Responsive Banner

Analisis terhadap kewajiban mediasi di pengadilan sebagai salah satu upaya perdamaian perspektif Mashlahah Imam al-Ghazali: Studi Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2016

Farhan, Muhammad Faiz (2024) Analisis terhadap kewajiban mediasi di pengadilan sebagai salah satu upaya perdamaian perspektif Mashlahah Imam al-Ghazali: Studi Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2016. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
210201220003.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB) | Preview

Abstract

ABSTRAK

Kewajiban mediasi di pengadilan sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 telah membuat mediasi bersifat terpaksa. Hal ini tidak sesuai dengan prinsip dasar mediasi yang lebih bersifat sukarela. Pada sisi yang lain, adanya kritik terkait masuknya mediasi kedalam hukum acara perdata telah menambah waktu penyelesaian perkara menjadi lebih lama serta tidak sederhana bagi para pihak. Hal tersebut juga dianggap tidak sejalan dengan pasal 2 ayat (4) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman yang menyatakan bahwa peradilan dilakukan dengan cara sederhana, cepat dan biaya ringan. Namun demikian, suatu peraturan tidak diciptakan tanpa melihat kemanfaatan yang dapat dihasilkannya. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pertimbangan-pertimbangan yang melatar belakangi diwajibkannya mediasi di pengadilan, dan kemudian di analisis menggunakan konsep mashlahah Imam al-Ghazali.

Jenis penelitian ini adalah penelitian normatif atau penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan konsep (conseptual approach). Sumber hukum penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu primer yang berupa peraturan perundang-undangan dan sekunder yang berupa kitab al-Mustashfa min Ilmi al-Ushul Imam al-Ghazali dan literatur-literatur lainnya yang berkaitan dengan tema penelitian.

Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa Terdapat banyak pertimbangan-pertimbangan yang melatar belakangi ditariknya mediasi di pengadilan, yaitu sebab: pertama, proses penyelesaian sengketa yang bergerak lambat; kedua, Bertumpuknya perkara di pengadilan tingkat pertama hingga tingkat kasasi di Mahkamah Agung; ketiga, Biaya penyelesaian perkara yang mahal; keempat, Putusan yang bersifat win-lose solution sehingga hanya memuaskan satu pihak; dan kelima, Kurang maksimalnya upaya perdamaian yang dilakukan oleh hakim sebagaimana diamanatkan dalam pasal 130 HIR dan 154 Rbg. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, jika ditinjau dari konsep mashlahah Imam al-Ghazali, maka mediasi yang terintegrasi dengan hukum acara perdata sehingga bersifat wajib ini termasuk dalam mashlahah sekunder (hajiyyat), dan hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip dan peraturan perundang-undangan yang ada diatasnya selama dijalankan dengan hati-hati dan tetap berjalan dalam koridor jiwa dan piskologi pasal 130 HIR dan 154 Rbg.

ABSTRACT

The obligation to mediate in court as regulated in Supreme Court Regulation Number 1 of 2016 has made mediation forced. This is considered to be inconsistent with the basic principles of mediation which is more voluntary. On the other hand, there is criticism regarding the inclusion of mediation in civil procedural law, thereby increasing the time for settling cases to be longer and not simpler for the parties. This is also considered inconsistent with article 2 paragraph (4) of Law Number 48 of 2009 concerning judicial power which states that justice is carried out in a simple, fast and low cost manner. However, a regulation is not created without looking at the benefits it can produce. Based on this, this research aims to describe the considerations behind requiring mediation in court, and then analyze it using Imam al-Ghazali's mashlahah concept.

This type of research is normative research or library research using a conceptual approach. The legal sources for this research are divided into two, namely primary in the form of statutory regulations and secondary in the form of the book al-Mustashfa min Ilmi al-Ushul Imam al-Ghazali and other literature related to the research theme.

