Responsive Banner

The JoKawinBocah movement as an effort to prevent child marriage in Semarang City: A study of children's rights

Fajrina, Nisrin Azka (2023) The JoKawinBocah movement as an effort to prevent child marriage in Semarang City: A study of children's rights. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
19210133.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (3MB) | Preview

Abstract

ABSTRACT

Child marriage is still a national issue that causes violations of human rights in children. Children as independent human beings have rights that must be protected by both the government, society and family. Based on Law Number 35 of 2014 concerning Amendments to Law Number 23 of 2002 concerning Child Protection, which is included in the category of children is someone who is not yet 18 years old, including children who are still in the womb. The JoKawinBocah movement is an effort initiated by DP3AP2KB (Office of Women’s Empowerment, Child Protection, Population Control, and Family Planning). Central Java Province in preventing child marriage. DP3A Semarang City contributes and is responsible for socializing the JoKawinBocah movement to the community. This study aims to identify the obstacles to the implementation of the JoKawinBocah movement and examine the rights of children that are implemented by the JoKawinBocah movement in its efforts to prevent child marriage in Semarang City.

This research is a type of empirical juridical research that uses sociological, statutory, and conceptual approaches, the data sources used are primary and secondary data sources. Primary data sources are the results of interviews conducted by resource persons who have a role in the JoKawinBocah movement. Secondary data sources are statistical data contained in DP3A Semarang City regarding child marriage, as well as laws and regulations relating to child marriage.

The results show that the JoKawinBocah movement has not maximally contributed to reducing the number of child marriages in Semarang City, due to the lack of socialization to all levels of society. Some of the obstacles are the implementation of the socialization program, the absence of sanctions for child marriage, the implications of Law Number 16 of 2019, and low public awareness. The JoKawinBocah movement in its efforts to prevent child marriage contributes to protecting children's basic rights including the right to protection from violence, exploitation, and discrimination, the right to participation, the right to education, and the right to play.

ABSTRAK

Perkawinan anak masih menjadi isu nasional yang menyebabkan terjadinya pelanggaran terhadap hak asasi manusia pada anak. Anak sebagai manusia merdeka memiliki hak-hak yang harus dilindungi baik oleh pemerintah, masyarakat, dan keluarga. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak yang termasuk dalam kategori anak ialah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Gerakan JoKawinBocah merupakan upaya yang diinisiasi oleh DP3AP2KB (Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana) Provinsi Jawa Tengah dalam mencegah perkawinan anak. DP3A Kota Semarang berkontribusi dan bertanggungjawab dalam mensosialisasikan gerakan JoKawinBocah kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kendala implementasi gerakan JoKawinBocah serta mengkaji hak-hak anak yang terimplementasi dari adanya gerakan JoKawinBocah dalam upayanya mencegah perkawinan anak di Kota Semarang.

Penelitian ini termasuk jenis penelitian yuridis empiris yang menggunakan pendekatan sosiologis, perundang-undangan, dan konseptual, sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer berupa hasil wawancara yang dilakukan oleh narasumber yang memiliki peran terhadap gerakan JoKawinBocah. Sumber data sekunder berupa data statistik yang terdapat di DP3A Kota Semarang mengenai perkawinan anak, serta peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perkawinan anak.

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa gerakan JoKawinBocah belum secara maksimal berkontribusi dalam menurunkan angka perkawinan anak di Kota Semarang, hal tersebut dikarenakan belum maksimalnya sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat. Adapun beberapa kendala yaitu pelaksanaan program sosialisasi, tidak adanya aturan sanksi perkawinan anak, implikasi UU Nomor 16 Tahun 2019, serta rendahnya kesadaran masyarakat. Gerakan JoKawinBocah dalam upayanya mencegah perkawinan anak berkontribusi dalam melindungi hak-hak dasar anak diantaranya hak perlindungan dari kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi, hak partisipasi, hak pendidikan, dan hak bermain.

مستخلص البحث

لا يزال زواج الأطفال قضية وطنية تسبب انتهاكات لحقوق الإنسان للأطفال. الأطفال كبشر أحرار لهم حقوق يجب أن تحميها الحكومة والمجتمع والأسرة. بناءً على القانون رقم 35 لعام 2014 بشأن التعديلات على القانون رقم 23 لعام 2002، بشأن حماية الطفل الذي تم تضمينه في فئة الأطفال هو شخص لم يبلغ من العمر 18 عامًا، بما في ذلك الأطفال الذين لا يزالون في الرحم. حركة JoKawinBocah هي جهد بدأته DP3AP2KB (Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana) في مقاطعة جاوا الوسطى لمنع زواج الأطفال. تساهم "DP3A مدينة سيمارانج" وهي مسؤولة عن التنشئة الاجتماعية لحركة JoKawinBocah إلى المجتمع. يهدف هذا البحث إلى تحديد العوائق التي تحول دون تنفيذ حركة JoKawinBocah وفحص حقوق الأطفال التي يتم تنفيذها من وجود حركة JoKawinBocah في جهودها لمنع زواج الأطفال في مدينة سيمارانج.

هذا البحث هو نوع من البحث القانوني التجريبي الذي يستخدم منهجًا اجتماعيًا وتشريعيًا ومفاهيميًا، ومصادر البيانات المستخدمة هي مصادر البيانات الأساسية والثانوية. مصدر البيانات الأساسي هو نتائج المقابلات التي أجراها المخبرون الذين لهم دور في حركة JoKawinBocah. مصادر البيانات الثانوية هي في شكل بيانات إحصائية واردة في "DP3A مدينة سيمارانج" فيما يتعلق بزواج الأطفال، وكذلك القوانين واللوائح المتعلقة بزواج الأطفال.
ونتائج البحث تم الحصول عليها أن حركة

JoKawinBocah لم تساهم على النحو الأمثل في تقليل عدد حالات زواج الأطفال في مدينة سيمارانج، ويرجع ذلك إلى الافتقار إلى التنشئة الاجتماعية على جميع مستويات المجتمع. هناك عدة عقبات، وهي تنفيذ برامج التنشئة الاجتماعية، وغياب قواعد معاقبة زواج الأطفال، والآثار المترتبة على القانون رقم 16 لعام 2019، وتدني الوعي العام. تساهم حركة JoKawinBocah في جهودها لمنع زواج الأطفال في حماية الحقوق الأساسية للأطفال بما في ذلك الحق في الحماية من العنف والاستغلال والتمييز، والحق في المشاركة، والحق في التعليم، والحق في اللعب.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Arifah, Risma Nur
Keywords: JoKawinBocah; Child Marriage Prevention; Children’s Rights; Gerakan JoKawinBocah; Pencegahan Kawin Anak; Hak Anak; حركة JoKawinBocah; منع زواج الأطفال; حقوق الأطفال
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Nisrin Azka Fajrina
Date Deposited: 26 Jun 2023 08:53
Last Modified: 26 Jun 2023 08:53
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/51761

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item