Responsive Banner

Tingkat pencapaian perdamaian dalam mediasi di Pengadilan Agama Banyuwangi perspektif Anthony Allot

Noviandari, Zulifah (2021) Tingkat pencapaian perdamaian dalam mediasi di Pengadilan Agama Banyuwangi perspektif Anthony Allot. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
18781014.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB) | Preview

Abstract

ABSTRAK

Tingkat perdamaian di Pengadilan Agama Banyuwangi tergolong rendah. Dari data yang peneliti himpun pada tahun 2010 sampai 2020 selama melakukan proses penelitian tentang mediasi di Pengadilan Agama Banyuwangi ditemukan bahwa dalam satu tahun lebih dari 500 perkara yang masuk. Dominasi perkara yang paling banyak diajukan adalah cerai gugat dan cerai talak. Sebanyak 350 perkara yang masuk untuk cerai gugat dan 300 perkara yang masuk untuk cerai talak. Bahkan, persentase perkara perceraian mencapai di atas 90% sedangkan perkara yang lain sepert waris, wasiat, hibah, nafkah anak, harta bersama, poligami hanya 1%.

Masalah yang dikaji dalam penelitian yaitu bagaimana strategi yang dilakukan mediator dalam menerapkan Perma Nomor 1 tahun 2016 menjadi efektif dan bagaimana efektivitas mediasi pasca Perma Nomor 1 tahun 2016 perspektif Anthony Allot di Pengadilan Agama Banyuwangi Untuk menjawab fokus penelitian tersebut, peneliti menggunakan metode penelitian jenis penelitian lapangan dengan mengambil data primer yakni wawancara dengan mediator serta data sekunder berupa laporan tahunan mediasi di pengadilan Agama Banyuwangi. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif kepada mediator terkait strategi mediator dan jalannya proses mediasi yang dilakukan di Pengadilan Agama Banyuwangi.

Hasil dari penelitian ini adalah: (1) Strategi yang dilakukan mediator dalam menerapkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016, mengupayakan sepenuhnya dan mendorong para pihak untuk rujuk, mengupayakan bagi para pihak pemohon untuk memenuhi kewajiban memberikan nafkah, tidak mengambil keputusan secara sepihak. Menjalin komunikasi yang baik kepada kedua pihak agar tidak memihak kepada salah satu, tidak memaksakan mediasi harus berjalan sesuai PERMA Nomor 1 Tahun 2016.

Menarik kesimpulan sesuai dengan kesepakatan yang tergugat dan penggugat inginkan. (2) Efektivitas mediasi pasca Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 di Pengadilan Agama Banyuwangi berjalan tidak efektif karena tingkat pencapaian perdamaian dengan jumlah perkara yang masuk belum berimbang, bahkan lebih banyak mediasi yang belum berhasil dari pada yang sudah berhasil. Penerapan PERMA Nomor 1 Tahun 2016 di Pengadilan Agama Banyuwangi belum efektif dikarenakan penerapan Perma yang sulit dengan banyaknya perkara yang masuk di pengadilan agama Banyuwangi tidak sesuai dengan keinginan para pihak yang sudah pada tujuan awal ingin bercerai.

مستخلص البحث

مستوى السلام في محكمة بانيووانجي الدينية منخفض. من البيانات التي جمعها الباحثون في الفترة من 2010 إلى 2020 أثناء عملية البحث عن الوساطة في محكمة بانيووانجي الدينية ، تبين أنه تم تقديم أكثر من 500 قضية في عام واحد. غلبة القضايا الأكثر تكرارا هي التقاضي والطلاق. تم تقديم إجمالي 350 حالة للطلاق و 300 حالة للطلاق. في الواقع ، فإن نسبة حالات الطلاق تزيد عن 90٪ بينما الحالات الأخرى مثل الميراث والوصايا والمنح وإعالة الطفل والملكية المشتركة وتعدد الزوجات هي 1٪ فقط.

المشاكل التي تمت دراستها في البحث هي كيف أن الاستراتيجية التي اعتمدها الوسيط في تنفيذ لائحة المحكمة العليا رقم 1 لعام 2016 فعالة وكيف أن فعالية الوساطة بعد لائحة المحكمة العليا رقم 1 لعام 2016 منظور أنتوني ألوت في محكمة بانيووانجي الدينية للإجابة على محور هذا البحث ، يستخدم الباحث الأسلوب. هذا النوع من البحث هو البحث الميداني من خلال أخذ البيانات الأولية ، وهي المقابلات مع الوسطاء والبيانات الثانوية في شكل تقارير الوساطة السنوية في محكمة بانيووانجي الدينية. نهج البحث المستخدم هو نهج نوعي للوسطاء فيما يتعلق باستراتيجية الوسيط ومسار عملية الوساطة المنفذة في محكمة بانيووانجي الدينية.

