Responsive Banner

Niet Ontvankelijke Verklaard terhadap perkara dispensasi kawin ditinjau dari kepastian hukum: Studi putusan nomor.79/Pdt.P/2023/PA.Smi

Desviani, Salma (2024) Niet Ontvankelijke Verklaard terhadap perkara dispensasi kawin ditinjau dari kepastian hukum: Studi putusan nomor.79/Pdt.P/2023/PA.Smi. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
200201110236.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB) | Preview

Abstract

ABSTRAK

Dalam sistem hukum Indonesia, dispensasi kawin merupakan prosedur hukum yang memungkinkan pasangan di bawah umur untuk menikah dengan izin dari pengadilan. Proses ini diatur untuk melindungi hak-hak anak di bawah umur dan memastikan bahwa pernikahan yang terjadi sesuai dengan ketentuan hukum dan prinsip perlindungan anak. Namun, ada kasus di mana pengadilan memutuskan perkara dispensasi kawin dengan putusan "niet ontvankelijk verklaard" (tidak dapat diterima).

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hukum hakim yang menyebabkan suatu perkara dispensasi nikah dinyatakan "niet ontvankelijk verklaard" oleh pengadilan, serta upaya hukum yang dapat dilakukan oleh Pemohon dalam menyikapi putusan NO. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan kasus. Data diperoleh dari putusan pengadilan yang memutus perkara dispensasi nikah dengan "niet ontvankelijk verklaard" dan dianalisis secara kuantitatif untuk mengidentifikasi alasan-alasan hukum yang mendasari putusan tersebut serta apakah putusan tersebut memiliki kepastian hukum dengan konsep kepastian hukum yang dipaparkan oleh Gustav Redbruch.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkara dispensasi nikah dapat dinyatakan "niet ontvankelijk verklaard" oleh pengadilan jika terdapat kecacatan sayarat formil dan ketidakcocokan alasan permohonan dengan ketentuan hukum yang berlaku. Dalam menanggapi putusan tidak dapat diterima maka ada 2 upaya yang dapat dilakukan oleh pemohon yakni; mengajukan perkaranya kembali atau mengajukan upaya banding atas ketidak puasan atas putusan tersebut. Penulis berpendapat bahwa dalam perkara ini pemohon dapat melakukan kedua upaya tersebut namun, jika memang pemohon tidak puas akan putusan pengadilan tersebut maka peneliti mengarahkan bahwa pemohon bisa mengajukan upaya banding dari peradilan tingkat pertama.Putusan "niet ontvankelijk verklaard" dalam perkara dispensasi kawin merupakan upaya pengadilan untuk memastikan bahwa prosedur hukum yang berlaku dipatuhi dan bahwa perlindungan terhadap hak anak di bawah umur dijunjung tinggi. Putusan ini menekankan pentingnya pemohon memenuhi semua persyaratan formal dan substantif agar permohonan dapat diterima dan dipertimbangkan secara sah.

ABSTRACT

In the Indonesian legal system, marriage dispensation is a legal procedure that allows underage couples to marry with permission from the court. This process is set up to protect the rights of minors and ensure that marriages that take place are in accordance with legal provisions and child protection principles. However, there are cases where the court decided the case of marriage dispensation with the decision "niet ontvankelijk verklaard" (inadmissible).

This study aims to analyze the judge's legal considerations that cause a marriage dispensation case to be declared "niet ontvankelijk verklaard" by the court, as well as legal remedies that can be taken by the Applicant in responding to the decision NO. This research uses normative juridical methods with a case approach. Data were obtained from court decisions that decided marriage dispensation cases with "niet ontvankelijk verklaard" and were analyzed qualitatively to identify the legal reasons underlying the decision and whether the decision had legal certainty with the concept of legal certainty presented by Gustav Redbruch.
The results showed that a marriage dispensation case can be declared "niet ontvankelijk verklaard" by the court if there is a formal requirement defect and incompatibility of the reasons for the application with applicable legal provisions.

