Responsive Banner

Problematika kerukunan antar umat beragama di Indonesia

Munawarah, Munawarah (2001) Problematika kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img] Text (Fulltext)
97110575.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (17MB) | Request a copy

Abstract

ABSTRAK

Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang "plural society", masyarakat serba ganda, ganda kepercayaannya, kebudayaannya, agamanya. Dituntut untuk hidup rukun dalam kehidupan agama. Kerukunan dalam kehidupan agama akan tercipta apabila tiap-tiap orang saling tenggang-menenggang rasa dan lapang dada. Oleh karena itu pemerintah dalam hal ini Menteri agama Republik Indonesia, yang ketika di jabat oleh Prof. Dr. A. Mukti Ali (1971-1978) di awal masa jabatannya pada tahun 197O-an, melontarkan gagasan, untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama. Konsep dialog antar umat agama bukan hanya slogan tanpa arti, tetapi dengan konsep ini dapat memberikan landasan dasar untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama. Sehingga perbedaan teologi tidak menjadi halangan untuk mencari commom platform atau modus vivendi diantara umat beragama (agarna samawi). Penegasan tentang perlunya mencari titik temu (kalimalun sawa’) lermaktub dalam al-Qur'an (Q.S 3:64).

Adapun kajian permasalahan yang dijadikan pembahasan, dalam skripsi ini ada tiga hal, yakni tentang apa yang melatar belakangi problematika antar umat beragama di Indonesia ?, bagaimana konsep kerukunan antar umat beragama di Indonesia ?, dan bagaimana cara mengatasi prolematika kerukunan antar umat beragama di Indonesia ?

Untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan permasalahan yang difokuskan di atas, metode yang penulis gunakan adalah metode diskriptif analitis kritis. Dengan metode tersebut diharapkan data yang didapat dianalisis secara deskriptif dan induktif. Tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah “library research" yang disandarkan kepada kajian pustaka yang relevan.

Berdasarkan metode di atas, dari hasil penelitian yang telah penulis lakukan, diperoleh kesimpulan yang kiranya dapat menjawab permasalahan-permasalahan sebagaimana yang diformulasikan pada fokus penelitian. Jawaban tersebut kami rangkum sebagai berikut:

Munculnya pemikiran tentang konsep dialog antar umat beragama pada tahun 197O-an oleh Prof. DR. A. Mukti Ali, tidak lepas dari adanya hubungan yang tidak harmonis di antara umat beragama, khususnya (Islam dan Kristen) pada tahun 1960-an, terlebih setelah meletusnya gerakan 30 September 1965. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor:
1. Adanya penyebaran agama yang dilakukan secara ekspansif oleh para missionaris untuk menjadikan pemeluk agama lain sebagai sasaran penyiaran sesuatu agama. Yang dilakukan dengan tidak mengindahkan nilai-nilai universal.
2. Adanya interpretasi yang salah terhadap doktrin agama dalam memandang agama orang lain, yang akhirnya menimbulkan klaim kebenaran (truth claim) dan klaim keselamatan (salvation claim) yang akhirnya menjadikan pemeluk agama orang lain sebagai sasaran untuk mengikuti agama yang dianutnya.
3. Masalah mayoritas dan minoritas, adanya klaim tersebut menyebabkan ketidakharmonisan diantara pemeluk agama. Di kalangan mayoritas (Islam) timbul perasaan tidak puas karena merasa terdesak posisi dan peranannya (khususnya dalam bidang ekonomi dan politik). Sedangkan di pihak minoritas timbul ketakutan karena merasa terancam eksistensi dan hak asasinya.
4. Masalah isu Kritenisasi dan Islamisasi, problem mayoritas dan minoritas yakni perasaan terdesak di satu pihak, dan terancam di pihak lain, membawa implikasi dalam hubungan antara umat beragama khususnya Islam dan Kristen. Dari pihak Islam terancam oleh apa yang disebut "Kristenisasi" yang terjadi pada tahun 196O-an, lebih-lebih setelah G 30/S PKI 1965. Begitu pula, umat Kristiani merasa terancam eksistensinya oleh apa yang disebut "Islamisasi" dari pihak Islam.
5. Warisan Penjajah. Kedatangan Agama Kristen ke Nusantara berbarengan dengan kolonial penjajahan yang juga beragama Kristen. Kenyataan ini menimbulkan asumsi bahwa Agama Kristen identik dengan penjajah. Hal ini menimbulkan kesan bahwa mereka adalah penjajah.
6. Masalah Pembangunan. Pembangunan yang dicanangkan pemerintah Orde Reformasi tidak mungkin tercapai apabila kericuhan dalam kehidupan agama masih ada.

Konsep "Agree In Disagreement" yang dilontarkan oleh A. Mukti Ali tersebut, sebagai landasan utama untuk mewujudkan kerukunan umat beragama di Indonesia. Konsep Agree In Disagreement ialah ia percaya bahwa agama yang ia peluk itulah agama yang paling baik, dan mempersilahkan orang lain untuk mempelajari bahwa agama yang dipeluknya adalah agama yang paling baik. Dan yakin bahwa antara satu agama dan yang lainnya selain terdapat perbedaan, juga terdapat persamaan.

Dialog antar umat beragama yang di gagas oleh A. Mukti Ali untuk membina kerukunan antar umat beragama adalah dialog yang merupakan perjumpaan yang sungguh-sungguh, bersahabat dan berdasarkan hormat dan cinta dalam tingkatan agama antara pelbagai kelompok pemeluk agama. Dengan dialog ini, maka saling menghormati, menghargai diantara pemeluk agama yang satu dengan yang lainnya dapat diwujudkan.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Rhoviq, Ch
Keywords: kerukunan; umat beragama
Departement: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan > Jurusan Pendidikan Agama Islam
Depositing User: Nada Auliya Sarasawitri
Date Deposited: 04 Apr 2024 08:52
Last Modified: 04 Apr 2024 08:52
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/62781

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item