Responsive Banner

Peredaran film melalui Telegram tinjauan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tenting Hak Cipta Dan Fatwa DSN MUI Nomor 1 Tahun 2003 tentang Hak Cipta

Wydiatun, Rofika Dewi Putri (2021) Peredaran film melalui Telegram tinjauan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tenting Hak Cipta Dan Fatwa DSN MUI Nomor 1 Tahun 2003 tentang Hak Cipta. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
17220093.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB) | Preview

Abstract

ABSTRAK

Kemudahan dalam bidang teknologi masa kini mendukung manusia untuk menjangkau segala sesuatu dengan mudah. Termasuk dalam memenuhi kebutuhan primer, sekunder bahkan tersier. Mencari hiburan merupakan salah satu kebutuhan tersier yang saat ini dapat dijangkau dengan kemudahan teknologi seperti menonton film. Di mana saat ini banyak cara yang dilakukan untuk menikmati tontonan film secara gratis dan salah satunya dengan melalui aplikasi Telegram. Fenomena ini dianggap hal yang lumrah di masyarakat sehingga tidak sadar bahwasannya ada hak ekonomi dan hak moral yang dilanggar hingga mempengaruhi dunia industri perfilman.

Penelitian ini berusaha fokus terhadap kajian bagaimana praktik penyebaran film melalui Telegram ditinjau berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta serta berdasarkan Fatwa DSN MUI Nomor 1 Tahun 2003 tentang Hak Cipta. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian yuridis empiris atau sosiologis hukum. Adapun untuk perolehan data dilakukan dengan wawancara data primer, studi literature sebagai data sekunder dan sumber penunjang sbagai data tersier.

Mengacu pada hasil penelitian, ditemukan fakta bahwa pencipta dan pemilik hak cipta tidak terpenuhi secara penuh mengenai hak ekonomi dan hak moral. Adapun kemungkinan pelanggaran dalam penggunaan Telegram yakni: 1) Pengumuman karya cipta, 2) Penggandaan karya cipta, 3) Pembajakan karya cipta. Sedangkan, apabila ditinjau pada Pasal 43 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, perbuatan penyebaran film melalui Telegram tidak dianggap secara gamblang sebagai pelanggaran sebab tidak digunakan untuk kepentingan komersial. Namun, perbuatan ini tetaplah dianggap sebuah pelanggaran karena dianggap mengambil karya orang lain meski tidak dikomersialkan dan disisi lain menimbulkan potensi kerugian ekonomi bagi industri perfilman Indonesia. Apabila ditinjau dari Fatwa DSN MUI Nomor 1 Tahun 2003 tentang Hak Cipta terlepas dari dikomersialkan atau tidak, perbuatan penyebaran ini dianggap sebagai sebuah kedzaliman dan keharaman. Hal tersebut dikarenakan perlindungan hak cipta lebih protektif terhadap pemilik hak cipta.

ABSTRACT

Convenience in today's technology supports humans to reach everything easily. Included in meeting primary, secondary, and even tertiary needs. Looking for entertainment is one of the tertiary needs which currently can be reached with the convenience of technology such as watching movies. Where currently there are many ways to enjoy watching movies for free and one of them is through the Telegram application. This phenomenon is considered commonplace in society so that is not realized that there are economic rights and moral rights that have been violated and thus affect the world of the film industry.

This research focuses on the study of how the practice of distributing films via Telegram is reviewed based on Law Number 28 of 2014 concerning Copyright and based on the DSN MUI Fatwa Number 1 of 2003 concerning Copyright. The research method used in this research is juridical empirical or sociological law research. For data collection, it was carried out by interviewing primary data, literature studies as secondary data, and supporting sources as tertiary data.

