Responsive Banner

Hak istri menolak rujuk suami studi komparasi Fiqih Madzhab Syafi'i dan Kompilasi Hukum Islam menurut teori Maqashid Syari'ah nikah Hasan As-Sayid Hamid Khitab

Aziz, Abdul (2021) Hak istri menolak rujuk suami studi komparasi Fiqih Madzhab Syafi'i dan Kompilasi Hukum Islam menurut teori Maqashid Syari'ah nikah Hasan As-Sayid Hamid Khitab. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img] Text (Fulltext)
16210051 ABDUL AZIZ SKRIPSI.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB)

Abstract

INDONESIA:

Menurut Imam Syafi’i rujuk adalah hak suami atas isterinya dan ia tidak boleh menolak suami untuk merujuknya. Hal ini membuktikan bahwa menurut penafsiran beliau bahwa istri tidak mempunyai hak untuk menolak maupun diberi hak untuk menyampaikan pendapatnya ketika sang suami menghendaki rujuk kepada mantan istrinya. Sedangkan di dalam Kompilasi Hukum Islam terdapat penjelasan yang sangat signifikan dan berbeda dengan fiqih Madzhab Syafi’i yaitu rujuk yang dilakukan tanpa persetujuan bekas isteri, dapat dinyatakan tidak sah dengan putusan Pengadilan. Atas perbedaan pendapat tesebut dengan demikian pendekatan melalui perspektif maqashid syari’ah sangat diperlukan dalam melihat sisi pertimbangan Madzhab Syafi’i dan KHI.

Penelitian ini mencakup dua rumusan masalah, yakni: argumentasi Madzhab Imam Syafi’i dan KHI mengenai ketentuan hak istri menolak rujuk dalam masa iddah dan analisis perbandingan antara ketentuan Madzhab Syafi’i dan KHI tentang hak istri menolak rujuk perspektif maqashid syari’ah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif dengan menggunakan pendekatan komparatif. Cara yang dilakukan peneliti untuk memperoleh data mengumpulkan bahan kepustakaan yang relevan dengan tema penelitian yakni hak istri menolak rujuk dalam hukum Islam dan hukum positif. Setelah bahan hukum tersebut terkumpul, peneliti mulai memilah dan menentukan bahan hukum mana saja yang digunakan. Sedangkan dala proses pengolahanya menggunakan teknik edit, klasifikasi, verifikasi, analisis data dan diakhiri dengan kesimpulan.

Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa argumentasi hak mutlak suami terhadap rujuk yang mengakibatkan istri tidak mempunyai hak untuk menolaknya yaitu rujuk dilandasi dengan tujuan ishlah dan tidak boleh menimbulkan mudharat bagi pihak istri. Sedangkan argumentasi KHI mengenai adanya hak istri menolak rujuk berdasarkan kitab Al-Muhalla yang menyatakan keharusan suami mengucapkan kehendak rujuk secara lisan kepada istri. Bila ditinjau dari maqashid nikah adanya pelaksanaan persetujuan dari istri diharapkan akan menimbulkan perasaan seorang istri untuk dihargai dalam menyampaikan pendapatnya. Sehingga apabila rujuk telah berhasil, kedepanya dapat terwujudnya ketentraman, kebahagiaan, dan kasih sayang dalam pernikahan yang lebih baik lagi dari sebelumnya karena perlakuan dihargainya seorang istri dalam menyampaikan pendapatnya.

ENGLISH:

According to Syafi'i reconciliation is the right of the husband over his wife and he must not refuse the husband to refer to it. This proves that according to his interpretation that the wife does not have the right to reject or be given the right to express her opinion when the husband wants to refer to his ex-wife. Meanwhile, in the Islamic Law Compilation there is a very significant and different explanation from the Syafi'i fiqh of the School of Shafi'i, namely that the reconciliation which is made without the consent of the ex-wife, can be declared invalid by a court decision. Regarding these differences of opinion, an approach through the perspective of maqashid syari'ah is needed in seeing the aspects of the Syafi'i and KHI schools of thought.

