Zahroh, Faiqotus (2021) Studi normatif peraturan pemerintah nomor 54 tahun 2007 perspektif fatwa Majelis Ulama Indonesia nomor u.335/mui/vi/1982 dan hak asasi manusia (kajian pengangkatan al-laqith beda agama). Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
|
Text (Fulltext)
17230048.pdf - Accepted Version Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives. Download (2MB) | Preview |
Abstract
INDONESIA:
Pengangkatan Anak merupakan suatu Perbuatan Hukum (Rechtshandeling) dari beralihnya anak ke lingkungan keluarga baru. Fokus dari penelitian ini mengarah pada Anak Terlantar (Al-Laqith) yang mana memiliki hak atas pemenuhan kebutuhan dasar, pendidikan dan asuhan sehingga dibutuhkan pembinaan. Penelitian ini bertujuan mengkaji tentang Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pengangkatan Anak Terlantar berdasarkan perspektif Fatwa MUI Nomor U.335/MUI/VI/1982. Pengangkatan Anak dianjurkan oleh syariat islam dengan tidak mengubah status nasab (keturunan) dan agama.
Rumusan masalah pada penelitian ini mengkaji bagaimana mekanisme pengangkatan anak (Al-Laqith) beda agama pada Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak dalam perspektif Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor U.335/MUI/VI.1982, serta regulasi terhadap pandangan konsep Hak Asasi Manusia pada isu pengangkatan al-laqith.
Penelitian ini merupakan penelitian Library Research, dengan penggumpulan data yang digunakan adalah Studi Dokumenter dengan menelusuri vaiabel yang serupa seperti jurnal, buku, surat kabar dan sebagainya. Sedangkan Pendekatan Penelitian yang digunakan yakni Statue Aprroach, Conceptul Approach, dan Case Approach.
Berdasarkan Hasil Penelitian, Sesungguhnya, antara Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 dengan Fatwa Majelis Ulama Indonesia tidak bertentangan satu sama lain. Namun Dari poin Fatwa MUI terkait tidak mengubah nasab dan agama tersebut telah jelas bahwa diperbolehkannya mengangkat anak beda agama dengan syarat tidak mengubah agama dan nasab. Jika COTA ingin mengangkat anak maka harus memberikan pengasuhan yang sesuai dengan keyakinan dan pendidikan spiritual sesuai dengan kebutuhan anak. Dengan demikian Pengangkatan Anak Beda Agama dapat dijalankan atas rasa kasih sayang, dan komitmen orang tua untuk senantiasa menunjang kebebasan memeluk dan beribadah bagi anak. Terlebih bagi anak terlantar (al-Laqith) yang membutuhkan dukungan moral, dan meteri, maka pengangkatan anak terlantar yang berbeda agama diperbolehkan dengan berorientasi pada prinsip yang terbaik bagi anak.
ENGLISH:
The adoption of a child is a Legal Act (Rechtshandeling) from the transition of the child to a new family environment. The focus of this research leads to Abandoned Children (Al-Laqith) who have the right to the fulfilment of basic needs, education, care, and guidance This research aims to review government regulation No. 54 of 2007 on the appointment of displaced children based on the perspective of MUI Fatwa Number U.335/MUI/VI/1982. The adoption of children is recommended by Islamic sharia by not changing the status of nasab (descendants) and religion.
The formulation of the problem in this study examines how the mechanism of child adoption (Al-Laqith) differs in religion in Government Regulation No. 54 of 2007 concerning the Implementation of Child Appointments in the perspective of fatwa of the Indonesian Ulema Council (MUI) Number U.335/ MUI / VI.1982, as well as regulation of the view of the concept of Human Rights on the issue of the appointment of Al-Laqith.
This research is a Library Research study, with the data collection technique used is Documentary Studies by tracing similar variables such as journals, books, and newspapers. While the Research Approach used is Statue Approach, Conceptual Approach, and Case Approach.
