Ainina, Faidyah Nur (2024) Konsep Marital Rape menurut perundang-undangan di Indonesia. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
|
Text (Fulltext)
200201110064.pdf - Accepted Version Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives. Download (1MB) | Preview |
Abstract
ABSTRAK
Kekerasan seksual merupakan salah jenis kekerasan yang ada dalam lingkup rumah tangga, termasuk di dalamnya yaitu marital rape. Belum ada peraturan yang mengatur marital rape secara spesifik, akan tetapi secara implisit diatur pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Peraturan-peraturan tersebut memiliki korelasi satu sama lain, meskipun marital rape atau perkosaan dalam perkawinan tidak disebutkan secara eksplisit.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian hukum normatif karena data dalam penelitian ini menggunakan bahan kepustakaan, Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan konseptual dengan jenis data yang digunakan meliputi bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk menafsirkan sistematis antar 3 peraturan, yaitu UU PKDRT, UU TPKS, dan KUHP 2023, serta melihat bagaimana implementasi kasus marital rape diputus dalam putusan pengadilan.
Hasil dari penelitian yang telah dirumuskan dalam rumusan masalah adalah: pertama, istilah marital rape masih tergolong asing di masyarakat Indonesia akan tetapi peraturan mengenai marital rape ini sudah ada meskipun tidak disebut secara eksplisit dalam perundang-undangan. Peraturan-peraturan tersebut saling berkorelasi satu sama lain. Namun tetap saja, peraturan yang mengatur tentang marital rape ini sangatlah perlu dan penting, karena beberapa alasan yang diantaranya; pengakuan legal dan kejelasan hukum, perlindungan hak asasi manusia, keterbatasan kesadaran masyarakat serta menghapus mitos dan stigma yang ada di Masyarakat. Kedua, dalam kasus-kasus di pengadilan, hanya ditemukan beberapa kasus tentang marital rape maupun kekerasan seksual dalam lingkup rumah tangga. Adapun contoh kasus dalam pengadilan tersebut ada pada Putusan Nomor 245/Pid.Sus/2017/PN.Tte dan Putusan Nomor 129/Pid.Sus/2022/PN.Soe. Pada Putusan Nomor 129/Pid.Sus/2022/PN.Soe, majelis hakim memutus perkara sesuai dengan tindakan yang dilakukan Terdakwa, akan tetapi pada Putusan Nomor 245/Pid.Sus/2017/PN.Tte tindakan terdakwa yang seharusnya termasuk dalam tindak kekerasan seksual, diputus oleh majelis hakim bahwa Terdakwa melakukan kekerasan fisik terhadap korban.
ABSTRACT
Sexual violence is one type of violence that exists within the scope of the household, including marital rape. There are no regulations that specifically regulate marital rape, but it is implicitly regulated in Law Number 23 of 2004 concerning the Elimination of Domestic Violence, Law Number 12 of 2022 concerning Criminal Acts of Sexual Violence and Law Number 1 of 2023 concerning the Criminal Code. These regulations have a correlation with each other, although marital rape is not explicitly mentioned.
This research is a type of normative legal research because the data in this research uses library materials, the approach used in this research is a conceptual approach with the type of data used including primary legal materials and secondary legal materials. The purpose of this research is to interpret systematically between 3 regulations, namely the PKDRT Law, the TPKS Law, and the Criminal Code 2023, and see how the implementation of marital rape cases is decided in court decisions.
The results of the research that have been formulated in the formulation of the problem are: First, the term marital rape is still relatively unfamiliar in Indonesian society but regulations regarding marital rape already exist even though they are not explicitly mentioned in the legislation. These regulations correlate with each other. But still, regulations governing marital rape are very necessary and important, for several reasons including; legal recognition and legal clarity, protection of human rights, limited public awareness and removing myths and stigma that exist in society. Secondly, in court cases, only a few cases of marital rape or sexual violence within the household were found. Examples of cases in the court are Decision No. 245/Pid.Sus/2017/PN.Tte and Decision No. 129/Pid.Sus/2022/PN.Soe. In Decision Number 129/Pid.Sus/2022/PN.Soe, the panel of judges decided the case in accordance with the actions committed by the defendant, however in Decision Number 245/Pid.Sus/2017/PN.Tte the defendant's actions, which should have been included in the act of sexual violence, were decided by the panel of judges that the defendant committed physical violence against the victim.
