Perancangan Sekolah Tinggi Animasi di Buring, Malang: Tema dekonstruksi arsitektur

Akbar, Emha Taufiq (2016) Perancangan Sekolah Tinggi Animasi di Buring, Malang: Tema dekonstruksi arsitektur. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
12660045.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (24MB) | Preview

Abstract

INDONESIA:

Perkembangan teknologi semakin berkembang pesat dalam akhir-akhir ini. Banyak temuan-temuan baru yang memudahkan manusia melakukan aktivitas. Hal tersebut merupakan bukti dari pemikiran manusia yang ingin terus berinovasi untuk mencapai semua yang diinginkan. Dalam perkembangan tersebut banyak bermunculan media informasi dalam bentuk media cetak dan digital. Tidak jarang masyarakat lebih memilih menggunakan media digital karena dianggap lebih mudah dan praktis. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah kemudahan dalam aksesibilitas dan mempunyai konten yang menaraik untuk dilihat.

Kebutuhan animasi yang tinggi tidak diimbangi dengan adanya fasilitas pendidikan yang mumpuni dalam bidang tersebut. Hanya terdapat di kota-kota besar saja seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Dalam JogjaNews hanya terdapat dua sekolah menengah kejuruan yaitu SMK 5 dan SMK 3 yang menyediakan program keahlian bidang animasi. Hal tersebut berbanding terbalik dengan negara-negara di kwasan Asia Tenggara. Kemajuan dibidang animasi menjadikan negara tersebut terangkat namanya dan mendapat pemasukan negara yang besar. Negara Singapura misalnya, mereka sudah memandang animasi sebagai suatu kebutuhan dalam pekerjaannya. Factor pendukung utamanya adalah adanya ikut campur tangannya pemerintah dalam pengembangan animasi. Hal tersebut membuat masyarakat Indonesia tertarik untuk belajar di Singapura hingga bekerja disana. Tentu hal tersebut dapat memberikan efek buruk untuk perkembangan animasi di tanah air kedepannya. Minimnya peminat pekerja seni untuk mengembangkan industri animasi di Indonesia, akan membuat industri animasi Indonesia stagnan (tidak berkembang). Oleh karena itu, perlu adanya upaya serius yang dilakukan untuk meminimalkan dampak buruk yang akan terjadi. Setidaknya dibutuhkan 200.000 animator sekarang ini untuk memenuhi kebutuhan aninmasi di Indonesia.

Dari pembahasan diatas, tema rancangan menggunakan Deconstruction. Tema tersebut diambil karena filosofi dari animasi tersebut terbentuk dan berkembang. Selain itu juga bermanfaat untuk meningkatkan kreatifitas bagi pengguna yang merasakan makna dekonstruksi. Bentuknya yang unik dan terkadang diluar nalar akan memunculkan ide baru kreatif dan inovatif.

ENGLISH:

The development of technology has been growing rapidly in this years. There are many new inovations that ease human beings to do their activities. This is the proof of human’s thought that wants to continue innovating in order to achieve all of their desires. In that development, there are many information media in the form of print and digital. Furthermore, people mostly prefer to use digital media because it is easier and more practical. One of the factors that influence them is that the ease of accessibility and the interesting contents.

The high need of animation is not balanced with the educational facilities which are qualified in that field. There are only in some big cities; Jakarta, Bandung, Yogyakarta and Surabaya. In Jogja News there are only two vocational high schools namely SMK 5 and SMK 3 providing animation vocational skill program. It is inversely proportional to the countries in Southeast Asia region. The progress of animation makes the country popular and get a big income. Singapore, for example, it is already looking at the animation as a necessity in the job. The main supporting factor is the existence of his government to intervene in the development of animation. It makes Indonesian people are interested in having study in Singapore till having work there. Therefore, it can give a bad effect on the Indonesia animation development in the future. The lack of interest in art workers to develop the animation industry in Indonesia will make the animation industry stagnant. Thus, we need to make seriuos efforts to minimize the adverse effects that would occur. Now, we need at least 200,000 animators to meet the need of animation in Indonesia.

From the discussion above, the design theme will be using Deconstruction. The theme is taken because the philosophy of the animation is formed and growing. It is also helpful to increase creativity for users who feel the meaning of deconstruction. The unique shape and sometimes beyond the logic will bring new creative and innovative ideas.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Sedayu, Agung and Gautama, Achmad Gat
Keywords: Perancangan; Sekolah Animasi; Deconstruction; Design; Animation School; Deconstruction
Departement: Fakultas Sains dan Teknologi > Jurusan Teknik Arsitektur
Depositing User: Imam Rohmanu
Date Deposited: 24 Mar 2017 04:21
Last Modified: 24 Mar 2017 04:21
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/5863

Actions (login required)

View Item View Item