In responding to the inadmissible decision, there are 2 efforts that can be made by the applicant, namely; refile the case or appeal dissatisfaction with the ruling. The author argues that in this case the applicant is better to refile his case in the same competence, for example in the case of marriage itsbat, because if forced to re-apply for marriage dispensation, this case will get the same determination because of Nebis In Idem. The "niet ontvankelijk verklaard" ruling in the marriage dispensation case is an attempt by the court to ensure that applicable legal procedures are followed and that the protection of the rights of minors is upheld. This ruling emphasizes the importance of the applicant meeting all formal and substantive requirements for the application to be validly accepted and considered.

مستخلص البحث

في النظام القانوني الإندونيسي، يُعدّ الاستغناء عن الزواج إجراءً قانونيًا يسمح للأزواج القاصرين بالزواج بإذن من المحكمة. تم وضع هذه العملية لحماية حقوق القُصّر وضمان أن يكون الزواج متوافقًا مع الأحكام القانونية ومبادئ حماية الطفل. ومع ذلك، هناك حالات تبت فيها المحكمة في قضية الإعفاء من الزواج بقرار "niet ontvankelijk verklaard" (غير مقبول)

يهدف هذا البحث إلى تحليل الاعتبارات القانونية للقضاة التي تسببت في إعلان المحكمة في قضية إلغاء الزواج "niet ontvankelijk verklaard"، وكذلك سبل الانتصاف القانونية التي يمكن أن يتخذها مقدم الطلب ردًا على قرار الرفض. يستخدم هذا البحث منهجًا قضائيًا معياريًا مع نهج القضية. تم الحصول على البيانات من قرارات المحكمة التي بتت في قضايا الإعفاء من الزواج بـ "niet ontvankelijk verklaard" وتحليلها نوعيًا لتحديد الأسباب القانونية الكامنة وراء القرار وما إذا كان القرار يتمتع باليقين القانوني بمفهوم اليقين القانوني الذي وصفه غوستاف ريدبروش

أظهرت النتائج أن المحكمة يمكن أن تعلن المحكمة أن قضية الإعفاء من الزواج "غير مقبولة" إذا كانت هناك عيوب في المتطلبات الشكلية وعدم توافق أسباب الطلب مع الأحكام القانونية المعمول بها. وردًا على قرار عدم المقبولية، هناك مسعيان يمكن لمقدم الطلب القيام بهما، وهما: إعادة رفع الدعوى أو تقديم استئناف ضد القرار. ويرى صاحب البلاغ أنه في هذه الحالة يكون من الأفضل لمقدم الطلب في هذه الحالة إعادة رفع الدعوى في اختصاص يتماشى مع الأحكام القانونية السارية، كما في حالة نكاح المتعة، لأنه إذا اضطر إلى إعادة تقديم طلب إعفاء من الزواج، فإن هذه القضية ستحصل على نفس القرار لأن نيبس في Idem. إن قرار "niet onttvankelijk verklaard" في قضية إعفاء من الزواج هو محاولة من المحكمة لضمان اتباع الإجراءات القانونية المعمول بها وحماية حقوق القاصرين. يؤكد هذا القرار على أهمية أن يستوفي مقدم الطلب جميع المتطلبات الشكلية والموضوعية حتى يتم استلام الطلب والنظر فيه بشكل صحيح

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Mustafa, Ahsin Dinal
Keywords: Niet Ontvankelijke Verklaard; Dispensasi Kawin; Kepastian Hukum; Niet Ontvankelijke Verklaard; marriage dispensation; Legal certainty; أعلن أنه غير مقبول ; ديسبينساسي كاوين ; كيباستيان هوكوم;
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180113 Family Law
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Salma Desviani
Date Deposited: 08 Jul 2024 15:13
Last Modified: 08 Jul 2024 15:13
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/65863

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item