Based on the Results of research, In fact, the Government Regulation Number 54 of 2007 and the Fatwa of the Indonesian Ulema Council do not contradict each other. However, from the point of the MUI Fatwa regarding not changing lineage and religion, it is clear that it is permissible to adopt children of different religions on condition that they do not change religion and lineage. If COTA wants to adopt a child, it must provide care in accordance with their beliefs and spiritual education according to the needs of the child. Thus, the adoption of children of different religions can be carried out out of love, and the commitment of parents to always support the freedom to embrace and worship for children. Especially for abandoned children (al-Laqith) who need moral and material support, the adoption of abandoned children of different religions is allowed with the principle that is best for the child.
ARABIC:
إن تبني الطفل هو عمل قانوني (Rechtshandeling) لنقل الطفل إلى بيئة أسرية جديدة. يركز هذا البحث على الأطفال المهجورين (اللقيط) الذين لديهم الحق في تحقيق الاحتياجات الأساسية التعليم والرعاية بحيث يختاج إلى التدريب. يهدف هذا البحث إلى فحص قانون الحكومة رقم 54 لعام 2007 حول تبني الأطفال المهجورين عند منظر فتوى مجلس العلماء الإندونيسي رقم U.335/MUI/VI/1982. تشجع الشريعة الإسلامية بتبني الأطفال دون تغيير حالة النسب (ذرية) والدين.
تبحث أسئلة البحث في هذا البحث كيفية تبني الطفل (اللقيط) من ديانة مختلفة في قانون الحكومة رقم 54 لعام 2007 حول تبني الأطفال عند منظر فتوى مجلس العلماء الإندونيسي رقم U.335/MUI/VI/1982. وكذلك التنظيم بوجه نظر مفهوم حقوق الإنسان في موضوع تبني اللقيط.
هذا البحث بحث مكتبي، وأسلوب جمع البيانات المستخدمة دراسة وثائقية من خلال تتبع متغيرات متشابهة مثل المجلات والكتب والصحف وما أشبه ذلك. أما مدخل البحث المستخدم هو Statue Aprroach، Conceptul Approach، و Case Approach.
بناءً على نتائج البحث، بالنظر في وجود شرط التبني أنه يجب أن يكون من نفس الدين، فهذا يتوافق مع القوانين التشريعية الإندونيسية. أما في عملية تبني الأطفال مختلفين، يمكن أدائها إذا كان لديها استئذان من الخدمة الاجتماعية بتقديم المطالبة على فرصة الوكالة لتوفير الإشراف على رعاية الوالدين بالتبني. التالي، فإن تبني اللقيط عند النظر إليه من منظور مفهوم حقوق الإنسان يمكن أن يوفر استجابة إيجابية للآلية المستخدمة، لأن مبدأ حقوق الإنسان وفقًا لرونا ك. م. سميث يعني مبدأ المعادلة، مبدأ عدم التمييز، ومبدأ الالتزام الإيجابي لحماية الحقوق المعينة. في غضون ذلك، واستناداً إلى نتائج اجتماع العمل الوطني لعام 1984، أصدر مجلس العلماء الإندونيسي فتوى بسمح تبني الطفل ما دام لا يكسر النسب ويغير الدين. وضعت هذه القواعد لتجنب قضاية إجبار الأطفال على الدين.
Item Type: | Thesis (Undergraduate) | ||||||
---|---|---|---|---|---|---|---|
Supervisor: | Setyobudi, Teguh | ||||||
Contributors: |
|
||||||
Keywords: | Pengangkatan Anak; Beda Agama; Al-Laqith; Fatwa MUI Child Adoption; Different religions; Al-Laqith; MUI Fatwa التبني؛ ديانة مختلفة؛ اللقيط؛ فتوى مجلس العلما; الإندونيسي | ||||||
Departement: | Fakultas Syariah > Jurusan Hukum Tata Negara | ||||||
Depositing User: | faiqotus zahroh | ||||||
Date Deposited: | 07 Apr 2022 14:24 | ||||||
Last Modified: | 07 Apr 2022 14:24 | ||||||
URI: | http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/34965 |
Downloads
Downloads per month over past year
Actions (login required)
![]() |
View Item |