نتائج هذه الدراسة هي: (1) الإستراتيجية التي يستخدمها الوسيط في تنفيذ لائحة المحكمة العليا رقم 1/2016 ، تسعى بالكامل وتشجع الأطراف على المصالحة ، وتسعى للأطراف المتقدمة للوفاء بالتزام توفير لقمة العيش ، عدم اتخاذ قرارات من جانب واحد. الحفاظ على اتصال جيد مع كلا الطرفين حتى لا ينحاز إلى أحدهما أو الآخر ، ولا يجبر على إجراء الوساطة وفقًا للائحة المحكمة العليا رقم 1/2016. استخلاص استنتاجات وفقًا لاتفاق المدعى عليه والمدعي مطلوب. (2) لم تكن فعالية الوساطة بعد لائحة المحكمة العليا رقم 1 لعام 2016 في محكمة بانيووانجي الدينية فعالة لأن مستوى تحقيق السلام مع عدد القضايا التي تم إدخالها لم يكن متوازنًا ، بل إن المزيد من الوساطات لم تكن ناجحة من تلك التي كانت ناجحة. لم يكن تطبيق لائحة المحكمة العليا رقم 1 لعام 2016 في محكمة بانيووانجي الدينية فعالاً لأن تطبيق بيرما صعب مع عدد القضايا التي دخلت إلى محكمة بانيووانجي الدينية التي لا تتوافق مع رغبات الأطراف الذين في البداية أراد الطلاق.

ABSTRACT

The level of peace in the Banyuwangi Religious Court is low. From the data that researchers collected from 2010 to 2020 during the research process on mediation at the Banyuwangi Religious Court, it was found that in one year more than 500 cases were submitted. The dominance of the most frequently filed cases are litigation and divorce talak. A total of 350 cases were submitted for divorce and 300 cases were submitted for divorce. In fact, the percentage of divorce cases is above 90% while other cases such as inheritance, wills, grants, child support, joint property, polygamy are only 1%.

The problems studied in the research are how is the strategy used by the mediator in implementing the Supreme Court Regulation Number 1 of 2016 to be effective and how is the effectiveness of mediation after the Supreme Court Regulation Number 1 of 2016 from the perspective of Anthony Allot at the Banyuwangi Religious Court to answer the focus of the research, the researcher used a field research type of research method by taking primary data, namely interviews with mediators and secondary data in the form of mediation annual reports at the Banyuwangi Religious Court. The research approach used is a qualitative approach to mediators related to the mediator's strategy and the course of the mediation process carried out at the Banyuwangi Religious Court.

The results of this study are: (1) The strategy undertaken by the mediator in implementing Supreme Court Regulation Number 1 of 2016 by not forcing mediation must be carried out in accordance with Supreme Court Regulation Number 1 of 2016, fully endeavoring and encouraging the parties to reconcile, seeking for the applicant parties to fulfill the obligation to provide a living, not taking unilateral decision. Maintain good communication with both parties so as not to side with one, draw conclusions in accordance with the agreement that the defendant and the plaintiff want. (2) The effectiveness of mediation after the Regulation of the Supreme Court Number 1 of 2016 in the Banyuwangi Religious Court was not effective because the level of attainment of peace with the number of cases entered was not balanced, even more mediations that were not successful than those that were successful.

Item Type: Thesis (Masters)
Supervisor: Zuhriah, Erfaniah and Yasin, R. Cecep Lukman
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDZuhriah, ErfaniahUNSPECIFIED
UNSPECIFIEDYasin, R. Cecep LukmanUNSPECIFIED
Keywords: Tingkat Perdamaian; Pengadilan Agama Banyuwangi; Anthony Allot; Peace Level; Banyuwangi Religious Court; Anthony Allot; مستوى السلام; محكمة بانيووانجي الدينية; أنتوني ألوت
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012828 Islamic Family Issues & Mediation/Arbitration
Departement: Sekolah Pascasarjana > Program Studi Magister al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: zulifah noviandari
Date Deposited: 12 Apr 2022 09:17
Last Modified: 12 Apr 2022 09:17
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/35026

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item