Responsive Banner

Reorientasi konsep nafkah tenaga kerja wanita pada perkara cerai gugat: Studi pandangan hakim Pengadilan Agama Blitar

Safitri, Khaerani (2023) Reorientasi konsep nafkah tenaga kerja wanita pada perkara cerai gugat: Studi pandangan hakim Pengadilan Agama Blitar. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img] Text (Fulltext)
19210081.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB)

Abstract

ABSTRAK

Banyaknya pengajuan gugatan cerai di Pengadilan Agama Blitar yang diajukan oleh seorang TKW. Tahun 2021 sekitar 60% dari seluruh pengajuan gugatan cerai di Pengadilan Agama Blitar diajukan oleh seorang TKW. Fakta di lapangan rata-rata TKW yang mengajukan gugatan cerai dilatar belakangi oleh faktor ekonomi suami nya. Dikarenakan suami tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan keluarga bahkan sampai ada suami yang telah sepenuhnya menyerahkan kewajiban untuk mencari nafkah kepada istri.

Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan bagaimana konsep nafkah bagi keluarga kalangan TKW perspektif norma hukum di Indonesia dan untuk mengetahui Bagaimana pandangan hakim Pengadilan Agama Blitar terhadap hak dan kewajiban suami istri pada perkara cerai gugat kalangan TKW. Penelitian ini merupakan jenis penelitian hukum empiris yaitu menganalisis perilaku di dalam masyarakat dengan hukum yang berlaku. Penelitian ini mengkaji mengenai reorientasi konsep nafkah TKW atas banyaknya cerai gugat di Pengadilan Agama Blitar oleh kalangan TKW yang di latar belakangi oleh faktor ekonomi suaminya.

Norma hukum di Indonesia yang mengatur mengenai perkawinan yaitu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam. Terdapat salah satu Pasl dalam ketentuan tersebut yang mengatur bahwa suami haruslah bekerja walaupun seorang istri telah bekerja menjadi TKW dan memiliki penghasilan lebih besar dari suami. Sementara itu terdapat perbedaan pendapat dari hakim mengenai kewajiban pemenuhan nafkah oleh suami pada keluarga kalangan TKW. Ada hakim yang berpendapat apabila seorang istri telah bekerja menjadi TKW maka suami tetap berkewajiban memberi nafkah, ada pula pendapat sebaliknya bahwa suami gugur atas pemenuhan nafkah kepada istri. Para hakim berpendapat bahwa istri berhak untuk menggugat cerai karena suami kurang mencukupi kebutuhan pokok yang diperlukan untuk hidup. Para hakim berpendapat sejalan dengan tafsir ibnu katsir bahwa suami berperan sebagai kepala rumah tangga atau pemimpin bagi istrinya memang sudah kodrat dari Allah Swt., bagaimanapun keadaannya. Walaupun istri penyumbang nafkah terbanyak untuk keluarganya.

ABSTRACT

The number of filings for divorce at the Blitar Religious Court was filed by migrant women workers. About 60% of all divorce claims at the Blitar Religious Court were filed by migrant women workers. Facts on the ground, the average migrant women workers who filed for divorce was motivated by her husband's economic factors. Because the husband is unable to meet the needs of the family even to the extent that there is a husband who has completely surrendered the obligation to earn a living to his wife.

This research was conducted to explain how the concept of living for the family among migrant women workers from the perspective of legal norms in Indonesia and to find out how the Blitar Religious Court judges view the rights and obligations of husband and wife in cases of contested divorce among migrant women workers. This research is a type of empirical legal research, namely analyzing behavior in society with applicable law. This study examines the reorientation of the concept of migrant women worker’s livelihood to the many divorces that were contested at the Blitar Religious Court by migrant women worker members whose background was their husband's economic factors.

The legal norms in Indonesia that regulate marriage are Law Number 1 of 1974 concerning Marriage and the Compilation of Islamic Law. This provision stipulates that a husband must work even though a wife has worked as a migrant worker and has a higher income than her husband. Meanwhile, the wife who works as a migrant women workers has different opinions regarding the obligation to fulfill a living by the husband in the migrant women workers family. There are judges who are of the opinion that if a wife has worked as a migrant women workers, the husband is still obliged to provide maintenance, there is also the opposite opinion that the husband dies for fulfilling the maintenance of his wife. The judges were of the opinion that the wife had the right to file for divorce because the husband lacked sufficient basic necessities for life. The judges were of the opinion that in line with the interpretation of ibn katsir that the husband's role as the head of the household or leader for his wife is in the nature of Allah SWT, regardless of the circumstances. Although the wife contributes the most income to the family.

مستخلص البحث

تم رفع عدد طلبات الطلاق في محكمة بليتار الدينية من قبل عاملة مهاجرة. حوالي ٦٠ ٪ من جميع دعاوى الطلاق في محكمة بليتار الدينية تم رفعها من قبل عاملة مهاجرة. الحقائق على الأرض هي أن العامل المهاجر العادي الذي يطلب الطلاق تحركه العوامل الاقتصادية لزوجها. لأن الزوج غير قادر على تلبية احتياجات الأسرة حتى لدرجة أن هناك زوجًا قد تخلى تمامًا عن واجب كسب العيش لزوجته.

تم إجراء هذا البحث لشرح كيفية مفهوم العيش للأسرة بين العاملات المهاجرات من منظور المعايير القانونية في إندونيسيا ولمعرفة كيف ينظر قضاة محكمة بليتار الدينية إلى حقوق والتزامات الزوج والزوجة في حالات الطلاق المتنازع عليه. بين العاملات المهاجرات. هذا البحث هو نوع من البحث القانوني التجريبي ، أي تحليل السلوك في المجتمع مع القانون المعمول به.

القواعد القانونية في إندونيسيا التي تنظم الزواج هي القانون رقم ١ لعام ١٩٧٤ بشأن الزواج وتجميع الشريعة الإسلامية. وينص الحكم على أن الزوج يجب أن يعمل رغم أن الزوجة تعمل عاملة مهاجرة ولديها دخل أعلى من دخل زوجها. وفي الوقت نفسه ، يرى القاضي أن الزوجة التي تعمل عاملة مهاجرة تختلف في الرأي فيما يتعلق بواجب أن يكسب زوجها لقمة العيش في أسرة العاملات المهاجرات. هناك قضاة يرون أنه إذا عملت الزوجة عاملة مهاجرة ، فلا يزال الزوج ملزمًا بإعالة الزوج ، وهناك أيضًا رأي مخالف بأن الزوج يموت بسبب نفقته على زوجته. ورأى القضاة أن للزوجة الحق في طلب الطلاق لأن الزوج يفتقر إلى الضروريات الأساسية للحياة. رأى القضاة أنه تمشيا مع تفسير ابن كتسر أن دور الزوج كرئيس للأسرة أو زعيم لزوجته هو في طبيعة الله سبحانه وتعالى ، بغض النظر عن الظروف. رغم أن الزوجة تساهم بأكبر دخل للأسرة.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Sholehuddin, Miftahus
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDSholehuddin, MiftahusUNSPECIFIED
Keywords: Pencari Nafkah, Tenaga Kerja Wanita, Cerai Gugat; Breadwinner, Migran Women Workers, Sue for Divorce; النفقة, العاملات المهاجرات, خلع
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180113 Family Law
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Khaerani Safitri
Date Deposited: 10 Apr 2023 08:58
Last Modified: 10 Apr 2023 08:58
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/48455

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item