Pengaruh Isolat alami Pseudomonas fluorescens pada beberapa tingkat pengenceran terhadap jamur Sclerotium rolfsii penyakit layu pada kedelai (Glycine max (L) Merill)

Nasikhah, Khusnun (2008) Pengaruh Isolat alami Pseudomonas fluorescens pada beberapa tingkat pengenceran terhadap jamur Sclerotium rolfsii penyakit layu pada kedelai (Glycine max (L) Merill). Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Full text)
03520017.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB) | Preview

Abstract

INDONESIA:

Kedelai memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan sebagai bahan pangan dan pakan ternak yang mengandung protein nabati tinggi. Pada tahun 1990 konsumsi kedelai dalam negeri tercatat 1,9 ton sedangkan produksi hanya mencapai 1,1 ton. Salah satu penyebab rendahnya produksi adalah adanya serangan penyakit layu oleh S. rolsfii. Penyakit ini sering ditemukan pada tanaman kedelai baik lahan kering, tadah hujan maupun pasang surut dengan intensitas serangan sebesar 5-55%. Tingkat serangan lebih dari 5% di lapang sudah dapat merugikan secara ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa produksi kedelai nasional tidak dapat memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin meningkat, sehingga masih perlu ditutup dengan impor.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) pada tingkat pengenceran berapa bakteri P. fluorescens paling menghambat pertumbuhan S. rolfsii secara in vitro (2) pada tingkat pengenceran berapa bakteri P. fluorescens paling mempengaruhi pertumbuhan S. rolfsii pada kedelai secara in vivo. Penelitian dilakukan mulai bulan September 2007 sampai Nopember 2007. Percobaan terdiri dari 2 kegiatan yaitu in vitro dan in vivo. Pertama, penelitian in vitro yaitu uji daya antagonisme bakteri P. fluorescens terhadap jamur S. rolfsii secara in vitro pada media PDA, percobaan dilakukan di laboratorium bakteriologi BALITKABI Malang, menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 ulangan dan 5 perlakuan yang terdiri dari 4 tingkat pengenceran (10-4, 10-5, 10-6 dan 10-7) dan kontrol tanpa P. fluorescens. Kedua, penelitian in vivo dilakukan di rumah kaca dengan parameter pengamatan persentase penyakit, tinggi tanaman dan berat kering brangkasan tanaman. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 ulangan dan 6 perlakuan yang terdiri dari 4 tingkat pengenceran (10-4, 10-5, 10-6 dan 10-7), kontrol tanpa P. fluorescens dan kontrol tanaman sehat tanpa jamur S. rolfsii dan bakteri P. fluorescens.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengenceran isolat bakteri P. fluorescens berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur S. rolfsii secara in vitro, hasil uji daya antagonis didapatkan P. fluorescens dengan tingkat pengenceran 10-5 mampu menekan pertumbuhan S. rolfsii sampai 62,66%. Pada percobaan secara in vivo, persentase serangan terendah pada pengamatan terakhir (28 HST) adalah 37,02% pada tingkat pengenceran 10-6, tinggi tanaman tidak mengalami perbedaan nyata secara statistik dan berat kering brangkasan terbesar adalah 1,23 gram pada tingkat pengenceran 10-4.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Savitri, Evika Sandi and Rahaju, Mudji and Abidin, Munirul
Keywords: Tingkat pengenceran; P. fluorescens; S. rolfsii; Kedelai
Departement: Fakultas Sains dan Teknologi > Jurusan Biologi
Depositing User: Siti Maimunah
Date Deposited: 15 Aug 2016 07:11
Last Modified: 15 Aug 2016 07:11
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/4469

Actions (login required)

View Item View Item