Saputra, Ongky Angga (2023) Efektivitas peraturan BPOM nomor 1 tahun 2016 tentang pedoman teknis pengawasan iklan kosmetika pasal 2 ayat 2: Studi di BPOM Surabaya dan komunitas influencer. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
![]() |
Text (Fulltext)
19220013.pdf - Accepted Version Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives. Download (2MB) |
Abstract
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji seberapa efektif aturan tang diterbitkan oleh BPOM dan untuk mengetahui bagaimana kesadaran hukum dari influencer. Dalam penelitian peneliti menjabarkan beberapa kategori iklan yang menyesatkan karena masih banyak yang belum mengetahui terkait klasifikasi iklan yang menyesatkan. Untuk mengkaji penelitian lebih dalam peneliti menggunakan metode yuridis empiris yakni peneliti terjun langsung ke lapangan untuk mengkaji keadaan sebenarnya yang terjadi masyarakat yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian yang bertempat di BPOM Surabaya dan di komunitas influencer. Kemudian metode pendekatan yang digunakan oleh peneliti menggunakan pendekatan yuridis sosiologis penelitian hukum yang menggunakan data sekunder sebagai data awalnya, yang kemudian dilanjutkan dengan data primer atau data lapangan atau penelitian yang berusaha mengkaji efektivitas suatu undang-undang dan hubungannya (korelasi) dengan berbagai variabel. Sedangkan alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah studi dokumen, pengamatan, dan wawancara.
Hasil dari penelitian ini, adanya aturan yang diterbitkan oleh BPOM Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Pedoman Teknis Pengawasan Iklan Kosmetika kurang efektif. Fakta di lapangan yang ditemukan masih banyak influencer yang belum mengetahui aturan tersebut dikarenakan kesadaran hukum dari pihak influencer dan pelaku usaha yang kurang. Ditambah ketidak pasti-an hukum yang mengikat influencer yang melakukan jasa pengiklanan menjadi menurunnya kesadaran hukum itu sendiri, namun jika ditinjau dari Pasal 55 dan 56 Kitab Undang-undang Hukum Pidana influencer termasuk direct sourc atau pihak yang terlibat maka jika dikemudian hari adanya pelanggaran maka pertanggung jawaban influencer bertindak sebagai perusahaan. Kemudian aturan tersebut dikatakan belum efektif karena ditinjau dari teori sistem hukum yang dikemukakan oleh Lawrance terdapat 3 (tiga) unsur penting yang tidak boleh terlewatkan agar menjadikan efektivitas suatu hukum salah satunya sturcture of law atau yang bersangkutan dengan lembaga penegak hukum. Namun faktanya lembaga atau instansi yang berwenang kurang mengudukasi dan memperhatikan permasalahan tersebut sehingga masih banyak influencer atau pelaku usaha yang melanggar aturan tersebut.
ABSTRACT
This study aims to examine how effective the rules issued by BPOM are and to find out how legal awareness from influencers. In the study, researchers described several categories of misleading ads because there are still many who do not know about the classification of misleading ads. To examine deeper research, researchers use empirical juridical methods, namely researchers go directly into the field to examine the actual situation that occurs in society related to problems in research located at BPOM Surabaya and in the influencer community. Then the approach method used by researchers uses a sociological juridical approach to legal research that uses secondary data as initial data, which is then continued with primary data or field data or research that seeks to examine the effectiveness of a law and its relationship (correlation) with various variables.
While the data collection tools in this study are document studies, observations, and interviews. As a result of this study, the rules issued by BPOM Number 1 of 2016 concerning Technical Guidelines for Supervision of Cosmetic Advertising are less effective. The facts in the field found that there are still many influencers who do not know the rules due to lack of legal awareness from influencers and business actors. Plus the uncertainty of the law that binds influencers who perform advertising services becomes a decrease in legal awareness itself, but if viewed from Articles 55 and 56 of the Criminal Code, influencers including direct sources or parties involved, if in the future there is a violation, the influencer's responsibility acts as a company. Then the rule is said to be ineffective because judging from the theory of the legal system proposed by Lawrance, there are 3 (three) important elements that should not be missed in order to make the effectiveness of a law, one of which is the structure of law or related to law enforcement agencies. But the fact is that institutions or agencies that are authorized do not educate and pay attention to these problems so that there are still many influencers or business actors who violate these rules.