The results of this research conclude that there are many considerations for requiring mediation in court, namely the consequences of a. slow-moving dispute resolution process, backlog; b. The backlog of cases at the first instance court up to the cassation level at the Supreme Court; c. Expensive case settlement costs; d. A decision that is a win-lose solution so that it only satisfies one party; and e. The judge's efforts to make peace were less than optimal as mandated in articles 130 HIR and 154 Rbg. Based on these considerations, if viewed from Imam al-Ghazali's concept of mashlahah, mediation which is integrated with civil procedural law so that it is mandatory is included in secondary mashlahah (hajiyyat), and this does not conflict with the principles and regulations of the laws above. as long as it is carried out carefully and remains within the mental and psychological corridors of articles 130 HIR and 154 Rbg.

مستخلص البحث

إن الالتزام بالتوسط في المحكمة على النحو المنصوص عليه في لائحة المحكمة العليا رقم 1 لعام 2016 جعل الوساطة إجبارية. وهذا يعتبر غير متسق مع المبادئ الأساسية للوساطة التي تعتبر أكثر طوعية. ومن ناحية أخرى، هناك انتقادات بشأن إدراج الوساطة في قانون الإجراءات المدنية، وبالتالي زيادة وقت تسوية القضايا لتصبح أطول وليست أسهل بالنسبة للأطراف. ويعتبر ذلك أيضاً متعارضاً مع الفقرة (4) من المادة 2 من القانون رقم 48 لسنة 2009 في شأن السلطة القضائية والتي تنص على أن العدالة تتم بطريقة بسيطة وسريعة ومنخفضة التكلفة. ومع ذلك، لا يتم إنشاء التنظيم دون النظر إلى الفوائد التي يمكن أن تنتجها. وبناء على ذلك، يهدف هذا البحث إلى بيان الاعتبارات التي تكمن وراء ضرورة الوساطة في المحكمة، ومن ثم تحليلها باستخدام مفهوم مصلحة الإمام الغزالي.

هذا النوع من البحث هو بحث معياري أو بحث مكتبي باستخدام المنهج المفاهيمي. وتنقسم المصادر القانونية لهذا البحث إلى قسمين، أولي في صورة الضوابط الشرعية، وثانوي في شكل كتاب المستصفى من علم الأصول للإمام الغزالي وغيره من المؤلفات المتعلقة بموضوع البحث.

وخلصت نتائج هذا البحث إلى أن هناك اعتبارات كثيرة لاشتراط الوساطة في المحكمة، وهي عواقب أ. عملية حل النزاعات بطيئة الحركة، والتراكم؛ ب. تراكم القضايا في المحكمة الابتدائية حتى مستوى النقض في المحكمة العليا؛ ج. تكاليف تسوية القضايا باهظة الثمن؛ د. قرار يكون فيه الربح والخسارة بحيث لا يرضي إلا طرف واحد؛ وه. وكانت جهود القاضي لتحقيق السلام أقل من المستوى الأمثل على النحو المنصوص عليه في المادتين 130 HIR و154 Rbg. وبناء على هذه الاعتبارات، إذا نظرنا إلى مفهوم المصلحة عند الإمام الغزالي، فإن الوساطة المدمجة مع قانون الإجراءات المدنية بحيث تكون إلزامية تدخل في المصلحة الثانوية، وهذا لا يتعارض مع مبادئ وضوابط الشريعة. القوانين المذكورة أعلاه، طالما تم تنفيذها بعناية وبقيت ضمن الممرات العقلية والنفسية المنصوص عليها في المادتين 130 HIR و154 Rbg.

Item Type: Thesis (Masters)
Supervisor: Zuhriah, Erfaniah and Supriyadi, Supriyadi
Keywords: Kewajiban; Mediasi; Upaya Perdamaian; PERMA; Mashlahah Imam al-Ghazali; Obligations; Mediation; Peace Efforts; PERMA; Mashlahah Imam al-Ghazali; الالتزامات؛ الوساطة؛ جهود السلام؛ بيرما؛ مصلحة الإمام الغزالي
Departement: Sekolah Pascasarjana > Program Studi Magister al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Muhammad Faiz Farhan
Date Deposited: 07 Feb 2024 08:54
Last Modified: 07 Feb 2024 08:54
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/61091

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item