ملخص البحث
العنف الجنسي هو نوع من العنف داخل الأسرة، بما في ذلك الاغتصاب الزوجي. لا توجد لوائح حتى الآن تنظم بشكل محدد الاغتصاب الزوجي، ولكن يتم تنظيمه ضمنا في القانون رقم 23 لسنة 2004 بشأن القضاء على العنف الأسري، والقانون رقم 12 لسنة 2022 بشأن أفعال العنف الجنسي الجنائية، والقانون رقم 1 لسنة 2023 بشأن قانون العقوبات. . وترتبط هذه الأنظمة ببعضها البعض، على الرغم من عدم ذكر الاغتصاب الزوجي أو الاغتصاب داخل الزواج صراحة.
يعد هذا البحث نوعًا من البحث القانوني المعياري لأن البيانات الواردة في هذا البحث تستخدم مواد مكتبية. والمنهج المستخدم في هذا البحث هو منهج مفاهيمي مع نوع البيانات المستخدمة بما في ذلك المواد القانونية الأولية والمواد القانونية الثانوية. الهدف من هذا البحث هو التفسير المنهجي لثلاثة لوائح، وهي قانون PKDRT، وقانون TPKS، والقانون الجنائي لعام 2023، وكذلك معرفة كيفية تحديد تنفيذ حالات الاغتصاب الزوجي في قرارات المحكمة.
نتائج البحث التي تمت صياغتها في بيان المشكلة هي: أولا، مصطلح الاغتصاب الزوجي لا يزال غريبا نسبيا على المجتمع الإندونيسي، ولكن اللوائح المتعلقة بالاغتصاب الزوجي موجودة بالفعل على الرغم من عدم ذكرها صراحة في التشريع. وترتبط هذه اللوائح مع بعضها البعض. إلا أن الضوابط التي تحكم الاغتصاب الزوجي لا تزال ضرورية ومهمة للغاية، وذلك لعدة أسباب منها؛ الاعتراف القانوني والوضوح القانوني، وحماية حقوق الإنسان، ومحدودية الوعي العام والقضاء على الخرافات والوصم الموجود في المجتمع. ثانيًا، في قضايا المحاكم، لم يتم العثور إلا على عدد قليل من حالات الاغتصاب الزوجي أو العنف الجنسي في الأسرة. المجال الشخصي الذي يرتكبه الأزواج ضد زوجاتهم. من الأمثلة على القضايا المعروضة على هذه المحكمة القرار رقم 245/Pid.Sus/2017/PN.Tte والقرار رقم 129/Pid.Sus/2022/PN.Soe. في القرار رقم 129/Pid.Sus/2022/PN.Soe، بتت هيئة القضاة في القضية وفقًا للإجراءات التي قام بها المدعى عليه، ولكن في القرار رقم 245/Pid.Sus/2017/PN.Tte تصرفات المدعى عليه كان ينبغي أن يكون متضمنًا في فعل عنف جنسي، فقد قررت هيئة القضاة أن المدعى عليه ارتكب عنفًا جسديًا ضد الضحية.
Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
---|---|
Supervisor: | Nasyi'ah, Iffaty |
Keywords: | Marital Rape; Perundang-undangan; Kekerasan Seksual; Marital Rape; Legislation; Sexual Violence; الاغتصاب الزوجي; التشريعات; العنف الجنسي |
Subjects: | 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180113 Family Law |
Departement: | Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah |
Depositing User: | Faidyah Nur Ainina |
Date Deposited: | 03 Jul 2024 09:12 |
Last Modified: | 03 Jul 2024 09:12 |
URI: | http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/64885 |
Downloads
Downloads per month over past year
Actions (login required)
![]() |
View Item |