Farhan, Izzal Toriqul (2021) Ashabiyah Ibnu Khaldun dan relevansinya terhadap pasal 221 Undang-Undang nomor 7 tahun 2017 tentang pemilihan umum. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
![]() |
Text (Fulltext)
15230089.pdf - Accepted Version Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives. Download (1MB) |
Abstract
ستخلص البحث:
بحسب ابن خلدون ، العشبية هي جمعية أو قوة مجموعات أو تضامن اجتماعي ينشأ بسبب روابط الدم. وأوضح ابن خلدون أيضًا في مقدمه أنه كان هدف الشابية أيضًا الوصول إلى السلطة. لدى الدولة الإندونيسية أيضًا العديد من الأحزاب السياسية ، والتي تهدف الأحزاب السياسية إلى الاستيلاء عليها والحفاظ على السلطة. أصبح البيان مادة للباحثين لدراسة صلة مفهوم ابن خلدون بالشبابية مع دور الأحزاب السياسية في انتخاب الرئيس ونائب الرئيس في إندونيسيا.
تتكون صياغة المشكلة في هذه الدراسة من نقطتين ، وهما كيفية مفهوم عصبية ابن خلدون مع الأحزاب السياسية في إندونيسيا وكيف ترتبط عصبية بنظام انتخاب الرئيس ونائب الرئيس في إندونيسيا. هذا النوع من البحث هو نوع البحث القانوني المعياري أو البحث في المكتبات ، إلى جانب أن منهج البحث هذا يستخدم نهجًا قانونيًا ونهجًا مفاهيميًا. تتكون مصادر المواد القانونية في هذه الدراسة من مصادر القانون الأولية والثانوية والثالثية. تتكون المواد القانونية الأولية من دستور عام 1945 وقانون الانتخابات وقانون الأحزاب السياسية. تتكون المواد القانونية الثانوية من كتب ومجلات وأعمال علمية أخرى ذات صلة.
النتائج التي تم الحصول عليها هي أن العصبية والأحزاب السياسية متشابهة من الناحية المفاهيمية ، حيث العصبية والأحزاب السياسية هم مجموعة من الأشخاص الذين يهدفون إلى الوصول إلى السلطة. أهمية دور الدين في العصبية والأحزاب السياسية في إعلاء شريعة الله في الأرض بهدف إرشاد الناس إلى السعادة في الدنيا والآخرة. ثانيًا ، فيما يتعلق بأهمية نظام انتخابات رئيس الدولة ، تتمتع العصبية والأحزاب السياسية بالمثل من حيث الدعم المقدم لرئيس الدولة ، حيث يجب أن يأتي رئيس الدولة من مجموعة العصابية ، بينما في إندونيسيا ، يكون المرشحون لمنصب الرئيس ونائب الرئيس تقترحهما الأحزاب السياسية أو ائتلافات الأحزاب السياسية. الأمر مختلف في حالة انتخاب الرئيس ونائب الرئيس في إندونيسيا اللتين يتم انتخابهما مباشرة من قبل الشعب ، بينما في مفهوم العصبية ، يتم انتخاب رئيس الدولة من مجموعة العصبية التي هي الأكثر هيمنة وتلعب دورًا. ، لذلك في هذه الحالة لا علاقة له بالظروف في إندونيسيا.
ABSTRACT:
According to Ibn Khaldun, ashabiyah is an association or strength of groups or social solidarity, which arises due to blood ties. Ibn Khaldun also explained in his Mukaddimah that ashabiyah also had the aim of achieving power. The Indonesian state also has several political parties, which political parties have the aim of seizing and maintaining power. The statement became material for researchers to study the relevance of Ibnu Khaldun's concept of ashabiyah with the role of political parties in the election of President and Vice President in Indonesia.
There are two points in the formulation of the problem in this study, namely how the concept of asabiyah Ibnu Khaldun with political parties in Indonesia and how is the relevance of Asabiyah to the election system for President and Vice President in Indonesia. This type of research is the type of normative legal research or library research, besides this research approach uses a statutory approach and a conceptual approach. The sources of primary legal materials consist of the 1945 Constitution, the Law on Elections, and the Law on Political Parties. The secondary legal materials consist of books, journals and other relevant scientific works.
