Responsive Banner

Pandangan tokoh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang tentang batas-batas kebolehan nikah Mut’ah perspektif M. Quraish Shihab

Arfiana, Shinta Nurul (2023) Pandangan tokoh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang tentang batas-batas kebolehan nikah Mut’ah perspektif M. Quraish Shihab. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
19210016.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (3MB) | Preview

Abstract

ABSTRAK

M. Quraish Shihab sebagai salah satu ulama yang masyhur dalam salah satu buku karangannya yang berjudul “Perempuan” mengeluarkan pendapat bahwa nikah mut’ah itu diperbolehkan dalam keadaan darurat dan mendesak. Walaupun pembolehan ini tidak terlepas dari batas dan syarat, hal ini masih dinilai sebagai suatu hal yang kontroversial yang kemudian membuat peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana pandangan tokoh MUI Kota Malang terhadap batas-batas kebolehan nikah mut’ah Perspektif M. Quraish Shihab. Tujuan dari penelitian ini antara lain untuk mengetahui bagaimana batas-batas kebolehan nikah mut’ah menurut M. Quraish Shihab dan untuk mengetahui bagaimana pandangan Tokoh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang terhadap Fatwa M. Quraish Shihab tentang batas-batas diperbolehkannya nikah mut’ah.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian empiris yang menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi 2 yaitu primer dan sekunder. Sumber data primer didapatkan dengan metode pengumpulan data yang terdiri dari wawancara dan dokumentasi, sedangkan sumber data sekunder didapatkan dengan artikel, jurnal, skripsi-skripsi terdahulu, dan buku-buku yang berkaitan dengan penelitian. Metode pengolahan data yang digunakan antara lain yaitu editing, classifying, analyzing, dan concluding.
Hasil penelitian menunjukan bahwa para tokoh MUI yang menjadi informan dalam penelitian ini seluruhnya tidak sepakat mengenai pembolehan nikah mut’ah menurut M. Quraish Shihab yang mengatasnamakan darurat sebagai batas pembolehnya. Sedangkan menurut para informan menjelaskan bahwa konsep darurat itu dianalogikan dengan contoh jika tidak dilakukan maka akan sangat berbahaya bagi orang yang tidak melakukannya seperti akan mengakibatkan kematian. Berbeda dengan nikah mut’ah yang mana didalamnya malah menimbulkan suatu kemudharatan bagi kaum perempuan karena pada dasarnya nikah mut’ah tidaklah tercatat dalam system perkawinan, sehingga mereka tidak mendapatkan perlindungan hukum. Di sisi lain nikah mut’ah juga akan memberikan peluang seorang laki-laki untuk menimbulkan menyakit menular seperti HIV.

ABSTRACT

M. Quraish Shihab as one of the famous ulama in one of his books entitled "Perempuan" expressed the opinion that mut'ah marriage is permissible in emergency and urgent situations. Even though this permissibility cannot be separated from limits and conditions, this is still considered a controversial matter which then makes researchers interested in examining the views of Malang City MUI figures regarding the permissibility of mut'ah marriages from M. Quraish Shihab's perspective. The purpose of this research is, among other things, to find out what the limits are on the permissibility of mut'ah marriages according to M. Quraish Shihab and to find out what the views of Malang City Indonesian Ulema Council (MUI) figures are regarding M. Quraish Shihab's fatwa regarding the limits on the permissibility of mut'ah marriages.
This type of research is empirical research that uses descriptive analysis with a qualitative approach. The data sources used in this research are divided into 2, namely primary and secondary. Primary data sources were obtained using data collection methods consisting of interviews and documentation, while secondary data sources were obtained from articles, journals, previous theses and books related to research. The data processing methods used include editing, classifying, analyzing and concluding.
The results of the research show that the MUI figures who were informants in this research all disagreed regarding the permissibility of mut'ah marriage according to M. Quraish Shihab who used the name of emergency as the limit of permissibility. Meanwhile, according to the informants, they explained that the concept of emergency is analogous to the example that if it is not done, it will be very dangerous for the person who does not do it, such as it will result in death. This is different from mut'ah marriages, which actually cause harm to women because basically mut'ah marriages are not registered in the marriage system, so they do not receive legal protection. On the other hand, mut'ah marriage will also give a man the opportunity to develop infectious diseases such as HIV.

مستخلص البحث

وقد أعرب السيد قريش شهاب كأحد العلماء المشهورين في أحد كتبه بعنوان "بيرمبوان" عن رأيه بجواز زواج المتعة في الحالات الطارئة والمستعجلة. وعلى الرغم من أن هذا الجواز لا يمكن فصله عن الحدود والشروط، إلا أن هذا لا يزال يعتبر مسألة مثيرة للجدل مما يجعل الباحثين مهتمين بدراسة آراء شخصيات مدينة مالانج بشأن جواز زواج المتعة من وجهة نظر محمد قريش شهاب. الغرض من هذا البحث، من بين أمور أخرى، هو معرفة ما هي حدود جواز زواج المتعة وفقًا للسيد قريش شهاب ومعرفة آراء شخصيات مجلس العلماء الإندونيسي في مدينة مالانج (MUI) بخصوص فتوى محمد قريش شهاب في حدود جواز نكاح المتعة اهـ.
هذا النوع من البحث هو بحث تجريبي يستخدم التحليل الوصفي مع النهج النوعي. وتنقسم مصادر البيانات المستخدمة في هذا البحث إلى ٢، وهي الأولية والثانوية. تم الحصول على مصادر البيانات الأولية باستخدام أساليب جمع البيانات المتمثلة في المقابلات والتوثيق، في حين تم الحصول على مصادر البيانات الثانوية من المقالات والمجلات والرسائل العلمية السابقة والكتب المتعلقة بالبحث. وتشمل أساليب معالجة البيانات المستخدمة التحرير والتصنيف والتحليل والاستنتاج.
تظهر نتائج البحث أن المخبرين في هذا البحث قد اختلفوا جميعا في جواز زواج المتعة عند م. قريش شهاب الذي استعمل اسم الطوارئ حدا للجواز. في حين أوضح المخبرون أن مفهوم الطوارئ يشبه مثال أنه إذا لم يتم ذلك فسيكون ذلك خطيرا جدا على الشخص الذي لا يفعله، كأن يؤدي إلى الوفاة. وهذا يختلف عن زواج المتعة، الذي يسبب ضرراً فعلياً للمرأة لأن زواج المتعة في الأساس لا يتم تسجيله في نظام الزواج، وبالتالي لا يحصلون على الحماية القانونية. ومن ناحية أخرى، فإن زواج المتعة سيعطي الرجل الفرصة للإصابة بالأمراض المعدية مثل فيروس نقص المناعة البشرية.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Rouf, Abd.
Keywords: Nikah Mut’ah, Tokoh Majelis Ulama Indonesia, M. Quraish Shihab; Mut'ah Marriage, Figure of the Indonesian Ulema Council, M. Quraish Shihab; زواج المتعة، أحد رموز مجلس علماء إندونيسيا، محمد قريش شهاب
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180113 Family Law
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Shinta Arfiana
Date Deposited: 27 Nov 2023 09:40
Last Modified: 27 Nov 2023 09:40
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/58071

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item