Identity politics of Malay Rajas in ‘The Malay Annals’ by John Leyden.

Asmarani, Putriyana (2016) Identity politics of Malay Rajas in ‘The Malay Annals’ by John Leyden. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img] Text (Fulltext)
12320072.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB)

Abstract

ENGLISH:

The Malay Annals is a discourse of identity politics narrating the origin of Malay Rajas. This discourse is written under the perspective of British colonizers to build relation with native states, this relation is aimed at projecting the Malay folk’s obedience. The fact that history is never been told as it is, makes The Malay Annals is the kinds of discourse that is projected for some political reasons. History plays in the memory of posterity, it claims itself as the only source of past information. Somehow, this past information is seen as a discourse that is quite debatable in proofing who the Malay Rajas were. This discourse is purposive, therefore, finding the purpose of the discourse is worth pursuing.

This research conducts investigation on The Malay Annals. The problem of this research is how British colonizer constructs the identity politics of the Malay Rajas. Therefore, this research focuses institutions on who wrote The Malay Annals, whose identity is politicized and the last is the way The Malay Annals politicize the identity of Malay Rajas within the story. Under the colonizer perspective, the identity of Malay Rajas is politicized. It was said that they were the descendants of Rome and the first king of the race of human being, Secander Zulkarnaeni and Raja Suran. This politics of identity leads to how history legitimized the authority of legitimizing identity to avoid resistance and projecting identity. The Malay Annals frames history by utilizing collective memory to bring back suffering and fantasy of Malays to legitimize their Rajas. The Malay Annals is a project of colonizer to make people obey from the authorized law and praised their Rajas. The colonizer wanted this because the Malays would be willing to be enslaved to fill the interest of power relation between Malay Rajas and colonizers.

This research uses identity politics proposed by Manuel Castell constituting legitimizing identity, projecting identity and resistance identity. To find the project of identity politics on how The Malay Annals frames history is interpreted by using social memory. These identity politics and social memory work as interpretative value on how history legitimizes the authority of the powerful and relation between the rulers and the folk. To collect and to find the data, the researcher uses critical discourse analysis method associating the levels of micro, mezzo and macro. From this approach, the researcher finds that The Malay Annals is written under the perspective of British colonizer, this perspective claims that the Malays are wild. Second, the researcher finds that in the place of worth remembering British traders were injecting the discourse for the folk the idea that they were the savior of native states. Third, the way The Malay Annals narrates the story is based on invented actors Seacander Zulkarnaeni and Raja Suran. These are answering how identity politics plays within The Malay Annals.

INDONESIA:

The Malay Annals adalah wacana politik identitas yang menarasikan asal-usul Raja-Raja Melayu, wacana ini ditulis dalam perspektif penjajah Inggris untuk membangun hubungan kekusasaan dengan Raja-Raja pribumi, hubungan ini bertujuan untuk memproyeksikan kepatuhan masyarakat pribumi. Fakta bahwa sejarah tidak diceritakan sebagaimana adanya membuat The Malay Annals sebagai wacana yang ditujukan untuk alasan politis. Sejarah menjadi bagian generasi yang akan datang, sejarah menyebut dirinya sebagai pusat informasi masa lalu. Namun, informasi masa lalu ini dilihat sebagai wacana yang bisa diperdebatkan untuk membuktikan siapakah Raja-Raja Melayu dalam The Malay Annals. Wacana ini memiliki tujuan, makadari itu menemukan tujuan tersebut layak untuk ditemukan.

Penelitian ini mengasung The Malay Annals. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penjajah Inggris membangun politik identitas Raja-Raja Melayu. Makadari itu, penelitian ini berfokus pada institusi yang menulis The Malay Annals untuk mengetahui identitas siapakah yang dipolitisi, siapakah yang membangun politik identitas, dan bagaiman identitas itu dibangun. Di bawah perspektif Inggros, The Malay Annals dipolitisi yaitu dengan menyatakan bahwa Raja-Raja Melayu adalah keturunan Romawi, Raja seluruh umat manusia, Secander Zulkarnaeni dan Raja Suran. Politik identitas dalam penelitian ini adalah agenda identitas yang mengesahkan untuk menghindari penolakan pribumi. The Malay Annals membingkai sejarah Melayudengan menggunakan kenangan kolektif untuk mengembalikan penderitaan masa lalu pribumi beserta fantasi untuk melegitimasi kekuasaan Raja. The Malay Annals adalah proyek penjajah untuk membuat masyarakat patuh terhadap hukum dan Raja. Penjajah melakukan ini agar pribumi mau untuk diperbudak demi memuaskan kepentingan kekuasaan.

Penelitian ini menggunakan teori politik identitas yang diusung oleh Manuel Castells yaitu identitas yang mengesahkan, identitas yang memproyeksikan, dan identitas yang melawan. Untuk menemukan politik identitas sebagaimana The Malay Annals merangkai sejarah akan ditafsirkan dengan teori sosial memori. Politik identitas dan memori sosial dalam penelitian ini menjadi teori untuk menginterpretasi The Malay Annals. Untuk mengumpulkan dan menemukan data, peneliti menggunakan metode analisis wacana kritis dengan tiga level; mikro, meso dan makro. Dari metode dan teori yang digunakan, peneliti menemukan bahwa dibawah perspektif Inggris The Malay Annals adalah wacana yang menyatakan bahwa pribumi adalah manusia liar. Kedua, peneliti menemukan bahwa Inggrs membangun wacana untuk menunjukkan bahwa merekalah penyelamat pribumi. Ketiga, narasi The Malay Annals mengungkap dua aktor imajiner; Secander Zulkaraneni dan Raja Suran.ketiga temuan ini menjawab bagaimana politik identitas terdapat pada The Malay Annals.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Rahayu, Mundi
Keywords: Identity politics; Social memory; Reconstructions
Departement: Fakultas Humaniora > Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris
Depositing User: Viki Alvionita Dwiningrum
Date Deposited: 25 Jul 2016 09:22
Last Modified: 25 Jul 2016 09:22
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/3756

Actions (login required)

View Item View Item