The result of the research is creators and owners of copyright are not fulfilled economic rights and moral rights. Violations might be possible in the use of Telegrams, there are: 1) Announcement of copyright works, 2) Duplication of copyright works, 3) Piracy of copyright works. Meanwhile, when reviewed in Article 43 of Law Number 28 of 2014 concerning Copyright, the act of distributing movies via Telegram is not considered as a violation because it is not used for commercial purposes. However, this act is still considered an offense because it is considered to have taken someone else's work even though it is not commercialized and on the other hand it creates economic losses for the Indonesian movie industry. When viewed from the MUI DSN Fatwa Number 1 of 2003 concerning Copyright regardless of whether it is commercialized or not, this act of distribution is considered an injustice and haraam. This is because copyright protection is more protective for copyright holders.

مستخلص البحث

الراحة في تكنولوجيا اليوم تدعم البشر للوصول إلى كل شيء بسهولة. مدرج في تلبية الاحتياجات الأولية والثانوية وحتى الثالثة. البحث عن الترفيه هو أحد احتياجات التعليم العالي التي يمكن الوصول إليها حاليا براحة التكنولوجيا مثل مشاهدة الأفلام. حيث يوجد حاليا العديد من الطرق للاستمتاع بمشاهدة الأفلام مجانا وأحدها عن طريق تطبيق تيليجرام.

تعتبر هذه الظاهرة شائعة في المجتمع بحيث لا يدرك أن هناك حقوقا اقتصادية وحقوقا معنوية تم انتهاكها ، مما يؤثر على عالم صناعة الأفلام يركز هذا البحث على دراسة كيفية مراجعة ممارسة توزيع الأفلام عبر تيليجرام استنادا إلى القانون رقم ٢٨ لعام ٢٠١٤ بشأن حق المؤلف وعلى أساس فتوى DSN MUI رقم ١ لعام ٢٠٠٣ بشأن حق المؤلف. طريقة البحث المستخدمة في هذا البحث هي بحث قانوني تجريبي أو في القانون الاجتماعي. أما بالنسبة لجمع البيانات ، فقد تم إجراؤه من خلال إجراء مقابلات مع البيانات الأولية ، ودراسات الأدبيات كبيانات ثانوية والمصادر الداعمة كبيانات من الدرجة الثالثة.

بالإشارة إلى نتائج البحث ، تبين أن المبدعين وأصحاب حقوق التأليف والنشر لم يتم الوفاء بهم بالكامل فيما يتعلق بالحقوق المالية والحقوق المعنوية. فيما يتعلق بالانتهاكات المحتملة في استخدام تيليجرام وهي: ١) الإعلان عن أعمال حقوق التأليف والنشر,٢) عملية الضرب المصنفات المحمية بحقوق المؤلف,٣) قرصنة المصنفات المحمية بحقوق التأليف والنشر.وفي الوقت نفسه ، عند المراجعة في المادة ٤٣ من القانون رقم ٢٨ لعام ٢٠١٤ بشأن حقوق الطبع والنشر ، لا يعتبر فعل توزيع الأفلام عبر تيليجرام انتهاكا واضحا لأنه لا يستخدم لأغراض تجارية.

ومع ذلك ، لا يزال هذا الفعل يعتبر جريمة لأنه يعتبر قد أخذ عمل شخص آخر على الرغم من أنه لم يتم تسويقه ومن ناحية أخرى يؤدي إلى خسائر اقتصادية محتملة لصناعة الأفلام الإندونيسيا. عند الاطلاع عليها من فتوى MUI DSN رقم ١ لعام ٢٠٠٣ بشأن حق المؤلف بغض النظر عما إذا كان يتم تسويقها أم لا ، يعتبر فعل النشر هذا ظلمًا وحظرًا. وذلك لأن حماية حقوق التأليف والنشر هي أكثر حماية لأصحاب حقوق التأليف والنشر.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Nasyi'ah, Iffaty
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDNasyi'ah, IffatyUNSPECIFIED
Keywords: Film; Telegram; Hak Cipta; Movie; Telegram; Copyright; فيلم; تيليجرام; حق المؤلف
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan Hukum Bisnis Syariah
Depositing User: Fadlli Syahmi
Date Deposited: 22 Mar 2022 13:33
Last Modified: 22 Mar 2022 13:33
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/34676

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item