Responsive Banner

Perkawinan transeksual di Indonesia: Kajian perspektif Hukum Islam dan Hak Asasi Manusia

Auliyak, Waro Satul (2021) Perkawinan transeksual di Indonesia: Kajian perspektif Hukum Islam dan Hak Asasi Manusia. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
19780016.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB) | Preview

Abstract

ABSTRAK

Seiring dengan perkembangan masa terdapat beberapa individu yang melakukan operasi pergantian kelamin karena merasa tubuh yang dimilikinya sekarang tidak sesuai dengan kejiwaannya. Individu yang melakukan operasi pergantian kelamin disebut dengan transeksual. Di Indonesia sendiri, setelah melakukan operasi pergantian kelamin maka dapat mengajukan ke Pengadilan Negeri untuk mendapatkan perubahan identitas pada kartu kependudukannya. Ketika secara resmi telah berubah kelamin serta identitasnya, maka yang akan menjadi pertanyaan adalah terkait hak-hak yang akan didapatkannya apakah akan dipersamakan dengan masyarakat umum lainnya. Salah satu hak setiap individu adalah melaksanakan perkawinan, yang mana perkawinan tersebut antara laki-laki dengan perempuan. Namun di Indonesia tidak ada aturan terkait perkawinan yang dilakukan oleh transeksual. Sehingga perlu adanya kajian tentang perkawinan transeksual, yang mana akan tepat jika ditinjau dari perspektif hukum Islam dan teori hak asasi manusia.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perkawinan transeksual di Indonesia dalam perspektif hukum Islam dan teori hak asasi manusia. Penelitian ini termasuk penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan konseptual. Penelitian ini menggunakan bahan hukum yang pengumpulannya menggunakan teknik dokumentasi dengan mengumpulkan berbagai dokumentasi yang berhubungan dengan penelitian ini. Analisis bahan hukum menggunakan teknik deskriptif, teknik komparatif, teknik evaluatif dan teknik argumentatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan transeksual tidak sah dalam perspektif hukum Islam. Hal tersebut karena tidak terpenuhinya rukun dan syarat perkawinan yaitu tidak jelasnya jenis kelamin calon pengantin pria dan wanita. Selain itu, perkawinan transeksual akan menjadi perkawinan sejenis, karena kedudukan hukum pelaku transeksual tetap sama seperti jenis kelamin sebelum melakukan perubahan kelamin. Pada teori hak kodrati diketahui bahwa perkawinan transeksual telah melanggar larangan yang ditetapkan oleh Tuhan. Kemudian diketahui bahwa perkawinan transeksual tidak sah menurut agama, sehingga tidak sah pula menurut negara. Setiap aturan negara harus ditaati karena terikat dengan kontrak sosial. Selain itu pada teori positivisme, ketika aturan tersebut dilanggar maka akan mendapatkan sanksi, yaitu tidak dapat dicatatkan perkawinan tersebut pada instansi pelaksana. Berdasarkan teori relativisme budaya, perkawinan transeksual tidak sesuai dengan kebudayaan nasional yang didasarkan pada Pancasila, karena bertentangan dengan sila pertama.

ABSTRACT

Along with the current development, there are some individuals who do sex reassignment surgery because they think that their gender does not fit their psyche. Individuals who do sex reassignment surgery are called transsexuals. In Indonesia, after carrying out a sex reassignment surgery, you can apply to the District Court to get a change of identity on your residence card. When they have officially changed their gender and identity, it will be questioned that whether they will be the same as the rest of the general public. One of the rights of each individual is to carry out marriage, where the marriage is between a man and a woman. However, in Indonesia there are no regulations regarding marriages carried out by transsexuals. Therefore, a study of transsexual marriage is necessary to conduct, which would be appropriate if it is observed from the perspective of Islamic law and human rights theory.

The purpose of this study is to describe transsexual marriage in Indonesia from the perspective of Islamic law and human rights theory. This research includes normative legal research using a conceptual approach. This study uses legal materials whose collection uses documentation techniques by collecting various documentation related to this research. Analysis of legal materials using descriptive techniques, comparative, evaluative and argumentative techniques.

