Ihdad bagi perempuan dalam Kompilasi Hukum Islam: Sebuah analisis gender

Shokhib, Muhammad Yalis (2010) Ihdad bagi perempuan dalam Kompilasi Hukum Islam: Sebuah analisis gender. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
0621010.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB) | Preview

Abstract

Perempuan (isteri) memiliki kewajiban melaksanakan iddah dan ihdad, karena ditinggal mati oleh suaminya, selama empat bulan sepuluh hari. Hal ini merupakan suatu kondisi di mana isteri harus menahan diri atau berkabung. Selama masa itu, isteri hendaknya menyatakan dukanya dengan tidak berhias, tidak bercelak mata dan tidak keluar rumah. Hal ini bertujuan untuk menghormati kematian suami. Apabila masa iddah telah habis, maka tidak ada larangan bagi perempuan untuk berhias diri, melakukan pinangan, bahkan melangsungkan akad nikah.

Penelitian ini bertujuan, untuk memahami ihdad bagi perempuan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), dengan menggunakan pisau analisis gender. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui kontektualisasi ‘urf ihdad perempuan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), karena ‘urf atau adat masyarakat pada dewasa ini, berbeda dengan aktivitas masyarakat di saat al- Qur’an serta al-Sunnah turun sebagai sumber hukum tertinggi.

Metode penelitian yang digunakan adalah (library research), yaitu penelitian yang diarahkan dan difokuskan terhadap penelitian bahan-bahan pustaka, yang ada kaitannya dengan masalah iddah dan ihdad. Sumber data yang diperoleh adalah dari sumber data primer, sekunder serta tersier, dengan menelaah Kompilasi Hukum Islam (KHI), khususnya yang memperbincangkan tentang ihdad bagi perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya, serta buku-buku fiqh dan analisis gender dan Islam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketentuan tentang ihdad dalam pasal 170, BAB XIX, poin satu dan dua KHI dapat dinyatakan tidak bias gender. Hal ini karena ketentuan masa berkabung (ihdad), berlaku tidak hanya bagi perempuan tetapi juga bagi laki-laki, meskipun dengan bentuk atau cara yang berbeda. Penulis menggunakan teori ‘urf yang berkesesuaian dengan teori limitasi Shahrur dengan melihat kebiasaan masyarakat pada umumnya, hal ini dapat dikatakan tidak bertentangan dengan ketentuan nash. Dalam hal ini yang perlu digarisbawahi bahwa redaksi ihdad kurang dari ketentuan teks al-Qur’an, di mana selama berkabung perempuan tidak boleh bersolek, bercelak mata dan keluar rumah. Maka pelaksanan ihdad yang tidak sampai batas maksimal (empat bulan sepuluh hari), dengan catatan tidak menimbulkan madzarat dan fitnah.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Sumbulah, Umi
Keywords: Ihdad; Kompilasi Hukum Islam; Gender
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Imam Rohmanu
Date Deposited: 06 Jun 2017 07:30
Last Modified: 06 Jun 2017 07:30
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/7041

Actions (login required)

View Item View Item