Pamungkas, Mohammad Arif (2021) Pandangan tokoh masyarakat terhadap status nasab anak hasil dari perkawinan wanita hamil: Studi kasus di Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
![]() |
Text (Fulltext)
17210071.pdf - Accepted Version Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives. Download (1MB) |
Abstract
ABSTRAK
Nikah merupakan salah satu ikatan yang menjadikan halalnya seseorang wanita dan laki-laki untuk menyalurkan naluri seksualnya. Hubungan seks sebelum adanya ikatan pernikahan adalah dilarang oleh Allah SWT. Karena merupakan zina, akibatnya terjadi kehamilan diluar nikah yang akan berimbas pada keluarga dan anak yang dikandungnya. Kehamilan diluar pernikahan merupakan aib, oleh karena itu untuk menjaga nama baik keluarga dan anak yang ada dalam kandungannya, pernikahan menjadi solusi terbaik bagi pelaku. Apabila dilahirkan anak hasil dari nikah wanita hamil maka dapat menimbulkan dua kemungkinan status nasab, yaitu anak sah dan anak tidak sah. Kasus pernikahan wanita hamil yang banyak terjadi dan status nasab anak yang jarang dipahami oleh masyarakat inilah yang menjadi latar belakang penulis untuk melakukan penelitian di Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri mengenai pandangan tokoh masyarakat terhadap status nasab anak hasil dari pernikahan wanita hamil yang ada di Kecamatan Plosoklaten.
Penelitian ini adalah penelitian lapangan. Adapun lokasi penelitian ini di Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri. Pengumpulan data dilaksanakan dengan cara wawancara tidak terstruktur terhadap subjek penelitian. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif
Pandangan tokoh masyarakat terhadap nasab anak hasil dari pernikahan wanita hamil adalah bahwa anak yang dilahirkan merupakan anak sah bagi kedua orang tua jika anak tersebut lahir dari minimal enam bulan usia kehamilan ibunya setelah dilaksanakannya pernikahan. Namun jika usia kehamilannya kurang dari enam bulan maka anak yang lahir nantinya hanya bisa dinasabkan kepada ibunya dan jika anaknya perempuan maka ayahnya kelak tidak bisa menjadi wali nikahnya yang harus digantikan dengan wali hakim. Hukum yang digunakan di Kecamatan Plosoklaten ini sudah sesuai dengan hukum fiqih Mazhab Syafi’i. Selain itu tokoh masyarakat di Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri berperan aktif dalam memberikan bimbingan kepada pelaku pernikahan wanita hamil dan juga keluarga yang bersangkutan untuk mengajak bertaubat dan lebih berhati-hati dalam menyikapi hak anak hasil dari pernikahan wanita hamil.
مستخلص البحث
الزواج من الروابط التي تحل للرجل والمرأة توجيه غرائزهما الجنسية. الجنس قبل الزواج حرم الله سبحانه وتعالى. ولأنه زنا، فالنتيجة هي الحمل خارج إطار الزواج الذي سيكون له تأثير على الأسرة والطفل الذي فيه. الحمل خارج إطار الزواج وصمة عار، وبالتالي للحفاظ على سمعة الأسرة والطفل في الرحم، فإن الزواج هو أفضل حل للجناة. إذا ولد طفل من زواج امرأة حامل، يمكن أن يؤدي ذلك إلى وضعين محتملين من نصاب، وهما الطفل الشرعي والطفل غير الشرعي. حالات زواج النساء الحوامل التي تحدث غالبًا وحالة نصاب الأطفال الذين نادرًا ما يفهمهم المجتمع هي خلفية المؤلف لإجراء بحث في منطقة بلوسوكلاتن، ريجنسي كيديري فيما يتعلق بآراء قادة المجتمع حول وضع نصاب الأطفال الناتجة عن زواج النساء الحوامل في منطقة بلوسوكلاتن.
