Responsive Banner

Tinjauan Hukum Islam tentang bagi hasil (Paroan) dalam kerja sama pengembangbiakan ternak sapi: Studi kasus di Desa Butun Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar

Ahmada, Chamidudin (2022) Tinjauan Hukum Islam tentang bagi hasil (Paroan) dalam kerja sama pengembangbiakan ternak sapi: Studi kasus di Desa Butun Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
18220170.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB) | Preview

Abstract

ABSTRAK

Bagi hasil adalah transaksi pengelolaan peternakan dengan upah sebagian hasil yang keluar dari padanya. Yang dimaksudkan di sini adalah pemberian hasil untuk orang yang mengola atau memelihara hewan ternak (sapi) dari yang dihasilkannya seperti setengah, sepertiga atau lebih dari itu atau pula lebih rendah sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak (pemodal dan pengelola). Meskipun demikian terdapat beberapa permasalahan seperti perjanjian (akad) dilakukan secara lisan hanya bermodalkan unsur kepercayaan tanpa ada perjanjian tertulis, dan bila terjadi kerugian terhadap kerja sama bagi hasil pemeliharaan sapi tersebut, maka kerugian dilimpahkan kepada pemelihara sehingga hal ini tidak sesuai dengan hukum islam terutama terhadap konsep mudharabah.

Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan perjanjian pada kerja sama bagi hasil (paroan) pengembangbiakan sapi pada peternak di desa Butun Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar. Dan mengetahui tinjauan hukum islam serta manfaat terhadap bagi hasil (paroan) dalam kerjasama pengembangbiakan ternak sapi antara pemilik dengan Pengelola hewan ternak.

Penelitian ini termasuk jenis penelitian empiris dengan menggunakan pendekatan sosiologis, sumber data primer yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi serta data sekunder dari Pemerintah desa Butun, dan Hukum Islam. Terdapat 5 tahapan analisis data dalam penelitian ini yakni, edit, klasifikasi, verifikasi, analisis data dan kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan perjanjian bagi hasil (paroan) pengembangbiakan ternak sapi di Desa Butun dilakukan antara pemilik modal dan pengelola ternak sapi dilakukan dengan cara lisan dan tanpa ada saksi hanya didasari unsur saling percaya, sedangkan dalam batas waktunya terkadang tidak ditentukan dalam pelaksanaannya, Mengenai pembagian hasil dibagi 2 antara pemilik modal dan pengelola ternak sapi, dilakukan atas dasar kebiasaan masyarakat setempat. Untuk keuntungan penjualan sapi dibagi 50:50 namun bagiannya pengelola masih kepotong sama operasional. Jika ditinjau dari hukum islam perjanjian kerjasama bagi hasil (paroan) ternak sapi belum memenuhi konsep dalam hukum islam terutama kurang sesuai dengan asas-asas dalam akad mudharabah. Oleh karenanya, perlu memperjelas tentang akad dan pembagian keuntungan kerjasama bagi hasil ternak sapi agar tidak merugikan kedua belah pihak.

ABSTRACT

Profit sharing is a livestock management transaction with a portion of the proceeds coming out of it. It means that the giving of results for people who cultivate or raise livestock (cows) from what they produce, such as half, one third or more of that or lower according to the agreement of both parties (investors and managers). However, there are several problems such as the agreement (contract) is carried out verbally only with an element of trust without a written agreement, and if there is a loss to the cooperation for the production of the cattle raising, the loss is transferred to the keeper so that this is not in accordance with Islamic law, especially to mudharabah concept.

This study aims to determine the implementation of the agreement on the profit sharing (paroan) of cattle breeding for breeders in Butun Village, Gandusari District, Blitar Regency. And knowing the review of Islamic law and the benefits of profit sharing (paroan) in the collaboration of cattle breeding between owners and managers of livestock.

This research includes empirical research using a sociological approach, primary data sources obtained from interviews and observations as well as secondary data from the Butun village government, and Islamic law. There are 5 stages of data analysis in this study such as editing, classification, verification, data analysis and conclusions.

