Pergeseran makna kafa’ah dalam pernikahan: Sebuah kajian sosiologis terhadap kafa’ah dalam bingkai pandangan tokoh agama dan aktifis kesetaraan gender di Kota Malang

Humaidi, Humaidi (2011) Pergeseran makna kafa’ah dalam pernikahan: Sebuah kajian sosiologis terhadap kafa’ah dalam bingkai pandangan tokoh agama dan aktifis kesetaraan gender di Kota Malang. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
09870005.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (3MB) | Preview

Abstract

INDONESIA:

Masyarakat Islam bukan masyarakat rasialis, bukan nasionalis, bukan sektarian, bukan proletar nasionalis dan bukan pula masyarakat primordial, tidak membedakan antara kulit putih dan kulit hitam, atau antara daerah timur dan daerah barat. Namun masyarakat Islam merupakan masyarakat yang inklusif, dinamis, yang terbuka untuk semua manusia, tanpa memandang ras, warna kulit, atau bahasa. hal itu dimaksudkan agar antara yang satu dengan yang lain saling mengenal dan saling membantu, karena menurut Tuhan hanya ada satu standardisasi untuk mengukur keutamaan hambanya, yaitu ketakwaan dan ketaatan kepada Allah Swt. Pembentukan keluarga sakinah ini tidak akan mungkin terbentuk atau terbangun tanpa adanya keseimbangan dan kecocokan serta atas dasar kebaikan, cinta, dan kasih sayang antara calon suami dan istri. itu sebabnya dalam literatur fiqih kafa’ah (kesetaraan, keseimbangan) menjadi persoalan dan pembahasan yang menarik dan urgen untuk dikaji. Dalam sebagian masyarakat, kafaah masih banyak dimaknai haruslah sekufu atau sepadan dalam hal segalanya, semisal apabila dari golongan orang kaya, maka harus mendapatkan yang kaya, apabila dari keturunan kiyai, maka mencari pasangannya dari keturunan kiyai juga, apabila dari kalangan NU maka dapatnya dari NU juga, Muhammadiyah dapatnya dengan Muhammadiyah juga dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan Ikatan pernikahan sebagaimana tertuang dalam UU Perkawinan No. 1/1974 yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa. Sehingga diharapkan dapat tercipta sebuah keluarga yang “amanat”, yang akan melahirkan generasi yang waladun shalihun yad’u lahu, generasi Rabbi Radhiya, generasi ‘Abdan Syakura dan generasi yang Qurrata A’yun, yang memiliki kesadaran fitriyah serta bertanggung jawab atas dirinya dan masyarakatnya. Maka kemudian dibuatlah suatu rumusan masalah bagaimanakah pergeseran makna yang terjadi dalam masyarakat Kota Malang berikut faktor-faktornya dalam pandangan Tokoh Agama dan Aktifis Kesetaraan Gender dalam kajian sosiologis, karena merekalah yang lebih dominan memberikan pemahaman dan penjelasan terkait doktrinal dan sosialisasi dalam tiap-tiap golongan masing-masing. faktor tidak se-kufunya seseorang terjadi juga akibat karena faktor perbedaan pandangan politik, yang menyebabkan unsur-unsur keagamaan menjadi subordinat, semisal makna li-diniha sendiri tidaklah semata bermakna agama Islam saja namun juga merembet pada pemahaman ideologinya, kemudian keturunan, yang maknanya bergeser dan berkembang menjadi kesukuan, atau juga pada stratifikasi sosial, dan lain sebagainya.

Adapun dalam penelitian ini peneliti menggunakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologis, yang tentunya lebih menekankan kualitas pada pengertian, konsep, nilai-nilai yang melekat di dalamnya.dengan melihat gejala-gejala social yang berkembang, baik dari prilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain sebagainya. Salah satunya bahwa kebahagiaan dan keberlangsungan hidup dalam berumah tangga itu tidaklah lepas atas dasar persetujuan (muwafakat) dari anak (pasangan) yang bersangkutan.

