan hukum Islam.

Penelitian ini bertujuan, pertama untuk memahami pandangan Muslimat dan ‘Aisyiyah Jombang tentang fenomena Jilboobs, kedua untuk memahami reaksi dari Muslimat dan ‘Aisyiyah terhadap fatwa haram MUI tentang jilboobs, dan ketiga untuk memahami sikap Muslimat dan ‘Aisyiyah terhadap fenomena Jilboobs. Penelitian ini termasuk penelitian empiris atau field research. Pendekatan yang digunakan oleh peneliti adalah pendekatan kualitatif. Sedangkan metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Adapun metode analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif kualitatif.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kedua badan otonom perempuan Islam, yaitu Muslimat dan ‘Aisyiyah memiliki banyak perbedaan dalam memandang, merespon dan menyikapi fenomena jilboobs tersebut. Pertama, Muslimat memandang bahwa penggunaan jilbab non-syar’i bukanlah sebuah pelanggaran terhadap syari’at, karena banyak faktor yang melatarbelakangi seseorang dalam berjilbab. Sedangngkan ‘Aisyiyah memandang bahwa jilboobs merupakan pelanggaran terhadap syari’at, karena perintah untuk berjilbab secara baik adalah perintah Allah SWT. Kedua, Muslimat tidak sejalan dengan fatwa MUI yang mengharamkan jilboobs, sedangkan ‘Aisyiyah mendukung keputusan MUI untuk mengeluarkan fatwa tersebut. Ketiga, Muslimat menyikapi fenomena ini dengan menggunakan pendekatan persuasif yang bersifat kekeluargaan. Sedangkan ‘Aisyiyah menyikapinya dengan cara dakwah secara ucapan dan perbuatan, mengingat dakwah adalah kewajiban bagi setiap muslim.

ENGLISH:

Hijab is an urgent thing for every Muslim. Because of the urgency level, veiling was set in the Qur'an that close the genitals for a Muslim is mandatory. Lately appear the phenomenon of women who wear the hijab, but still show the contours of the body, the phenomenon known as jilboobs. It encourages the Indonesian Ulema Council to issue fatwas that veiling non-syar'i is forbidden. The emergence of the MUI fatwa attract researchers to examine the phenomenon of jilboobs. Muslimat and 'Aisyiyah as an Autonomous Agency for Islamic organization Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah also attach importance of this phenomenon, because it is closely related to the issues of women and Islamic law.

The aim of this study, the first to understand the views Moslem and 'Aisyiyah Jombang about Jilboobs phenomenon, both to understand the reactions of the Moslem and' Aisyiyah against MUI fatwa on jilboobs., And the third to understand the attitude of Moslem and 'Aisyiyah against Jilboobs phenomenon. This research includes empirical research or field research. The approach used by the researchers is a qualitative approach. While the method of data collection was done by interview, observation, and documentation. The method of data analysis used is descriptive qualitative data analysis.

The results showed that both female Muslim autonomous bodies, namely the Moslem and 'Aisyiyah have many differences in viewing, responding to and addressing the jilboobs phenomenon. First, the Moslem view that the use of non-shar'i hijab is not a violation of the Shari'ah, because many factors behind someone in a veiled. Sedangngkan 'Aisyiyah jilboobs considers that a violation of the Shari'ah, because the command to properly veiled is the command of Allah. Secondly, Muslimat not in line with the MUI fatwa that forbids jilboobs, while 'Aisyiyah support MUI's decision to issue the fatwa. Third, Muslimat addressing this phenomenon by using an approach that is familial pesrsuasif. While the 'Aisyiyah react by way of propaganda in word and deed, considering the mission is a duty for every Muslim.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Sumbulah, Umi
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDSumbulah, UmiUNSPECIFIED
Keywords: Muslimat; ‘Aisiyah; Fatwa MUI; Jilboobs
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Zulaikha Zulaikha
Date Deposited: 24 Jul 2017 15:32
Last Modified: 24 Jul 2017 15:32
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/7187

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item