Pola mengingat pada tunanetra penghafal Al-Qur'an: Study kasus pada seorang tunanetra penghafal Al-Qur’an di Desa Ngadirejo Kec. Pogalan Kab. Trenggalek

Iksan, Mohamad (2008) Pola mengingat pada tunanetra penghafal Al-Qur'an: Study kasus pada seorang tunanetra penghafal Al-Qur’an di Desa Ngadirejo Kec. Pogalan Kab. Trenggalek. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
04410098.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB) | Preview

Abstract

INDONESIA:

Pola mengingat merupakan salah satu metode dalam pembelajaran, dimana seorang yang hafal al-Qur'an mempunyai cara yang berbeda-beda dalam pola mengingat pada saat menghafalkan al-Qur'an. Terutama dalam tahap encoding (memasukkan informasi), storage (penyimpanan), retrieval (mengingat kembali). Adapun dalam hal ini peneliti menemukan seorang tunanetra yang biasa di panggil " Mbah Nur ", yang mampu menghafalkan al-Qur'an hingga sempurna 30 juz. Yang mana, seorang tunanetra ini kemungkinan mempunyai cara yang berbeda dari penghafal al-Qur'an yang lain pada tahap encoding, storage, dan retrieval, dalam pola mengingat pada saat menghafalkan ayat-ayat al-Qur'an.

Melihat wacana yang ada maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang “Pola Mengingat Pada Tunanetra Penghafal Al-Qur'an(Study Kasus Pada Seorang Tunanetra Penghafal Al-Qur’an di Desa Ngadirejo Kec. Pogalan Kab. Trenggalek )”.

Adapun Rumusan Masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana pola mengingat pada tuna netra penghafal al-Qur’an. Dan tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan menjelaskan pola mengingat pada tunanetra penghafal al-Qur'an. Bahasan yang diangkat adalah tahap encoding, storage, retrieval serta alat bantu daya ingat dalam pola mengingat pada tunanetra penghafal al-Qur'an. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualiatif dengan jenis penelitian studi kasus dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, interview, dan dokumentasi.

Berdasarkan data kualitaif tersebut, maka penulis dapat mengambil kesimpulan: (1) tahap encoding, yaitu dengan mendengarkan ayat per-ayat yang telah di bacakan oleh gurunya, dengan mencermati hukum-hukum tajwid per kalimat yang setiap kali dibacakan, dengan penuh kesabaran dan perhatian, (2) tahap storage, yaitu ayat-ayat al-Qur'an yang didengar lewat media yang dibacakan langsung dari ustadznya per-ayat demi ayat tersebut diulang mulai dari 3 kali sampai 10 kali untuk mencapai daya ingat yang kuat dan hafal hingga satu halaman (shofhah), dalam waktu yang kurang lebih 2 jam.(3) tahap retrieval yaitu mengulangi semua ayat-ayat al-Qur'an yang sudah di dapat (dihafalkan) lewat media pendengaran dari gurunya tersebut dengan membiasakan (meng- istiqomahkan) mengulangi (muroja'ah) hafalannya pada waktu pagi dan sore hari atau setelah sholat lima waktu dalam setiap harinya. Semisal hafalannya sudah dapat 6 juz, mbah Nur memuroja'ah (mengulang kembali) setiap hari 5 juz secara acak, dengan rincian pagi setelah sholat shubuh 3 juz dan sore setelah sholat asyar 2 juz. Untuk saat ini karena adanya kesibukan keluarga, mengajar santri di rumahnya pada sore hari dan setelah maghrib serta seringnya ada undangan khotmil Qur'an maka 5 juz per-harinya terkadang dibagi dalam lima waktu, dengan per-satu (1) juz dibaca setelah selesai sholat lima waktu.

Sedangkan alat bantu yang digunakan untuk meningkatkan daya ingat hafalan al-Qur'an tersebut adalah Pertama, dengan menggunakan metode Chunks dengan memotong satu halaman al-Qur'an menjadi beberapa ayat yang dibacakan oleh Kyai-Nya per-ayat berkali-kali kepada Mbah Nur sampai hafal yang fungsinya untuk memudahkan dalam hal penyandian (encoding), penyimpanan (storage) dan mengingat kembali (retrieval) ayat-ayat al-Qur’an dalam proses menghafal al-Qur’an. Kedua, dengan rehearsal (pengulangan) hafalan ayat-ayat al-Qur'an pada setiap tahapan encoding, storage, dan retrieval. Jika ada 1 juz saja yang terlewatkan, maka mbah Nur melengkapi (menembel) satu juz tersebut pada waktu malam harinya. Selanjutnya bila sudah sampai hafal 30 juz, maka 1 minggu mbah Nur telah menghatamkan al-Qur'an. Begitu seterusnya mbah Nur tak henti- hentinya melafadzkan ayat-ayat al-Qur'an.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Yusuf, Aris Yuana
Keywords: Tunanetra; Hafalan Al-Qur'an
Departement: Fakultas Psikologi
Depositing User: Desy Putri Andika
Date Deposited: 12 Aug 2016 03:05
Last Modified: 12 Aug 2016 03:05
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/4386

Actions (login required)

View Item View Item