Responsive Banner

Pandangan tokoh masyarakat dan hakim Pengadilan Agama Banyuwangi terhadap Nikah Siri sebab adanya larangan perkawinan anak

Gunantika, Putri Nabila (2023) Pandangan tokoh masyarakat dan hakim Pengadilan Agama Banyuwangi terhadap Nikah Siri sebab adanya larangan perkawinan anak. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
19210181.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB) | Preview

Abstract

ABSTRAK

Perkawinan anak rupanya masih menjadi problematik tersendiri bagi pemerintah Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menekan tingginya angka perkawinan anak, terutama di daerah Banyuwangi. Per tahun 2022 Kabupaten Banyuwangi menempati posisi ke-3 atas perkara dispensasi kawin yang masuk dengan jumlah 877 kasus. Selain jumlah tersebut, tentu saja masih banyak kasus perkawinan anak yang dilakukan secara siri. Tujuan dari adanya penelitian ini adalah: 1) Untuk mendeskripsikan pandangan Tokoh Masyarakat terhadap nikah siri akibat dari adanya larangan perkawinan anak, serta 2) Untuk menganalisa pandangan Hakim Pengadilan Agama Banyuwangi terhadap nikah siri akibat dari adanya larangan perkwawinan di bawah umur.

Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian empiris karena data-data yang digunakan bersumber langsung dari hasil wawancara kepada tokoh masyarakat dan Hakim Pengadilan Agama Banyuwangi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang mana data yang didapat berupa data deskriptif yaitu gambaran dari pengetahuan dan pemahaman terhadap pencatatan perkawinan melalui informan atau responden secara lisan maupun tertulis.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa tokoh masyarakat dan Hakim di Pengadilan Agama Banyuwangi tidak setuju terhadap perkawinan anak, terutama perkawinan anak yang dilakukan secara tidak tercatat atau secara siri. Adapun salah satu faktor penyebab dari adanya perkawinan anak yang dilakukan secara siri adalah karena sudah terlanjur hamil duluan. Sedangkan salah satu cara untuk meminimalisir hal tersebut adalah dengan cara memberikan edukasi terhadap dampak-dampak yang mungkin akan terjadi di kemudian harinya, baik itu kepada anak yang beranjak remaja maupun pada orang tuanya.

ABSTRACT

Underage marriage seems to be still a separate problem for the Indonesian government. Every effort has been made by the government to reduce the high number of underage marriages, especially in the Banyuwangi area. As of 2022, Banyuwangi Regency occupies the 3rd position in cases of marital dispensation that have entered with a total of 877 cases. In addition to this number, of course there are still many cases of underage marriages that are carried out in series. The purposes of this research are: 1) To describe the views of Community Leaders on unregistered marriage as a result of the ban on underage marriages, and 2) To analyze the views of the Banyuwangi Religious Court Judge on unregistered marriage as a result of the prohibition on underage marriages.

This research is included in the type of empirical research because the data used comes directly from the results of interviews with community leaders and judges at the Banyuwangi Religious Court. The approach used is a qualitative approach in which the data obtained is in the form of descriptive data, namely an overview of knowledge and understanding of marriage registration through informants or respondents orally or in writing.

The results of this study indicate that all community leaders and judges at the Banyuwangi Religious Court do not agree with underage marriages, especially underage marriages which are carried out unregistered or in series. As for one of the factors causing the existence of underage marriages that are carried out in series is because they are already pregnant first. Meanwhile, one way to minimize this is by providing education on the impacts that may occur in the future, both for children who are teenagers and for their parents.

مستخلص البحث

يبدو أن زواج القاصرات لا يزال يمثل مشكلة منفصلة للحكومة الإندونيسية. بذلت الحكومة قصارى جهدها لتقليل العدد الكبير من حالات زواج القاصرات ، لا سيما في منطقة بانيووانجي. اعتبارًا من عام 2022 ، احتلت منطقة بانيووانجي المركز الثالث في حالات الإعفاء الزوجي التي دخلت بإجمالي 877 حالة. بالإضافة إلى هذا العدد ، بالطبع لا يزال هناك العديد من حالات زواج القاصرات التي تتم في سلسلة. أهداف هذا البحث هي: 1) وصف آراء قادة المجتمع حول الزواج غير المسجل نتيجة للحظر المفروض على زواج القاصرات ، 2) لتحليل آراء قاضي محكمة بانيووانجي الدينية بشأن الزواج غير المسجل نتيجة للحظر. على زواج القاصرات.

تم تضمين هذا البحث في نوع البحث التجريبي لأن البيانات المستخدمة تأتي مباشرة من نتائج المقابلات مع قادة المجتمع والقضاة في محكمة بانيووانجي الدينية. النهج المستخدم هو نهج نوعي تكون فيه البيانات التي يتم الحصول عليها في شكل بيانات وصفية ، أي نظرة عامة على معرفة وفهم تسجيل الزواج من خلال المخبرين أو المستجيبين شفهيًا أو كتابيًا.

تشير نتائج هذه الدراسة إلى أن جميع قادة المجتمع والقضاة في محكمة بانيووانجي الدينية لا يوافقون على زواج القاصرات ، وخاصة زواج القاصرات الذي يتم دون تسجيل أو في سلسلة. أما أحد العوامل المسببة لوجود زيجات القاصرات التي يتم إجراؤها بالتسلسل فهو كونهن حوامل بالفعل أولاً. وفي الوقت نفسه ، تتمثل إحدى طرق تقليل ذلك في توفير التثقيف بشأن الآثار التي قد تحدث في المستقبل ، سواء بالنسبة للأطفال المراهقين أو والديهم.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Haris, Abdul
Keywords: Nikah Siri, Perkawinan anak; Siri Marriage, Underage Marriage; زواج سيري، زواج القاصرات
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180113 Family Law
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Putri Nabila Gunantika
Date Deposited: 25 Sep 2023 08:47
Last Modified: 25 Sep 2023 08:47
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/56384

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item