Responsive Banner

Analisis perkara Wali Adhal karena perkawinan pasangan lanjut usia: Studi putusan nomor 377/Pdt.P/2020/Pa.Kab.Kdr

Sadidan, Amangtu (2022) Analisis perkara Wali Adhal karena perkawinan pasangan lanjut usia: Studi putusan nomor 377/Pdt.P/2020/Pa.Kab.Kdr. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img] Text (Fulltext)
17210028.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (3MB)

Abstract

ABSTRAK

Wali dalam perkawinan merupakan salah satu rukun yang harus dipenuhi agar penikahannya menjadi sah. Namun tak sedikit wali yang bersikap enggan atau menolak untuk menikahkan putrinya, dalam kasus seperti ini sering desebut dengan wali adhal. Perkara nomor 377/Pdt.P/2020/Pa.Kab.Kdr merupakan perkara wali adhal yang diajukan oleh calon istri yang berusia 75 tahun dan bersetatus janda, yang akan menikah dengan calon suami yang berstatus duda berusia 77 tahun. Upaya perkawinan kedua calon mempelai ditolak oleh wali nasab dengan alasan tidak suka dengan calon pemohon dan juga telah usia lanjut.

Adapun fokus penelitian ini yaitu bagaimana pertimbangan hakim Pengadilan Agama Kabupaten Kediri dalam mengabulkan permohonan wali adhal pada perkara nomor 377/Pdt.P/2020/Pa.Kab.Kdr dan bagaimana penetapan perkara wali adhal di Pengadilan Agama Kabupaten Kediri sepanjang periode 2020.

Penelitian ini termasuk kedalam penelitian normatif dengan menggunakan pendekatan kasus (case approach), dalam metode pengumpulan data penulis menggunakan motode dokumentasi. Adapun pengolahan data melalui beberapa tahap yaitu pemeriksaan data, klasifikasi, verivikasi, analisis, dan pembuatan kesimpulan.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hakim mengabulkan permohonan penetapan wali adhal dengan pertimbangan bahwa keadaan wali benar-benar adhal, kemaslahatan, kafaah secara agama, perkawinan yang akan dilangsungkan tidak bertentangan dengan hukum Islam dan hukum negara. Adapun perkawinan yang dilakukan saat telah mencapai lanjut usia tidaklah melanggar hukum Islam maupun hukum negara, maka perkawinannya sah.

ABSTRACT

Guardianship in marriage is one of the pillars that must be fulfilled in order for the marriage to be valid. However, not a few guardians are reluctant or refuse to marry off their daughters, in cases like this it is often called adhal guardian. Verdict number 377/Pdt.P/2020/Pa.Kab.Kdr is a adhal guardian case filed by a prospective wife who is 74 years old and is a widow, who will marry a future husband who is a widower who is 77 years old. Attempts at the marriage of the two prospective brides were rejected by the lineage guardian on the grounds that they did not like the prospective applicant and were also of elderly.

The focus of this research is how the judges of the Religious Courts of Kediri Regency in granting the request of the guardian adhal verdict number 377/Pdt.P/2020/Pa.Kab.Kdr and how is the guardian adhal case determined at the Kediri Regency Religious Court throughout the 2020 period.

This research is included in normative research using a case approach. in the data collection method the author uses the documentation method. The data processing goes through several stages, namely data examination, classification, verification, analysis, and making conclusions.

The results of this study indicate that the judge granted the application for the determination of guardian adhal with the consideration that the condition of the guardian is truly adhal, benefit, religiously kafaah, the marriage to be held does not conflict with Islamic law and state law. As for marriages that are carried out when they reach old age, it does not violate Islamic law or state law, then the marriage is valid.

مستخلص البحث

الولاية في الزواج ركيزة من الركائز التي يجب توافرها لصحة النكاح. ومع ذلك، لي هناك عدد قليل من الأوصياء يترددون أو يرفضون تزويج بناتهم، وفي مثل هذه الحالات يُشا إليهم في كثير من الأحيان باسم ولي العدل. القضية رقم 377 /Pdt.P/2020/Pa.Kab.Kdr هي قضية ولي أمر عادل مقدمة من زوجة محتملة تبلغ من العمر 74 عامًا ولديها وضع أرملة، والتي ستتزوج زوجًا محتملًا أرمل عمره 77 عامًا. محاولات زواج العروسين المحتملتين رفضها ولي النسب على أساس أنهما لم يعجبهما المتقدم المرتقب وأنهما متقدمان في السن.

يركز هذا البحث على كيفية نظر قاضي المحكمة الدينية لوصلة كيديري في الموافقة على طلب ولي العدل في القضية رقم 377 / Pdt.P / 2020 / Pa.Kab.Kdr وإجراءات الفصل في قضية ولي العدل في المحكمة الدينية وكذلك الحالة الاجتماعية إذا كنت مسناً.

تم تضمين هذا البحث في البحث المعياري باستخدام المنهج القانوني (المنهج التمثال) ومنهج الحالة، طريقة جمع البيانات المستخدمة بطريقة التوثيق. تمر معالجة البيانات بعدة مراحل، وهي فحص البيانات والتصنيف والتحقق والتحليل والتوصل إلى الاستنتاجات.

تشير النتائج من هذا البحث أن الحاكم وافق على طلب تحديد عدل الولي مع الأخذ في الاعتبار أن شرط الولي هو حق العدل، والمنفعة، والكفالة الشرعية، والزواج الذي يتعين عقده لا يتعارض مع الشريعة الإسلامية وقانون الدولة. أما الزوجات التي تتم عند تقدمهم في السن فهي لا تتعارض مع الشريعة الإسلامية أو قوانين الدولة، فالزواج صحيح.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Bachri, Syabbul
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDBachri, SyabbulUNSPECIFIED
Keywords: pertimbangan hakim; wali adhal; lanjut usia
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180113 Family Law
18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012801 Pernikahan (Secara Umum)
18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012805 Wali & Saksi
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: amangtu sadidan
Date Deposited: 07 Apr 2022 14:01
Last Modified: 07 Apr 2022 14:01
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/34951

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item