Akad musyarakah antara pemilik kapal dan nelayan: Studi di Desa Sumberanyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo

Ahadian, Achmad Shofi (2013) Akad musyarakah antara pemilik kapal dan nelayan: Studi di Desa Sumberanyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Undergraduate thesis, Universitas Islan Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Introduction)
08220064 Pendahuluan.pdf

Download (739kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Abstract: Indonesia)
08220064 Indonesia.pdf

Download (220kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Abstract: English)
08220064 Inggris.pdf

Download (11kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 1)
08220064 Bab 1.pdf

Download (405kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 2)
08220064 Bab 2.pdf

Download (656kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 3)
08220064 Bab 3.pdf

Download (251kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 4)
08220064 Bab 4.pdf

Download (701kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 5)
08220064 Bab 5.pdf

Download (235kB) | Preview
[img]
Preview
Text (References)
08220064 Daftar Pustaka.pdf

Download (117kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Appendices)
08220064 Lampiran.pdf

Download (779kB) | Preview

Abstract

INDONESIA:

Masyarakat nelayan di Desa Sumberanyar ini pada umumnya minim pengetahuan dalam bermuamalah dan financial, mereka tentunya sangat membutuhkan peralatan dan modal untuk berlayar, dalam hal ini mereka membutuhkan suntikan modal dari pihak lain. Sebagian nelayan Sumberanyar yang memiliki tingkat ekonomi diatas rata-rata turut bekerjasama dengan para nelayan lainnya untuk mendapatkan ikan, salah satu nelayannya yang biasa disebut juragan kapal berkonstribusi atas perahu serta peralatan yang dibutuhkan dan yang nelayan lainnya atau yang biasa disebut dengan anak buah kapal berkonstribusi atas badan atau pekerjaan, dalam fikih klasik kerjasama ini disebut sebagai musyarakah. Nelayan di Sumberanyar tidak menentu dalam pendapatan penangkapan ikan di laut karena tergantung musimnya. Kalau musim ikan tiba maka hasil pendapatan yang diterima akan banyak, dan sebaliknya kalau musim paceklik tiba maka hasil yang didapat sangat sedikit sekali ataupun bisa tidak sama sekali. Hal ini dapat mempengaruhi dalam pembagian hasil maupun kerugiannya.

Dalam penelitian ini, terdapat rumusan masalah yaitu: 1) Bagaimana akad musyarakah antara pemilik kapal dan nelayan di Desa Sumberanyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo? 2) Bagaimana tinjauan fiqh mu’amalah terhadap pelaksanaan bagi hasil di antara pemilik kapal dan nelayan di Desa Sumberanyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo?. Penelitian ini tergolong ke dalam jenis penelitian empiris. Penelitian ini disebut penelitian lapangan. Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan kualitatif dan menggunakan literatur sebagai acuan dalam pembahasan serta melakukan kunjungan langsung pada obyek yang diteliti, yakni masyarakat nelayan di Desa Sumberanyar. Adapun sumber data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data primer, data sekunder dan tersier. Dari kedua data ini penulis berusaha mengumpulkan data-data yang dibutuhkan dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang diperoleh menggunakan analisis secara kualitatif dan kemudian dilakukan pembahasan. Berdasarkan hasil pembahasan kemudian diambil kesimpulan sebagai jawaban terhadap permasalahan yang diteliti.

Dari penelitian yang penulis lakukan ditemukan hal-hal sebagai berikut Pertama:
Akad Musyarakah atau sistem kerja antara pemilik kapal dan buruh nelayan cenderung bersifat kapitalis yang banyak memihak pada kelompok borjuis atau para juragan dan kurang menguntungkan pada kelompok proletar atau nelayan buruh. Kedua: Sistem bagi hasil antara pemilik kapal dan buruh nelayan tidak memenuhi asas-asas Syariat Islam. Sistem pembagian hasil tidak memenuhi rasa keadilan, pemilik kapal cenderung mengeksploitasi dan menguasai para nelayan. Kecenderungan untuk menguasai ini menjadi semakin kuat karena ketidak berdayaan kaum buruh yang disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya taraf ekonomi dan pinjaman yang bersifat mengikat, tingkat pengetahuan hukum (hukum Islam dan hukum positif) yang rendah sehingga kehilangan power terutama dalam memperoleh pembagian hak-haknya sebagai buruh.

ENGLISH:

Fishermen community in the village of Sumberanyar hasinadequate education on interaction and financial matters. They certainly need equipments and some money to set sail. Therefore, they need capitalloan from other party. Eventhough having above average economy level, some of the fishermen cooperate with other fishermenin fishing. The fishermen who own boat is called as boat owner. They give their contribution by lending their boatand the needed equipment. Other fishermen give their contribution by using their physics or working. In classic fiqh the cooperation is called musharakah. The fishermen of Sumberanyar have uncertain capture depends on the season. When the fishing season comes, the fishermen will get plenty of fish and large amount of share. On the other hand, when famine comes, the fishermen hardly get any fish. The condition may affect the share and cause a financial loss.

The research has some problem questions: 1) How the musharakahagreement between the boat owner and fishermen in the village ofSumberanyar, Paiton, Probolinggo? 2) How is the review of fiqh muamalah on the implementation of profit sharing between the boat owner and fishermen in the villageSumberanyar, Paiton, Probolinggo? This study is an empirical research and it requires field research. It employs a qualitative approach and uses literatures study as its reference in the discussion. The study requires a direct observation on the object, that is the fishing community in the village of Sumberanyar. The research uses primary, secondary, and tertiary data. From these data, the researcher collects the required data by conducting interview, observation and documentation. Then the obtained data is analyzed using a qualitative analysis for the discussion. The results of the discussion will enable the researcher to draw a conclusion to respond the problems.

The findings of the research areFirst, musharakah or working system agreement between the boat owner and the workers tend to be capitalistic and take sides of rich people. The workers will be the party which suffer from loss. Second, profit sharing system between the boat owner and the workers has not met the principles of the Islamic law. The system is against the justice. The boat owner tend totake advantages anddominate the fishermen. The tendency becomes stronger due to helpless state of the workers caused by the lack of education, the low economic level, the binding loan, the lack of legal knowledge (the Islamic and positive law). The condition leads to the power loss, especially in acquiring their rights as workers.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Yasin, Noer
Keywords: Musyarakah; Pemilik Kapal; Nelayan; Musyarakah; Boat Owner; Fishermen
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180127 Mu'amalah (Islamic Commercial & Contract Law) > 18012712 al-Syirkah (incl. al-Mudharabah, al-Musahamah)
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan Hukum Bisnis Syariah
Depositing User: Annas Al-haq
Date Deposited: 09 Jul 2015 03:13
Last Modified: 10 Jul 2015 02:03
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/311

Actions (login required)

View Item View Item