Responsive Banner

Urgensi pencatatan perkawinan pada kelompok masyarakat pindah agama di Desa Purwoagung

Baihaqi, Mukhammad Rizal (2024) Urgensi pencatatan perkawinan pada kelompok masyarakat pindah agama di Desa Purwoagung. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
200201110046.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB) | Preview

Abstract

ABSTRAK

Desa Purwoagung merupakan desa yang memiliki keunikan tersendiri yaitu adanya sekelompok masyarakat disekitar masjid Darussalam yang melakukan praktik pindah agama. Pindah agama dilakukan dari agama Hindu keagama Islam. Keinginan mereka pindah agama murni karena diri sendiri bukan karena paksaan dari siapapun.

Setelah mereka mengucapkan dua kalimat syahadat, lantas bagi mereka yang telah menikah maka akan dilakukan akad baru yang sesuai dengan syariat Islam atau yang sering dikenal dengan istilah bangun nikah. bangun nikah perlu dilakukan karena mereka yang beragama Hindu dan telah menikah menurut ketentuan agama mereka kemudian pindah agama, maka secara otomatis ketentuanya juga berubah. Tidak hanya ketentuan agama saja yang berpindah, akan tetapi ketentuan administratif juga ikut berubah. Terutama dalam hal pencatatan perkawinan, yang dahulunya pernikahan mereka dicatatkan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (DISDUKCAPIL) ketika mereka sudah beragama Islam maka pencatatan perkawinannya di catatkan di Kantor Urusan Agama (KUA). Akan tetapi dari semua keluarga yang masuk islam dan telah melaksanakan akad bangun nikah mereka semua belum mencatatkan kembali perkawinannya di Kantor urusan Agama (KUA).

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang menyebabkan kelompok masyarakat pindah agama di desa Purwoagung tidak mencatatkan perkawinan KUA adalah kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya pencatatan perkawinan, kemudian faktor usia, faktor pendidikan dan ekonomi. Dari beberapa faktor tersebut menyebabkan masyarakat lebih memilih untuk tidak mencatatkan perkawinannya di KUA. Kemudian implikasi hukum yang timbul akibat tidak mencatatkan perkawinan adalah perkawinan tersebut dianggap tidak sah dan tidak diakui oleh negara, Bagi seorang perempuan tidak dianggap sebagai istri sah dimata hukum. Seorang istri tersebut tidak mendapatkan bagian harta warisan dan harta Gono-Gini. Bagi seorang anak akan sulit untuk mendapatkan Akat Kelahiran dan tidak berhak atas harta warisan jika salah satu atau kedua orang tuanya meninggal dunia. Bagi seorang suami jika terjadi perceraian maka ia tidak bisa mengajukan status atau hak asuh anak, mengingat anak yang lahir dari perkawinan tidak dicatatkan menurut negara nasabnya hanya bersambung kepada sang ibu saja.

ABSTRACT

Purwoagung village is unique in that there is a group of people around the Darussalam mosque who have converted from Hinduism to Islam.exclamation Their conversion was purely of their own volition, not under any coercion.

After reciting the two shahadahs, those who are already married will undergo a new akad (marriage contract) in accordance with Islamic law, which is often referred to as "bangun nikah" (building a marriage). Bangun nikah is necessary because those who were Hindu and married according to their religion then convert to Islam, their legal status automatically changes. Not only religious provisions change, but also administrative provisions. Especially in terms of marriage registration, which was previously registered at the Civil Registry and Population Records Service (DISDUKCAPIL) when they were Hindu, then after converting to Islam, their marriage registration is registered at the Office of Religious Affairs (KUA). However, of all the families who converted to Islam and have carried out the bangun nikah ceremony, none of them have yet re-registered their marriage at the KUA.

The results of this study show that the factors that cause the group of converts in Purwoagung village to not register their marriage at KUA are the lack of awareness and understanding of the importance of marriage registration, then age, education and economic factors. From these factors, people prefer not to register their marriage at KUA. Then the legal implications that arise from not registering a marriage are that the marriage is considered invalid and not recognized by the state. For a woman, she is not considered a legal wife in the eyes of the law. The wife does not get a share of the inheritance and Gono-Gini property. For a child, it will be difficult to obtain a Birth Certificate and is not entitled to inheritance if one or both parents die. For a husband, if a divorce occurs, he cannot file for status or child custody, considering that children born from unregistered marriages according to the state only have a lineage that is connected to the mother.

مستخلص البحث

تتميز قرية بوروونج بوجود مجتمع فريد من نوعه حول مسجد دار السلام يمارس أفراده تغيير الدين من الهندوسية إلى الإسلام. وقد جاء قرارهم بالتغيير طواعية دون أي إكراه من أحد.

بعد نطق الشهادتين، يخضع المتزوجون الجدد لعقد جديد يتوافق مع الشريعة الإسلامية، يُعرف عادة باسم "bangun nikah" (بناء الزواج). تُعد هذه الخطوة ضرورية لأن زواجهم السابق وفقًا للقانون الهندوسي لم يعد ساريًا بعد اعتناقهم الإسلام. كما يتطلب تغيير الدين تغييرًا في الإجراءات الإدارية، خاصة فيما يتعلق بتسجيل الزواج. فزواجهم المسجل سابقًا في دائرة الأحوال المدنية والسجلات السكانية (DISDUKCAPIL) يجب الآن تسجيله في مكتب الشؤون الدينية (KUA). ومع ذلك، لم تقم أي من الأسر التي اعتنقت الإسلام وأجرت مراسم bangun nikah بإعادة تسجيل زواجها في KUA.

تكشف نتائج الدراسة أن العوامل التي تمنع مجموعة المرتدين الجدد في قرية بوروونج من تسجيل زواجهم في KUA تشمل: قلة الوعي والفهم لأهمية تسجيل الزواج. العوامل العمرية. العوامل التعليمية والاقتصادية. تدفع هذه العوامل الأفراد إلى إعطاء الأولوية لأمور أخرى بدلاً من تسجيل زواجهم في KUA. تشمل الآثار القانونية المترتبة على عدم تسجيل الزواج ما يلي: يُعتبر الزواج غير صالح وغير معترف به من قبل الدولة. لا تُعتبر المرأة زوجة شرعية في نظر القانون. تفقد الزوجة حقها في الميراث والممتلكات الزوجية المشتركة (gono-gini). يواجه الأطفال صعوبة في الحصول على شهادات الميلاد ولا يحق لهم الميراث إذا توفي أحد الوالدين أو كلاهما. في حالة الطلاق، لا يمكن للزوج التقدم بطلب للحصول على وضع أو حضانة الطفل، نظرًا لأن نسب الطفل، وفقًا للزواج غير المسجل، ينتمي إلى الأم فقط

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Arifah, Risma Nur
Keywords: Pindah Agama; Pencatatan Perkawinan; Implikasi Hukum; Conversion; Marriage Registration; Legal Implications; تغيير الدين; تسجيل الزواج; الآثار القانونية
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012801 Pernikahan (Secara Umum)
18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012829 Islamic Family Issues & Local Tradition
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Baihaqi Mukhammad Rizal
Date Deposited: 03 Jul 2024 15:35
Last Modified: 03 Jul 2024 15:35
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/64973

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item