مستخلص البحث
تهدف هذه الدراسة إلى فحص مدى فعالية القواعد الصادرة عن BPOM ومعرفة مدى الوعي القانوني من المؤثرين. في الدراسة ، وصف الباحثون عدة فئات من الإعلانات المضللة لأنه لا يزال هناك الكثير ممن لا يعرفون عن تصنيف الإعلانات المضللة. لفحص بحث أعمق ، يستخدم الباحثون الأساليب القانونية التجريبية ، أي يذهب الباحثون مباشرة إلى الميدان لفحص الوضع الفعلي الذي يحدث في المجتمع فيما يتعلق بالمشاكل في البحث الموجود في BPOM Surabaya وفي مجتمع المؤثرين. ثم يستخدم منهج المنهج الذي يستخدمه الباحثون منهجا قانونيا سوسيولوجيا للبحث القانوني يستخدم البيانات الثانوية كبيانات أولية، ثم يستمر ذلك بالبيانات الأولية أو البيانات الميدانية أو البحث الذي يسعى إلى فحص فعالية القانون وعلاقته (ارتباطه) بالمتغيرات المختلفة.
في حين أن أدوات جمع البيانات في هذه الدراسة هي توثيق الدراسات والملاحظات والمقابلات. نتيجة لهذه الدراسة ، فإن القواعد الصادرة عن BPOM رقم 1 لعام 2016 بشأن الإرشادات الفنية للإشراف على إعلانات مستحضرات التجميل أقل فعالية. وجدت الحقائق في هذا المجال أنه لا يزال هناك العديد من المؤثرين الذين لا يعرفون القواعد بسبب نقص الوعي القانوني من المؤثرين والجهات الفاعلة في مجال الأعمال. بالإضافة إلى عدم اليقين في القانون الذي يلزم المؤثرين الذين يؤدون خدمات إعلانية يصبح انخفاضا في الوعي القانوني نفسه ، ولكن إذا تم النظر إليه من المادتين 55 و 56 من القانون الجنائي ، فإن المؤثرين بما في ذلك المصادر المباشرة أو الأطراف المعنية ، إذا كان هناك انتهاك في المستقبل ، فإن مسؤولية المؤثر تعمل كشركة. ثم يقال إن القاعدة غير فعالة لأنه انطلاقا من نظرية النظام القانوني التي اقترحها لورانس ، هناك 3 (ثلاثة) عناصر مهمة لا ينبغي تفويتها من أجل جعل فعالية القانون ، أحدها هو هيكل القانون أو المتعلقة بوكالات إنفاذ القانون. ولكن الحقيقة هي أن المؤسسات أو الوكالات المصرح لها لا تثقف وتهتم بهذه المشاكل بحيث لا يزال هناك العديد من المؤثرين أو الجهات الفاعلة التجارية التي تنتهك هذه القواعد.
Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
---|---|
Supervisor: | Nasyi’ah, Iffaty |
Keywords: | Influencer; Iklan; Kesadaran Hukum; Efektivitas Hukum;influencer; advertising; legal awareness; legal effectiveness; لمؤثر ; الإعلان ; الوعي القانوني ; الفعالية القانونية |
Departement: | Fakultas Syariah > Jurusan Hukum Bisnis Syariah |
Depositing User: | Ongky Angga Saputra |
Date Deposited: | 11 Dec 2023 09:39 |
Last Modified: | 11 Dec 2023 09:39 |
URI: | http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/58598 |
Downloads
Downloads per month over past year
Actions (login required)
![]() |
View Item |