Perilaku calon pengantin pasca perayaan peminangan (Ghabai bhabhakalan) perspektif teori perilaku sosial: Studi di Desa Lapa Taman Kec. Dungkek Kab. Sumenep

Ariyantika, Nurmi (2016) Perilaku calon pengantin pasca perayaan peminangan (Ghabai bhabhakalan) perspektif teori perilaku sosial: Studi di Desa Lapa Taman Kec. Dungkek Kab. Sumenep. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img] Text (Fulltext)
14780015.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB)

Abstract

INDONESIA:

Khitbah merupakan suatu ikatan janji untuk menuju jenjang pernikahan, oleh karena itu hal tersebut belum sampai pada taraf halal. Ajaran yang menyatakan bahwa bertunangan secara syari’at tidak mempunyai implikasi hukum bagi syahnya berhubungan layaknya suami istri, bagi masyarakat Desa Lapa Taman terabaikan. Mereka memahami fenomena pertunangan sesuai dengan kontrol budaya yang berkembang selama bertahun-tahun.Masyarakat mengatakan bahwa bagi pasangan yang telah bertunangan diperbolehkan untuk pergi bersama, terutama ketika ada acara keluarga dan hari raya idul fitri.

Adapun tujuan penelitian ini, pertama mengenaiperilaku calon pengantin pasca perayaan tradisi ghabai bhabhakalan. kedua mengenai pandangan masyarakat setempat mengenai perilaku pasangan yang bertunangan pasca ghabai bhabhakalan.

Jenis dan pendekatan penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian empiris fenomenologis, yakni peneliti disini terjun secara langsung ke lapangan atau masyarakat untuk mengetahui makna secara jelas mengenai berbagai perilaku, dan masalah yang dihadapi oleh pasangan yang bertunangan di desa Lapa Taman.

Hasil penelitiannya dapat disimpulkan bahwa; Pertama, Dalam Islam, pasangan yang bertunangan hanya diperbolehkan peminang melihat perempuan yang dipinang, dengan batasanhanya boleh melihat wajah dan kedua telapak tangan saja. Berbeda dengan masyarakat desa Lapa Taman, pasangan yang sudah bertunangan ini diperbolehkan berboncengan dan pergi bersama. Hal ini mereka lakukan karena perilaku tersebut sudah merupakan kebiasaan dan hampir semua pasangan tunangan lakukan. Seharusnya perilaku berboncengan dan pergi bersama merupakan perilaku yang tidak boleh dilakukan, akan tetapi dengan berdasarkan pada kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat setempat, maka perilaku tersebut menjadi suatu perilaku yang boleh saja untuk dilakukan. Sehingga apabila kebiasaan perilaku berboncengan dan pergi bersama tidak dilakukan, maka pasangan tersebut mendapatkan sanksi sosial, yakni menjadi pembicaraan orang lain.

Kedua, bagi masyarakat yang setuju dengan perilaku tersebut mereka berpendapat bahwa selama pasangan tersebut hanya sekedar pergi bersama dan berboncengan saja maka hal itu boleh untuk dilakukan. Sedangkan bagi mereka yang tidak setuju, mereka memberikan alasan bahwa status bagi pasangan yang bertunangan itu masih bukan muhrim. Sehingga perilaku berboncengan, pergi bersama atau bahkan merangkul pasangannya ketika berbonceng merupakan hal yang tidak boleh dilakukan dan hal tersebut tidak diperbolehkan dalam Islam.

ENGLISH:

Khitbah is a promise to get marriage by bride and bride groom; therefore the relation does not reached the level of halal. The doctrine of khitbah that it does not have Shari'ah legal implications, like the right of husband and wife, for the societies of the village of LapaTaman has been neglected. They have understood that the phenomenon of engagement is in accordance with the culture that has evolved over years. People said that engaged couples are allowed to go together, especially when they go to family gathering and Eid Fitri.

The purpose of this research, the first is to describe the bride candidate behavior post-engagement celebration of ghabai bhabhakalan. The second is to describe the local residents' views on the engaged couples behavior after the celebration of ghabai bhabhakalan.

The type and the research approach in this study was empirical phenomenological research, in which researcher plunged directly into the field or the public to know clearlythe meaning of various behaviors, and the problems faced by the engaged couples in the village of LapaTaman.

Research results can be concluded that; First, In Islam, the engaged couples was allowed for suitor to see women, it had a limits that should see the face and both hands. In contrast to the rural communitie of Lapa Taman, engaged couples was allowed to ride in tandem and go together. The behavior was already a habit and done by almost all couples fiancé did. Riding in tandem and going together should be forbidden, but because of riding in tandem the custom made by local societies, then the behavior became allowed. So when the riding in tandem behavior and going together has not been done, and the couples will get social sanction, and it will become negative issues in the societies.

Second, the people who agreed with the behavior said that the couples just went together and riding in tandem then it was allowed to do. As for those who did not agree, they argued that the status of the engaged couples were still not muhrim. So the tandem behavior, going together or even embracing his fiance when riding in tandem was not allowed and it was forbidden in Islam.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Roibin, Roibin and Badruddin, Badruddin
Keywords: Perilaku; Calon Pengantin; Pasca Perayaan Peminangan; Behavior; Bride and Bride Groom; Post-engagement Celebration
Departement: Sekolah Pascasarjana > Program Studi Magister al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Imam Rohmanu
Date Deposited: 03 Jan 2017 09:18
Last Modified: 03 Jan 2017 09:18
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/5546

Actions (login required)

View Item View Item