Perancangan pusat budidaya dan produksi kakao di Aceh: Tema arsitektur fraktal

Winita, Wulan Ria (2016) Perancangan pusat budidaya dan produksi kakao di Aceh: Tema arsitektur fraktal. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img] Text (Fulltext)
12660060.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (21MB)

Abstract

INDONESIA:

Kakao merupakan satu-satunya di antara 22 jenis marga Theobroma, suku Sterculiaceae yangs diusahakan secara komersial. Selain itu Kakao juga bahan baku yang paling digemari seluruh masyarakat dunia (coklat). Penanaman kakao relatif sesuai untuk perkebunan rakyat, karena tanaman ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun, sehingga dapat menjadi sumber pendapatan harian atau mingguan bagi petani. Tujuannya untuk menumbuhkan industri pengolahan biji kakao dan industri makanan dalam negeri dan memberikan nilai tambah bagi petani kakao. Harga jual kakao fermentasi lebih tinggi dibanding dengan yang tidak difermentasi. Ekspor biji kakao nonfermentasi bahkan dikenai potongan. Perancangan ini terletak di Aceh. Daerah ini merupakan potensi besar dibidang pertanian dan perkebunan. Dibidang perkebunan, kakao merupakan tumbuhan nomer tiga terbesar.

Perancangan pusat budidaya dan produksi ini terletak di daerah mbarung dekat dengan perkebunan warga yang ter dapat di tapak. Tapak ini terletak tidak jauh dari kota maka dari itu untuk budidaya (perkebunan warga) dan produksi (tidak di pusat kota). Dengan bertempatnya tapak tidak ditengah kota disini tema yang digunakan ialah arsitektur fraktal. Penerapan arsitektur fraktalnya ialah dengan mengambil tiga bentukan dasar dari geometri yang digabungkan dengan prinsip fraktal sendiri yakni (1) self similarity, (2) dimention, (3) ketidak teraturan. Maka dengan prinsip-prinsip tersebut akan muncul bangunan yang bermanfaat dan tidak merusak lingkungan.

ENGLISH:

Cacao is one of 22 types of the genus Theorem, Sterculiaceae family that cultivated commercial. Moreover, cacao is the most favored standard ingredients ( chocolate ) by all people in the world. Cultivation of cacao are relatively suitable for the people’s farm, because these plants can bloomy and the fruit throughout the year, so it can be a daily or weekly source of income for farmers. The purpose is for setting up the cocoa bean processing industry and the food industry in the country and provide added value to cocoa farmers. The selling price of cocoa fermentation is higher than the unfermented. Exports of non-fermented cocoa beans even experienced cutbacks. This design is located in Aceh. This area has a great potential in agriculture and plantations. Cacao plantation is the third largest plant. In plantation, Cocoa is the third largest number of plants.

The design of cultivation and production center is located in an area close to the mbarung people’s farm who contained in tapak (the site). Tapak location is close to the city and that is the cultivation (people’s farm) and production (not downtown). The place of tapak is not in the city center and also the theme used here is a fractal architecture. The application of fractal architecture is to take three basic formations of geometry combined with the fractal principle itself, they are 1) self-similarity (2) dimention (3) irregularity. Finally, with these principles will emerge buildings that are useful and not damaging the environment.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Mappaturi, Andi Baso and Mutiara, Elok
Keywords: Budidaya; Produksi; Kakao; Arsitektur Fraktal; Cultivation; Factory; Cocoa; Fractal Architecture; Aceh
Departement: Fakultas Sains dan Teknologi > Jurusan Teknik Arsitektur
Depositing User: Imam Rohmanu
Date Deposited: 24 Mar 2017 04:20
Last Modified: 24 Mar 2017 04:20
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/5870

Actions (login required)

View Item View Item