The results showed that the implementation of the profit-sharing agreement (paroan) of cattle breeding in Butun Village was carried out between the owner of capital and the manager of the cattle carried out verbally and without any witnesses only based on mutual trust, while the time limit was sometimes not specified in its implementation. However, there are owners of capital who determine the time limit is 1 to 2 years. Regarding the distribution of the results divided by the owner of capital and the manager of cattle, it is done on the basis of the habits of the local community. The profit from the sale of cattle is divided by 50:50, but the manager's share is still equal to operations. If viewed from Islamic law, the production sharing agreement (paroan) of cattle does not meet the concepts in Islamic law, especially not in accordance with the principles in the mudharabah contract. Therefore, it is necessary to clarify in detail about the contract and the distribution of profits for the production of cattle so as not to harm both parties.

مستلخص البحث

تقاسم الأرباح هو معاملة إدارة مزرعة مع أجر جزئي من العائدات الناتجة عنها. والمقصود هنا هو إعطاء العائدات للأشخاص الذين يديرون أو يربون المزرعة (الأبقار) مما ينتجونه مثل نصفه أو ثلثه أو أكثر أو أقل أيضا وفقا لاتفاق الطرفين (المستثمرين والمديرين). إلا أن هناك بعض المشاكل مثل الاتفاق (العقد) الذي لا يتم شفهيا إلا بعنصر من عناصر الثقة دون اتفاق مكتوب، وإذا كان هناك خسارة في التعاون من أجل صيانة البقرة فإن الخسارة تؤول إلى القائم بحيث لا يكون ذلك متوافقا مع الشريعة الإسلامية وخاصة لمفهوم المضاربة.

في هذه البحث ، تهدف إلى تحديد تنفيذ اتفاقيات التعاون في تقاسم الأرباح (paroan) تربية الماشية للمزارعين في قرية بوتون ، ناحية غاندوساري ، منطقة باليتار. ومعرفة مراجعة الشريعة الإسلامية وفوائد تقاسم الأرباح (paroan) في تعاون تربية الماشية بين أصحابها ومديري الثروة الحيوانية.

يتضمن هذا البحث نوعا من البحوث التجريبية باستخدام نهج اجتماعي ، ومصادر البيانات الأولية التي تم الحصول عليها من المقابلات والملاحظات وكذلك البيانات الثانوية من حكومة قرية بوتون ، والشريعة الإسلامية. هناك 5 مراحل لتحليل البيانات في هذه الدراسة ، وهي التحرير والتصنيف والتحقق وتحليل البيانات والاستنتاجات.

أظهرت النتائج أن تنفيذ اتفاقية تقاسم الأرباح (paroan) لتربية الماشية في قرية بوتون تم بين مالك رأس المال ومدير الماشية بالطرق الشفهية ودون أي شهود فقط بناء على عنصر الثقة المتبادلة، بينما في المهلة الزمنية في بعض الأحيان لا يتم تحديدها في تنفيذها، ولكن هناك أصحاب رؤوس الأموال الذين يحددون المهلة الزمنية هناك 1 إلى 2 سنوات. ما يتعلق بتقسيم العائدات مقسوما على 2 بين مالكي رأس المال ومديري الماشية ، التي تتم على أساس عادات السكان المحليين. من أجل ربح بيع الماشية مقسوما على 50: 50 ولكن جزء من المدير لا يزال مقطوعا عن نفس العملية. عند النظر إليها من الشريعة الإسلامية ، فإن اتفاقية التعاون في تقاسم الأرباح (paroan (الماشية لم تستوف المفهوم في الشريعة الإسلامية ، خاصة أنها لا تتوافق مع المبادئ الواردة في اتفاقية المضاربة. لذلك ، من الضروري التوضيح بالتفصيل حول العقد وتقاسم الأرباح للتعاون في تقاسم إيرادات الماشية حتى لا تضر بكل الطرفين.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Al Munawar, Faishal Agil
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDAl Munawar, Faishal AgilUNSPECIFIED
Keywords: Perjanjian; Bagi hasil; Ternak Sapi; Agreement; Profit Sharing; Cattle; اتفاق; تقاسم الأرباح; الماشية
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1899 Other Law and Legal Studies > 189999 Law and Legal Studies not elsewhere classified
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan Hukum Bisnis Syariah
Depositing User: Unnamed user with email 18220170@student.uin-malang.ac.id
Date Deposited: 13 Jan 2023 10:40
Last Modified: 01 Feb 2023 07:37
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/44383

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item