Dari hasil penelitian ini, bahwa di sana ditemukan beberapa persepsi dan pandangan yang berbeda, yang kemudian peneliti membagi pandangan itu ke dalam beberapa tipologi dan lapisan, tidaklah bisa dipungkiri bahwa penyebab pergeseran yang terjadi dalam ranah sosial disebabkan beberapa faktor, yang kemudian peneliti mencoba merefleksikan dalam beberapa teori yang telah dikemukakan dengan menggunakan teori besar, yakni teori structural- fungsionalis dan teori fragmatisme, dalam melihat dan menganalisa harmonisitas, stabilitas dan dan keseimbangan (equilibrum) yang terjadi dalam hubungan rumah tangga.Peneliti Memandang sebagaimana dikemukakan oleh teori fragmatisme yakni, bahwa dalam pernikahan dibutuhkan keserasaan bukan semata keserasian saja.karena serasi belum tentu serasa, tapi kalau sudah serasa maka sekat-sekat akan menjadi hilang dan menjadilah pasangan yang serasi.

ENGLISH:

Islamic society is not racist society, not a nationalist, not sectarian, not nationalist And proletarian nor primordial society, does not distinguish between whites and blacks, or between the eastern and western regions. But the Islamic society is a society inclusive, dynamic, open to all men, without regard to race, color, or language. It was intended to be from each other to each other and help each other, because according to The God (Allah) there is only one measure of standardization for the primacy of his servant, that piety and obedience to Allah. Sakinah family formation will not be formed or waked up without a balance, and suitability as well as on the basis of goodness, love and affection between husband and wife. that's why in the fiqh literature, kafa'ah (equality, balance) be a challenging and exciting and urgent discussions to assess. In some communities, there are still many equality (kafaah) or equivalent must be interpreted in terms of everything, such as when the class of rich people, then it must get rich when the chaplain of the seed, then look for a partner of descent chaplain also, when from among the Community by the NU then look for NU also, Community by the Muhammadiyah than look for Muhammadiyah also and so forth.

In connection with the marriage bond as set forth in Law Constitution of Marriage, No. 1 / 1974 which aims to establish a happy and eternal families based on belief in one God. That is expected to create a family that "mandate/ commission", which will give birth to generations waladun shalihun yad'u lahu (a good children ), Rabbi Radhiya generation, the generation of 'Abdan Syakura and Qurrata A'yun generation, which has personal awareness and responsibility for them selves and society . Then later made a formulation of the problem how the meaning shifts that occur in Malang society following the factors in the view of Religious Leaders and Gender Equality Activists in sociological studies, as they are more dominant provide insight and explanations related to doctrinal and socialization within each respective of group/ communities. The factories not as equal of someone happens also result, because of differences in political views, which led to the religious elements of a subordinate, such as the meaning of li-diniha own religion of Islam is not merely meaningless but also spread on the understanding of its ideology, then descent, whose meaning shifts and developed into a tribal, or also on social stratification, and so forth.

As in this study researchers used a qualitative descriptive study with a sociological approach, which is certainly more emphasis on the quality of understanding, concepts, values inherent in notice any symptoms of an evolving social, both of behavior, perception, motivation, action and so forth. One of them that happiness and survival in a marriage that is not separated on the basis of approval (muwafakat) of Husband and wife (the couple) are concerned.

From these results, that there was found a few different perceptions and views, which then divides researchers that view into several typologies and layers, it is undeniable that the cause of the shift that occurred in the social domain due to several factors, the researchers then tried to reflect in several theories have been put forward by the Big theory, firstly is structural-functionalist theory and secondly is the theory of fragmatisme, in the view and analyze harmonisity, and stability and balance (equilibrum) that occur in your relationship The Resercher see as suggested by theory fragmatisme namely, that in marital harmony is not only required allegationally because matching is not necessarily feel like, but when it seemed the barriers will be lost and becomes for a matching pair.

Item Type: Thesis (Masters)
Supervisor: Syaiban, Kasuwi and Mufidah, Mufidah
Keywords: Kafaah; Makna; Tokoh; Pernikahan; Equality; Shifting Meaning; Personage; Wedding
Departement: Sekolah Pascasarjana > Program Studi Magister al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Imam Rohmanu
Date Deposited: 24 Jul 2017 09:00
Last Modified: 24 Jul 2017 09:00
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/7140

Actions (login required)

View Item View Item