Responsive Banner

Implementasi peraturan Mahkamah Agung nomor 1 tahun 2019 tentang administrasi perkara dan persidangan di pengadilan secara elektronik di masa pandemi Covid-19 perspektif Maqashid Syariah: Studi di Pengadilan Agama Kabupaten Malang

Musyafa', Moch Izzul (2022) Implementasi peraturan Mahkamah Agung nomor 1 tahun 2019 tentang administrasi perkara dan persidangan di pengadilan secara elektronik di masa pandemi Covid-19 perspektif Maqashid Syariah: Studi di Pengadilan Agama Kabupaten Malang. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
17210151.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (3MB) | Preview

Abstract

ABSTRAK

Seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat, Mahkamah Agung membuat aturan mengenai persidangan di pengadilan secara elektronik. Munculnya peraturan ini membuat proses persidangan menjadi biaya ringan, cepat dan sederhana. Para pihak yang berperkara tanpa perlu hadir ke ruang sidang dan cukup mengunggah berkas perkara di rumah atau kediaman masing-masing. Pandemi covid-19 saat ini mengharuskan seluruh manusia untuk melindungi diri sendiri supaya tidak terjangkit covid-19 yang dapat membahayakan nyawa. Salah satu pencegahannya yaitu menghindari kerumunan dan mengurangi kontak langsung dengan banyak orang.
Penelitian ini terdapat dua rumusan masalah yaitu: mengapa pengadilan agama kabupaten malang belum mengimplementasikan Perma No. 1 Tahun 2019 tentang pelaksanaan persidangan secara elektronik dan bagaimana perspektif maqashid syariah terhadap pelaksanaan sidang elektronik di masa pandemi covid-19. Penelitian ini merupakan jenis penelitian empiris dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh di lapangan dengan cara wawancara. Sedangkan dalam proses pengolahan data menggunakan teknik edit, klasifikasi, verifikasi, analisis dan kesimpulan. Proses analisis menggunakan konsep maqashid syariah.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa belum ada perkara di Pengadilan Agama Kabupaten Malang yang sampai pada tahap e-litigasi. Hal ini disebabkan banyaknya sebagian masyarakat kurang memiliki pemahaman dalam hal mendaftarkan perkara melalui aplikasi e-court, Ada juga yang beralasan ingin sidang secara manual saja karena ini menjadi peristiwa penting yang tidak akan terjadi 2 kali. Bahkan ada juga pengacara yang menolak untuk melakukan sidang elektronik karena malas dan lebih memilih melakukan persidangan karena sudah terbiasa secara manual. Pelaksanaan persidangan secara elektronik atau e-litigasi di masa pandemi covid-19 ini termasuk maqashid syariah dalam bentuk hifzh al-nafs (pemeliharaan jiwa) karena dengan menggunakan sistem e-litigasi maka para pihak bisa mengikuti proses peridangan secara mandiri di rumah atau tempat kediaman masing dan tidak perlu datang ke ruang persidangan supaya tidak terjangkit covid-19 yang dapat membahayakan nyawa.

ABSTRACT

Along with the rapid advancement of technology, the Supreme Court makes rules regarding trials in courts electronically. The emergence of this regulation makes the trial process has a low cost, fast and straightforward. The litigants do not need to be present in the courtroom and upload the case files at their respective homes or residences. The current covid-19 pandemic requires all humans to protect themselves so they don't get infected with COVID-19, which can endanger lives. One of the prevention is to avoid crowds and reduce direct contact with many people.
There are two research questions in this study: why the Malang district religious court has not implemented Perma No. 1 of 2019 regarding the implementation of the electronic trial and what is the perspective of maqashid syari’ah on the implementation of the electronic practice during the covid-19 pandemic. This research is empirical research using a qualitative method. Data were obtained in the field through interviews. While in the data processing using editing, classification, verification, analysis, and conclusion techniques. The analysis process is supported by the maqashid syari’ah concept.
The results of this study indicate that there are no cases at the Malang Regency Religious Court that have reached the e-litigation stage. This is due to the fact that many people lack understanding in terms of registering cases through the e-court application. There are also those who argue that they want to work manually because this is an important event that will not happen twice. Even lawyers refuse to conduct an electronic trial because they are lazy and prefer to conduct a prosecution manually as they are used to it. The implementation of an electronic practice or e-litigation during the COVID-19 pandemic includes maqashid sharia in the form of hifzh al-nafs (spirit maintenance) because by using the e-litigation system, the parties can follow the court process independently at their respective homes or residences. and there is no need to come to the courtroom so as not to be infected with Covid-19 which can endanger lives.

مستخلص البحث

إلى جانب التقدم التكنولوجي المتزايد، تضع المحكمة العليا القواعد المتعلقة بالمحاكمات في المحاكم إلكترونيًا. ظهور القانون يجعل العملية التجريبية منخفضة التكلفة وسريعة وبسيطة. لا يحتاج أطراف المشتركة إلى الحضور في قاعة المحكمة وببساطة تحميل ملفات القضية في منازلهم. يتطلب جائحة كوفيد -19 الحالي من جميع الناس لحماية أنفسهم حتى لا يصابوا بفيروس كوفيد -19 الخطير. أما الأحد الطرق الوقاية هو تجنب الازدحام وتقليل الاتصال المباشر بالعديد من الأشخاص.
أما الأسئلة البحث في هذا البحث يعني: لماذا لم تنفذ محكمة الدينية مالانج القانون في رقم 1 لسنة 2019 بشأن المحاكمة إلكترونيا وما هي وجهة نظر مقاصد الشريعة في تنفيذ الدورة الإلكترونية خلال جائحة كوفيد -19. هذا البحث هو بحث التجريبي باستخدام منهج نوعي. البيانات التي تم الحصول عليها في الميدان عن طريق المقابلات. وفي معالجة البيانات باستخدام تقنيات التحرير والتصنيف والتحقق والتحليل والاستنتاج. عملية التحليل مدعومة بمفهوم المقاصد الشريعة.
تشير نتائج هذه الدراسة إلى عدم وجود قضايا في محكمة الدينية مالانج التي وصلت إلى مرحلة التقاضي الإلكتروني. هذه يسبب من الحقيقة أن الكثير من الناس يفتقرون إلى الفهم فيما يتعلق بتسجيل القضايا من خلال تطبيق المحكمة الإلكترونية، وهناك أيضًا من يجادل بأنهم يريدون المحاكمة يدويًا لأن هذا حدث مهم لن يحدث مرتين. حتى أن هناك محامين يرفضون إجراء محاكمة إلكترونية لأنهم كسالى ويفضلون إجراء المحاكمة لأنهم اعتادوا عليها يدويًا. تنفيذ المحاكمة إلكترونياً أو التقاضي الإلكتروني أثناء جائحة كوفيد-19 تشمل المقاصد الشريعة على شكل حفظ النفس (صيانة الروح) لأنه باستخدام نظام التقاضي الإلكتروني، يمكن للأطراف المشاركة في إجراءات المحكمة بشكل مستقل في منازلهم أو مساكنهم ولا يحتاجون إلى الحضور إلى قاعة المحكمة حتى لا يصابوا بفيروس كوفيد -19 الخطير

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Azmi, Miftahuddin
Keywords: Persidangan Elektronik; Covid19; Maqasid Syariah
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180113 Family Law
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Moch Izzul Musyafa
Date Deposited: 07 Dec 2023 13:50
Last Modified: 07 Dec 2023 13:50
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/58551

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item