The results obtained are that asabiyah and political parties are conceptually similar, where asabiyah and political parties are a group of people who have the goal of gaining power. The importance of the role of religion in asabiyah and political parties in upholding Allah's laws on earth, with the aim of guiding people in gaining happiness in this world and in the hereafter. Second, related to the relevance of the head of state election system that asabiyah and political parties have the same in terms of support given to the head of state, where the head of state must come from the asabiyah group, while in Indonesia, the candidates for President and Vice President are proposed by political parties or coalitions of political parties. . It is different in the case of the election of President and Vice President in Indonesia which are directly elected by the people, whereas in the concept of asabiyah, the head of state is elected from the asabiyah group which is the most dominant and plays a role, so in this case it is irrelevant to the existing conditions in the country of Indonesia.
ABSTRAK:
Menurut Ibnu Khaldun, ashabiyah merupakan sebuah perkumpulan atau kekuatan kelompok atau solidaritas sosial, yang timbul akibat pertalian darah. Ibnu Khaldun juga menjelaskan di dalam kitab Mukaddimahnya bahwa ashabiyah mempunyai tujuan untuk meraih kekuasaan. Negara Indonesia juga memiliki beberapa partai politik, yangmana partai politik tersebut mempunyai tujuan untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan. Pernyataan tersebut menjadi bahan bagi peneliti untuk mengkaji tentang relevansi antara konsep ashabiyah Ibnu Khaldun dengan peran partai politik dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang ada di Indonesia.
Rumusan masalah dalam penelitian ini terdapat dua point, yakni bagaimana konsep ashabiyah Ibnu Khaldun dengan partai politik yang ada di Indonesia dan bagaimana relevansi ashabiyah terhadap sistem pemilihan Presiden dan Wakil Presiden di Indonesia. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian hukum Normatif atau penelitian kepustakaan, selain itu pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Sumber bahan hukum primer terdiri dari UUD 1945, UU tentang Pemilu, dan UU tentang Partai Politik. Bahan hukum sekundernya terdiri dari buku, jurnal, dan hasil karya ilmiah lainnya yang relevan.
Hasil penelitian yang diperoleh yaitu bahwa ashabiyah dan partai politik secara konseptual memiliki kesamaan, dimana ashabiyah dan partai politik merupakan sekelompok masyarakat yang mempunyai tujuan untuk meraih kekuasaan. Pentingnya peran agama di dalam ashabiyah dan partai politik dalam menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi, dengan tujuan untuk membimbing masyarakat dalam memperoleh kebahagian di dunia maupun di akhirat. Kedua, terkait relevansi terhadap sistem pemilihan kepala negara bahwa ashabiyah dan partai politik memiliki kesamaan dalam hal dukungan yang diberikan kepada kepala negara, dimana kepala negara harus berasal dari kelompok ashabiyah sedangkan di Indonesia bahwa calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Berbeda halnya dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden di Indonesia yang dipilih lansung oleh rakyat, sedangkan di dalam konsep ashabiyah bahwa kepala negara terpilih dari golongan ashabiyah yang paling dominan dan berperan, sehingga dalam hal ini tidak relevan dengan kondisi yang ada di negara Indonesia.
Item Type: | Thesis (Undergraduate) | ||||||
---|---|---|---|---|---|---|---|
Supervisor: | Hakim, M. Aunul | ||||||
Contributors: |
|
||||||
Keywords: | Ashabiyah; Ibnu Khaldun; Sistem Pemilu; Ashabiyah; Ibn Khaldun; Election System; الشابية ;ابن خلدون ; النظام الانتخابي | ||||||
Departement: | Fakultas Syariah > Jurusan Hukum Tata Negara | ||||||
Depositing User: | Purdiono Purdiono | ||||||
Date Deposited: | 07 Dec 2021 11:29 | ||||||
Last Modified: | 11 May 2023 09:53 | ||||||
URI: | http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/32155 |
Downloads
Downloads per month over past year
Actions (login required)
![]() |
View Item |