Responsive Banner

Salēp Tarjhâ: Antara realitas, normatifitas, dan mitos

Fajry, Helman (2007) Salēp Tarjhâ: Antara realitas, normatifitas, dan mitos. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img] Text (Fulltext)
03210053.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (440kB) | Request a copy

Abstract

ABSTRAK

Masyarakat Madura di satu sisi merupakan masyarakat agamis dengan menjadikan Islam sebagai agama dan keyakinannya, akan tetapi di sisi lain juga masih cukup kuat dalam mempertahankan adat dan tradisi yang adakalanya bertentangan dengan ketentuan syari’at Islam karena adat dan tradisi yang dipertahankan tersebut hanya berlandaskan pada mitos-mitos yang tidak dapat dirasionalisasikan dan cenderung bertentangan dengan aqidah Islamiyah, seperti larangan untuk melakukan perkawinan dengan model Salēp Tarjhâ.

Perkawinan Salēp Tarjhâ adalah perkawinan silang antara 2 (dua) orang bersaudara (putra-putri). Contoh : Andi dan Susi adalah dua orang bersaudara (kakak-adik) yang dijodohkan/dinikahkan secara silang dengan Ani dan Agus yang juga dua orang bersaudara (kakak-adik). Perkawinan Salēp Tarjhâ ini merupakan salah satu model perkawinan yang benar secara syari’at Islam dan ketentuan perundang-undangan yang ada di Indonesia, akan tetapi dilarang berdasarkan ketentuan adat-istiadat masyarakat Madura karena diyakini dapat membawa bencana dan musibah bagi pelaku maupun keluarganya, seperti: rezekinya akan sulit, sakit- sakitan (ke’sakean) atau bahkan meninggal dunia. Namun walau demikian, ada beberapa orang dari masyarakat Madura yang “berani” melawan arus ketentuan adat- istiadat tersebut sebagaimana yang terjadi di Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan.

Realitas sebagaimana tersebut di atas itulah yang kemudian membuat penulis merasa tertarik untuk meneliti dan mengkaji lebih mendalam bagaimana realitas, normatifitas, dan mitos perkawinan Salēp Tarjhâ pada masyarakat Madura dengan menggunakan paradigma etnografi dan pendekatan kualitatif serta menggunakan observasi dan wawancara sebagai metode pengumpulan datanya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan penjelasan mengenai relasi antara realitas, normatifitas, dan mitos perkawinan Salēp Tarjhâ di Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan.

Hasil penelitian ini memperoleh kesimpulan, bahwa realitas tersebut di atas terjadi karena adanya “pertarungan pemahaman” antara ulama/kiai (keyae) dan sesepuh masyarakat tentang persoalan kepercayaan terhadap mitos perkawinan Salēp Tarjhâ, di mana para kiai berpegang teguh pada pendiriannya bahwa perkawinan Salēp Tarjhâ itu boleh-boleh saja karena tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Sedangkan sesepuh masyarakat juga berpegang teguh pada pendiriannya bahwa perkawinan Salēp Tarjhâ itu tidak boleh dilakukan karena dapat mendatangkan musibah atau bencana bagi pelaku maupun keluarga pelaku perkawinan tersebut.

Adanya perbedaan pemahaman antara para kiai (keyae) dan sesepuh masyarakat tentang kepercayaan terhadap mitos perkawinan Salēp Tarjhâ tersebut pada akhirnya berimplikasi pada terkotaknya masyarakat ke dalam 3 (tiga) golongan, yaitu: Golongan pertama, sebagian dari masyarakat memahami bahwa perkawinan Salēp Tarjhâ itu adalah sesuatu yang harus dihindari dan tidak boleh dilakukan karena sudah menjadi sebuah keyakinan bahwa perkawinan tersebut dapat mendatangkan malapetaka atau musibah bagi siapa saja yang tetap melakukannya. Golongan kedua, sebagian dari masyarakat “setengah-setengah” antara percaya dan tidak percaya atau “ragu-ragu” terhadap mitos perkawinan Salēp Tarjhâ tersebut. Golongan ketiga, sebagian dari masyarakat tidak percaya dan bahkan tidak yakin sama sekali terhadap mitos perkawinan Salēp Tarjhâ tersebut karena menurut pemahaman mereka keyakinan terhadap mitos-mitos sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam. Kenyataan ini, menunjukkan bahwa sungguhpun masyarakat Madura khususnya masyarakat Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan merupakan masyarakat agamis, ternyata dalam kehidupannya masih sangat sulit untuk meninggalkan tradisi dan adat-istiadat yang diwarisi secara turun- temurun dari para leluhur mereka.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Zenrif, M. Fauzan
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDZenrif, M. FauzanUNSPECIFIED
Keywords: Salēp Tarjhâ; Normatifitas; Mitos; Realitas
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Fadlli Syahmi
Date Deposited: 03 Feb 2023 10:17
Last Modified: 03 Feb 2023 10:17
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/46011

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item