هذا البحث هو بحث ميداني. يقع موقع هذا البحث في منطقة بلوسوكلاتن، ريجنسي كيديري. تم جمع البيانات عن طريق المقابلات غير المنظمة مع الأشخاص الذين تم بحثهم. نهج البحث المستخدم هو نهج وصفي نوعي.
وجهات نظر قادة المجتمع حول نسب الأطفال الناتجة عن زواج المرأة الحامل هي أن الطفل المولود هو طفل شرعي لكلا الوالدين إذا ولد الطفل من ستة أشهر على الأقل من عمر الحمل بعد إتمام الزواج. ومع ذلك، إذا كان عمر الحمل أقل من ستة أشهر، فلا يمكن تعيين الطفل المولود بعد ذلك إلا للأم، وإذا كان الطفل فتاة، فلن يكون الأب قادرًا على أن يصبح وصيًا على الزواج ويجب استبداله بـالقاضي الوصي. القانون المستخدم في منطقة بلوسوكلاتن يتوافق مع القانون الفقهي للمدرسة السيافية. بالإضافة إلى ذلك، يلعب قادة المجتمع المحلي في منطقة بلوسوكلاتن، في منطقة كيديري ريجنسي، دورًا نشطًا في تقديم التوجيه للجهات الفاعلة في الزواج من النساء الحوامل وأيضًا العائلات المعنية للدعوة إلى التوبة ويكونوا أكثر حرصًا في معالجة حقوق الأطفال الناتجة عن زواج المرأة الحامل.
ABSTRACT
Marriage is one of the bonds that make it lawful for a woman and a man to channel their sexual instincts. Sex before marriage is forbidden by Allah SWT. Because it is adultery, the result is a pregnancy outside of marriage which will have an impact on the family and the child it contains. Pregnancy outside of marriage is a disgrace, therefore to maintain the good name of the family and the child in the womb, marriage is the best solution for perpetrators. If a child is born from the marriage of a pregnant woman, it can lead to two possible nasab statuses, namely a legitimate child and an illegitimate child. The cases of marriages of pregnant women that often occur and the nasab status of children who are rarely understood by the community are the background for the author to research Plosoklaten District, Kediri Regency regarding the efforts of community leaders in tackling adultery and their views on the nasab status of children resulting from marriages of pregnant women. in Plosoklaten District.
This research is a field research. The location of this research is in Plosoklaten District, Kediri Regency. Data collection was carried out by means of unstructured interviews with research subjects. The research approach used is a qualitative descriptive approach The views of community leaders on the lineage of children resulting from the marriage of pregnant women are that the child born is a legitimate child for both parents if the child is born from a minimum of six months of gestational age after the marriage is carried out. However, if the gestational age is less than six months, the child born later can only be assigned to the mother and if the child is a girl, the father will not be able to become the guardian of the marriage and must be replaced by a guardian judge. The law used in Plosoklaten District is in accordance with the jurisprudence law of the Syafi'i School. In addition, community leaders in Plosoklaten District, Kediri Regency, play an active role in providing guidance to pregnant women marriage actors and also the families concerned to invite repentance and be more careful in addressing the rights of children resulting from pregnant women's marriages.
Item Type: | Thesis (Undergraduate) | ||||||
---|---|---|---|---|---|---|---|
Supervisor: | Toriquddin, Moh | ||||||
Contributors: |
|
||||||
Keywords: | Status Nasab, Anak Hasil Nikah Hamil; Lineage Status, Child of The Pregnant Marriage; النسب، الطفل من زواج الحامل | ||||||
Subjects: | 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180119 Law and Society | ||||||
Departement: | Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah | ||||||
Depositing User: | Mohammad Arif Pamungkas | ||||||
Date Deposited: | 19 Jul 2022 11:06 | ||||||
Last Modified: | 19 Jul 2022 11:06 | ||||||
URI: | http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/39041 |
Downloads
Downloads per month over past year
Actions (login required)
![]() |
View Item |