Responsive Banner

Pandangan Hakim terhadap Korelasi antara Dispensasi perkawinan dengan perceraian: Studi kasus di Pengadilan Agama Kabupaten Malang

Azizah, Rohmatul (2018) Pandangan Hakim terhadap Korelasi antara Dispensasi perkawinan dengan perceraian: Studi kasus di Pengadilan Agama Kabupaten Malang. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img] Text (Fulltext)
14210036.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB) | Request a copy

Abstract

ABSTRAK

Pengadilan Agama Kabupaten Malang menangani perkara permohonan dispensasi perkawinan karena belum mencapai batas minimal usia perkawinan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Pasal 7 ayat (1). Dari beberapa permohonan dispensasi perkawinan tersebut ternyata banyak yang kembali ke Pengadilan Agama Kabupaten Malang untuk mengajukan perceraian. Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah faktor yang melatar belakangi terjadinya perceraian pada pasangan dispensasi perkawinan di Pengadilan Agama Kabupaten Malang dan korelasi antara dispensasi perkawinan dengan perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Malang.

Penelitian ini tergolong penelitian lapangan (Field Research) dan jenis penelitiannya yuridis empiris dengan menggunakan pendekatan penelitian deskriptif-kualitatif. Sumber data utama yang digunakan melalui wawancara kepada tiga Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Malang dan satu para pihak yang bercerai dari pasangan dispensasi kawin. Selanjutnya dengan dokumen penetapan dispensasi perkawin dan putusan perceraian.

Hasil penelitian yang dilakukan di Pengadilan Agama Kabupaten Malang ialah faktor yang melatarbelakangi terjadinya perceraian dari pasangan dispensasi perkawinan yaitu kurang layaknya nafkah dan terjadinya pertengkaran dan perselisihan secara terus menerus. Sedangkan korelasi antara dispensasi perkawinan dengan perceraian yakni terjadinya pernikahan dari pasangan dispensasi perkawinan karena keterpaksaan menyebabkan tidak adanya kesiapan mental dan finansial yang tidak mencukupi sehingga menimbulkan pertengkaran serta perselisihan, dan pada akhirnya mengajukan perceraian. Jumlah orang yang mengajukan perkara dispensasi perkawinan pertahunnya lebih dari 300, sedangkan yang kembali lagi ke Pengadilan Agama untuk mengajukan perceraian berjumlah sekitar 30 perkara. Dari jumlah tersebut sudah terlihat adanya mudhorot dari akibat pernikahan dini. Pernikahan dini ditinjau dari fiqh dianggap sah karena batasan umur menikah dalam fiqh yakni sudah baligh, sedangkan ditinjau dari Undang-Undang Perkawinan pernikahan dini dianggap menimbulkan banyak mudhorot. Jika ditinjau dari kesehatan biologis pernikahan dini dianggap belum mencapai umur ideal yakni 20-25 tahun, sedangkan ditinjau dari psikologis pernikahan dianggap baik dan positif apabila pernikahannya dilakukan karena sudah siap mental.

ABSTRACT

The Religious Court of Malang Regency handles matters of marriage dispensation because they have not reached the minimum age of marriage as regulated in Law Number 1 of 1974 Article 7 paragraph (1). From several applications of marriage dispensation it turns out that many returned to the Religious Court of Malang Regency to propose divorce. The subject matter in this research is the factor of the background of divorce on the couple of marriage dispensation in Religious Court of Malang Regency and correlation between marriage dispensation with high number of divorce in Religious Court of Malang Regency.

This research using field research (Field Research) and the type of research empirical juridical by using descriptive-qualitative research approach. The main data source used through interviews to three Religious Court Judges of Malang Regency and one divorced party from the married dispensation pair. Furthermore, with the documents of the provision of marriage dispensation and divorce decisions.

The results of research conducted in the Religious Court of Malang Regency is the factors behind the divorce from the couple of marriage dispensation, namely the lack of proper living and the occurrence of disputes and disputes continuously. Whereas the correlation between marital dispensation and divorce, namely the occurrence of marriage from a couple of marital dispensation due to compulsion led to the absence of insufficient mental and financial readiness that caused disputes and disputes, and eventually filed for divorce. The number of people who filed cases of annual marriage dispensation was more than 300, while those who returned to the Religious Courts to file divorce were about 30 cases. Of this amount, it has been seen that there is a harms from the effects of early marriage. Early marriage in terms of fiqh is considered legitimate because the age limit is married in fiqh that is adult, whereas in terms of the Marriage Law early marriage is considered to cause many harms. If viewed from the biological health of early marriage is considered not yet reached the ideal age of 20-25 years, whereas in terms of psychological marriage is considered good and positive if the marriage is done because it is mentally ready.

مستخلص البحث

عالجت المحكمة الدينية مالانج مطلبة رخصة الزواج النقصان عمر العروسين كما رتبها الدستور رقم الأول سنة ١٩٧٤ أية (١). ومن مطالب رخصة الزواج، كثير من المستدعيين الذين يعودون إلى المحكمة لتقديم الطلاق. المشكلة الأساسية في هذا البحث هي العوامل الدافعة لوقوع الطلاق في البعل من رخصة الزواج في المحكمة الدينية مالانج والعلاقة بين رخصة الزواج مع ارتفاع قضية الطلاق في المحكمة الدينية مالانج.

يشمل هذا البحث على البحث الحقلي ونوعه هو البحث الحقوقي الواقعي بالمدخل الوصفي والكيفي. مصادر البيانات الرئيسية هي المقابلة مع ثلاثة قضاة في المحكمة الدينية مالانج، وفرد من مطلقة في رخصة الزواج. وبالتالي، مع البيانات عن تقرير رخصة الزواج وحكم الطلاق.

أما نتائج البحث هي أن العوامل الدافعة لوقوع الطلاق هي عدم لياقة النفقة وكثرة النزاعات المستمرة. أما العلاقة بين رخصة الزواج مع الطلاق هي فيوجد أن وقوع الطلاق من الفاعل بالزواج المبكر بسبب الإجبار الذي يؤدي إلى عدم الاستعداد من ناحية الروحية ونقصان النفقة يؤدي إلى النزاعات والصراعات. عدد المستدعيين لقضية رخصة الزواج لكل سنة يجاوز عن ٣٠٠ شخصا، وهم يعودون إلى المحكمة ليقدمون مطلبة الطلاق قدر ٣٠ قضية. فمن هذا العدد، يعرف بأن هناك أثار سلبية من الزواج المبكر. أما الزواج المبكر إذ كشف من خلال الفقه جائز لأن حد العمر للزواج هو البلوغ، أما في الدستور يعتبر أن الزواج المبكر يسبب إلى آثار سلبية. ومن ناحية الصحية، الزواج المبكر لم يبلغ حد العمر اللائق وهو ٢٠-٢٥ عاما. أما من ناحية السيكولوجية يعتبر أن الزواج صالح وإيجابي إن كان العروسان مستعدين.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Zuhriah, Erfaniah
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDZuhriah, ErfaniahUNSPECIFIED
Keywords: Dispensasi Perkawinan; Perceraian; Pernikahan Dini; Marriage Dispensation; Divorce; Early Marriage; رخصة الزواج; الطلاق; والزواج المبكر
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Meirisa Anggraeni
Date Deposited: 17 Mar 2023 13:31
Last Modified: 17 Mar 2023 13:31
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/48594

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item