Identifikasi senyawa aktif metabolit sekunder jamur endofit dari temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) yang berpotensi sebagai senyawa antibakteri

Fuadati, Choirul (2015) Identifikasi senyawa aktif metabolit sekunder jamur endofit dari temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) yang berpotensi sebagai senyawa antibakteri. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
11620021.pdf - Accepted Version

Download (4MB) | Preview

Abstract

INDONESIA:

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan salah satu tanaman obat asli Indonesia yang dijadikan sebagai bahan antibakteri. Dalam temulawak terdapat mikroba endofit yang dapat menghasilkan metabolit sekunder dengan kandungan senyawa bioaktif yang mirip atau hampir sama dengan induknya, terutama pada jenis jamur endofit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa aktif yang terkandung dalam metabolit sekunder jamur endofit temulawak yang berpotensi sebagai senyawa antibakteri.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu eksploratif deskriptif kualitatif. Sebanyak 2 isolat jamur endofit terpilih telah diisolasi dari rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dengan kemampuan aktivitas antibakteri yang paling tinggi berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, yaitu isolat TRB1 (rimpang dari Batu) dan TRP1 (rimpang dari Purwodadi) dan diidentifikasi senyawa aktif dengan uji fitokimia dilanjutkan dengan pemisahan senyawa aktif dengan KLT (Kromatografi Lapis Tipis) dan uji bioautografi kontak untuk mengetahui kemampuan aktivitas senyawa yang telah terpisah melalui KLT dalam menghambat pertumbuhan bakteri uji.

Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa metabolit sekunder jamur endofit dari jenis isolat TRB1 dan TRP1 menunjukkan hasil positif pada uji senyawa saponin. Pemisahan senyawa dengan KLT (Kromatografi Lapis Tipis), ekstrak isolat TRB1 dan TRP1 dalam etil asetat dielusi dengan eluen kloroform:benzena:etanol 98% (45:45:10) pada visualisasi UV 365 nm menghasilkan 4 bercak pada isolat TRB1 dan 5 bercak pada isolat TRP1 dan diindikasikan mengandung senyawa kurkuminoid (Kurkumin, desmetoksikurkumin, bisdesmetoksikurkumin). Sedangkan untuk eluen N-heksan:etil asetat (10:1) pada visualisasi UV 254 nm terdeteksi sebagai senyawa xanthorizol dengan nilai Rf 0,56 untuk bercak pada Isolat TRB1 dan Rf 0,55 pada bercak isolat TRP1. Bioautografi dari hasil KLT menunjukkan penghambatan dengan zona iradikal pada isolat TRP1 dengan eluen kloroform: benzena: etanol 98% (45:45:10) pada bercak dengan nilai Rf 0,37 yang diduga senyawa desmetoksikurkumin dan juga penghambatan dengan zona iradikal pada isolat TRP1 dengan eluen N-heksan: etil asetat (10:1) pada bercak dengan nilai Rf 0,55 yang diduga senyawa xanthorizol. Sehingga kandungan kurkuminoid dan xanthorizol yang terdeteksi dalam metabolit sekunder jamur endofit temulawak juga berpotensi sebagai senyawa antibakteri, yang sama seperti tanaman inangnya, yaitu temulawak.

ENGLISH:

Phytochemical test, TLC, Bioautography
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) is one of the medicinal native plants of Indonesia which is used as an antibacterial material. Temulawak inside are present endophytic microbes that can produce secondary metabolites with bioactive compounds that are similar or almost same as its parent, mainly on the type of endophytic fungi. The aims of this study are to determine the active compound contained in the secondary metabolites of endophytic fungus of Temulawak as a potential antibacterial compounds.

The method used in this research is descriptive exploratory qualitative. A total of 2 isolates of endophytic fungi selected has been isolated from the rhizome of Temulawak with the highest ability of the antibacterial activity based on the results of previous studies, which isolates TRB1 (rhizome from Batu) and TRP1 (rhizome from Purwodadi) and identified the active compound with the phytochemical test and followed by separation of the active compound with TLC (Thin Layer Chromatography) and contact bioautography test to determine the ability of the activity of compounds that have been separated by TLC in inhibiting the growth of bacteria test.

The result of phytochemical test showed that the secondary metabolites of endophytic fungi from isolates of TRP1 and TRB1 showed positive results in the test compound of saponin. Continued separation of compounds by TLC (Thin Layer Chromatography), extracts of isolates TRB1 and TRP1 in ethyl acetate eluted with chloroform eluent: benzene: ethanol 98% (45:45:10) at visualization of UV 365 nm showed 4 spots on isolates TRB1 and 5 spots on the TRP1 isolate and contain compounds indicated kurkuminoid (Curcumin, desmetoksikurkumin, bisdesmetoksikurkumin). As for the eluent n-hexane: ethyl acetate (10:1) at visualization of UV 254 nm detected as xanthorizol compound with Rf value of 0.56 for spot of Isolates TRB1 and Rf 0.55 on spot of isolates TRP1. Bioautography of TLC results showed inhibition of iradikal zone in isolates TRP1 with eluent chloroform: benzene: ethanol 98% (45:45:10) on the spot with Rf value of 0.37, which estimated of desmetoksikurkumin compounds and inhibition of iradikal zone in isolates TRP1 with eluent n-hexane: ethyl acetate (10: 1) on the spot with Rf value of 0.55 which estimated of xanthorizol compound. Kurkuminoid and xanthorizol compounds are specific compounds of Temulawak that is also detected in its endophytic fungus, so the content of kurkuminoid and xanthorizol in endophytic fungi from Curcuma xanthorrhiza Roxb. as a potential antibacterial compounds.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Utami, Ulfah and Fahruddin, M. Mukhlis
Keywords: Temulawak; Jamur Endofit Temulawak; Isolat TRB1 dan TRP1; Uji Fitokimia; KLT; Bioautografi; Endophytic Fungi of Curcuma; Isolates of TRB1 and TRP1; Phytochemical Test; TLC; Bioautography
Departement: Fakultas Sains dan Teknologi > Jurusan Biologi
Depositing User: Dian Anesti
Date Deposited: 27 Jun 2016 04:42
Last Modified: 27 Jun 2016 04:42
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/3154

Actions (login required)

View Item View Item