This research includes two problem formulations, namely: the arguments of the Imam Syafi'i and KHI Schools regarding the provisions of the right of the wife to refuse to reconcile during the iddah period and a comparative analysis between the provisions of the Syafi'i and KHI Schools regarding the right of the wife to refuse to refer to the maqashid syari'ah perspective. This study uses a normative research method using a comparative approach. The method used by researchers to obtain data is to collect literature material relevant to the research theme, namely the right of the wife to refuse to reconcile in Islamic law and positive law. After the legal materials are collected, the researcher begins to sort and determine which legal materials are used. Whereas in the processing process using editing, classification, verification, data analysis techniques and ending with a conclusion.

From the results of this study, it is known that the argumentation of the husband's absolute right to reconciliation which results in the wife not having the right to reject it, namely that the referral is based on ishlah and should not cause harm to the wife. Meanwhile, the KHI argument regarding the existence of a wife's right to refuse reconciliation is based on the book Al-Muhalla which states the husband's obligation to pronounce his will to reconcile orally to his wife. When viewed from the maqashid of marriage, the implementation of the wife's consent is expected to cause a wife's feelings to be respected in expressing her opinion. So that if the reconciliation has been successful, in the future there can be peace, happiness, and love in marriage that are even better than before because of the respect a wife is treated to in expressing her opinion.

ARABIC:

والصلح عند الإمام السافعي حق للزوج على زوجته ، ولا يجوز له أن يمتنع الزوج عن الرجوع إليها. وهذا يثبت أنه حسب تفسيره أن الزوجة ليس لها الحق في الرفض أو أن يُمنح حق التعبير عن رأيها عندما يريد الزوج الرجوع إلى زوجته السابقة. وفي الوقت نفسه ، ي ، هناك حاجة إلى نهج من خلال منظور الطريقة المقشدية في رؤية جوانب مدارس الفكر السيافي والخي.

يشتمل هذا البحث على صيغتين إشكاليتين ، وهما: حجج مدرستي الإمام السافعي والمعهد الوطني الإسلامي فيما يتعلق بأحكام حق الزوجة في رفض المصالحة خلال فترة العدة ، وتحليل مقارن بين أحكام المذهب الشافعي والأحكام. مدارس تجميع الشريعة الإسلامية فيما يتعلق بحق الزوجة في رفض الرجوع إلى منظور المقاصد السريعي. يبدأ الباحث في فرز وتحديد المواد القانونية المستخدمة. بينما في عملية المعالجة باستخدام تقنيات التحرير والتصنيف والتحقق وتحليل البيانات وتنتهي بخاتمة.

ومن نتائج هذه الدراسة يتبين أن الجدل في حق الزوج المطلق في الصلح يترتب عليه عدم حق الزوجة في رفضه ، أي أن الإحالة مبنية على أساس الاستحقاق ولا تضر بالزوجة. وفي الوقت نفسه ، فإن حجة بشأن وجود حق الزوجة في رفض الصلح تستند إلى كتاب المحلة الذي ينص على التزام الزوج بإبداء إرادته في المصالحة شفهياً مع زوجته. عند النظر من مقاصد الزواج ، فقد يكون هناك سلام وسعادة ومحبة في الزواج في المستقبل أفضل من ذي قبل بسبب الاحترام الذي تحظى به الزوجة في التعبير عن رأيها.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Kadarisman, Ali
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDKadarisman, AliUNSPECIFIED
Keywords: hak istri menolak rujuk; fiqih Madzhab Syafi’i; Kompilasi Hukum Islam; Maqashid Syari’ah
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012809 Ruju’ (Reconcilitation)
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Abdul Aziz
Date Deposited: 01 Nov 2021 10:04
Last Modified: 01 Nov 2021 10:04
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/31486

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item