The results of the study indicate that transsexual marriages are illegitimate in the perspective of Islamic law. This is because the pillars and conditions of marriage are not fulfilled according to the gender of the groom and bride. In addition, transsexual marriages will become same-sex marriages, because the legal position of transsexual people remains the same as their gender before the sex reassignment. In the theory of natural rights, it is known that transsexual marriage has violated the prohibition established by God. Then it is known that transsexual marriage is not legal according to religion, so it is also not legal according to the state. Every state rule must be obeyed because it is bound by a social contract. In addition to the positivism theory, when these rules are violated, they will get the consequence accordingly, that the marriage cannot be registered at the implementing agency. Based on the theory of cultural relativism, transsexual marriage is not in accordance with the national culture based on Pancasila, since it is against the first principle.

مستخلص البحث

بجانب تطور هذه الفترة ، نرى العديد من الأفراد الذين يجرون جراحة تغيير الجنس لأنهم يشعرون أن أجسامهم الحالية لا تتوافق مع حالتهم العقلية. يُطلق على الأفراد الذين يجرون جراحة تغيير الجنس اسم المتحولين جنسياً. وفي إندونيسيا، بعد إجراء عملية تغيير الجنس، يمكن تقديم الطلب إلى المحكمة المحلية لتغيير الهوية في بطاقة الإقامة المجتمعية. عندما يغيرون جنسهم وهويتهم رسميًا، فإن السؤال الذي سيُطرح هو ما إذا كانت الحقوق التي سيحصلون عليها ستكون مماثلة لبقية الجمهور. الزواج من حقوق كل فرد وهو الزواج بين الرجل والمرأة. ومع ذلك، لا توجد في إندونيسيا لوائح بشأن الزيجات التي تقوم بها المتحولين جنسيا. لذلك عندنا حاجة لدراسة الزواج من المتحولين جنسياً، والتي ستكون مناسبة إذا نُظر إليها من المنظور الشريعة الإسلامية ونظرية حقوق الإنسان.

أهداف هذا البحث وصف الزواج المتحولين المنظور من االنظرية الشريعة الإسلامية ونظرية حقوق الإنسان. يتضمن هذا البحث البحث القانوني المعياري باستخدام المنهج المفاهيم. يستخدم هذا البحث الأدوات القانونية ويستخدم توثيق البحث وجمع الوثائق المناسبة بالبحث. ويستخدم تحليل الأدوات القانونية أسلوب الوصفية وأسلوب المقارنة وأسلوب التقييمي وأسلوب الجدلية.

تشير حصول البحث أن الزواج المتحولين جنسيا تكن غير قانونيا من منظور الشريعة الإسلامية. وذلك لأن أركان الزواج وشروطه لم تتحقق أي أن جنس العريس المرتقب والعروس غير واضح. بالإضافة إلى ذلك ستصبح زواجات المتحولين جنسياً زواج من نفس الجنس لأن الوضع القانوني للفاعلين المتحولين جنسياً يظل هو نفسه جنسهم قبل إجراء تغيير الجنس. في نظرية الحقوق الطبيعية، من المعروف أن زواج المتحولين جنسياً قد انتهك النهي الذي وضعه الله. ثم من المعروف أن زواج المتحولين جنسياً غير شرعياً في الدين، ولذلك فهو أيضاً غير قانوني وفقاً للدولة. يجب إطاعة كل حكم دولة لأنها مرتبطة بعقد اجتماعي. بالإضافة إلى نظرية الوضعية عند انتهاك هذه القواعد، سيتم فرض عقوبات عليهم، أي أنه لا يمكن تسجيل الزواج في الوكالة المنفذة. بناءً على نظرية النسبية الثقافي، فإن زواج المتحولين جنسياً لا يتوافق مع الثقافة الوطنية القائمة على المبادئ الخمسة لبلدة إندونيسيا لأنه يتعارض مع المبدأ الأول.

Item Type: Thesis (Masters)
Supervisor: Sumbulah, Umi and Suwandi, Suwandi
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDSumbulah, UmiUNSPECIFIED
UNSPECIFIEDSuwandi, SuwandiUNSPECIFIED
Keywords: perkawinan transeksual; Islam; hak asasi manusia
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180113 Family Law
Departement: Sekolah Pascasarjana > Program Studi Magister al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Waro Satul Auliyak
Date Deposited: 05 Apr 2022 13:56
Last Modified: 05 Apr 2022 13:56
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/34901

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item